Puisi: Surat pada Seorang Ibu (Karya Wing Kardjo)

Puisi "Surat pada Seorang Ibu" menggambarkan hubungan yang intim antara seorang anak dan ibunya, mengekspresikan cinta, pemisahan, dan harapan.
Surat pada Seorang Ibu

    Ibu, tak pernah kulupakan sinar
wajahmu: matahari waktu pagi
kala kaubuka jendela, benar
aku bangun, sadar
lalu bangkit, memandang keluar
daun-daun hijau, segar
selalu pepohonan, kokoh berdiri
dengan akar
terhunjam dalam, di bumi kita.

    Jika cintaku padamu
umpama dia, mengapa mengembara
sengsara di negri orang
asing:
bagai pohon, musim gugur
menjatuhkan daun-daunanku
terbang-terbang semangat beku
dahan-dahan pikiran lesu
urat syaraf gemetar
karena lapar
dan angin
lepas
menghempas-hempas
menghamburkan salju
putih menutupi kota
kala musim dingin
tiba.

    Ah! yakinlah ibu
cintaku padamu kekal
seperti kaukenal
bagai kapal
walau berlayar tanpa haluan
bertahun-tahun
kembali juga ke daratan
: pangkuan kedamaian.

    Sebagai ibu seorang penyair
maka besarkan hatimu:
sebab dimanapun hadir
benih yang jatuh
di tanah, subur sebab air mata
tumbuh
menghisap hawa kebebasan
lahir karena sabar dan derita
matang dalam buah pengertian.


            dengan hidmat:
                    Kardjo

Sumber: Horison (April, 1968)

Analisis Puisi:

Puisi "Surat pada Seorang Ibu" karya Wing Kardjo adalah ungkapan perasaan dan pemikiran seorang anak terhadap ibunya. Puisi ini menggambarkan hubungan yang kuat antara seorang anak (penyair) dan ibunya, serta memberikan gambaran tentang kekuatan cinta dan keabadian.

Gambaran Matahari dan Alam: Puisi dimulai dengan gambaran matahari waktu pagi yang menjadi sinar wajah ibu. Ini menciptakan suasana hangat dan penuh keceriaan, memberikan kesan positif pada sosok ibu. Penggambaran alam dengan daun-daun hijau dan pepohonan yang kokoh berdiri dengan akarnya yang terhunjam dalam di bumi menyiratkan stabilitas dan kekuatan, sejalan dengan kehadiran ibu.

Simbolisme Musim Gugur dan Dingin: Penyair menggunakan simbolisme musim gugur untuk menggambarkan pemisahan antara anak dan ibunya. Sebagaimana daun-daun pohon yang berguguran saat musim gugur, begitu pula anak yang meninggalkan ibunya untuk mengembara di negara orang. Musim dingin dengan salju yang menyelimuti kota menciptakan gambaran kesulitan dan penderitaan dalam kehidupan anak di tanah asing.

Analogi Kapal dan Pangkuan Kedamaian: Analogi kapal yang berlayar tanpa haluan bertahun-tahun dan akhirnya kembali ke daratan menciptakan gambaran tentang perjalanan hidup anak yang mungkin penuh liku-liku, tetapi pada akhirnya, ia akan kembali ke pangkuan ibunya, simbol kedamaian dan ketenangan.

Keabadian Cinta Ibu: Penyair dengan penuh keyakinan menyatakan bahwa cintanya pada ibu akan kekal, sebagaimana halnya ibu yang selalu hadir dan bersifat abadi seperti kapal yang kembali ke daratan. Ini mencerminkan kepercayaan anak pada keabadian cinta ibunya, bahkan di tengah berbagai cobaan dan tantangan kehidupan.

Pesan untuk Ibu sebagai Seorang Penyair: Puisi memberikan pesan kepada ibu sebagai seorang penyair untuk memperbesar hati, sebab di mana pun ia hadir, benih yang ditanam akan tumbuh subur. Metafora air mata sebagai pengairan bagi benih ini menekankan pada pentingnya kesabaran dan derita dalam proses pertumbuhan dan pemahaman.

Kebebasan, Sabar, dan Derita: Penutup puisi menyoroti makna kebebasan yang lahir dari air mata, mengisyaratkan bahwa kebebasan sejati terkandung dalam kesabaran dan derita. Ini merangkul ide bahwa melalui kesulitan dan penderitaan, kebijaksanaan dan pengertian akan tumbuh dan matang.

Gaya Penulisan Wing Kardjo: Gaya penyair Wing Kardjo tercermin dalam puisi ini dengan penggunaan kata-kata yang sederhana tetapi penuh makna. Pilihan kata-kata yang indah dan mendalam menciptakan kesan kelembutan dan kehangatan dalam menggambarkan hubungan anak dan ibu.

Puisi "Surat pada Seorang Ibu" adalah puisi yang sarat makna dan penuh emosi. Wing Kardjo berhasil menggambarkan hubungan yang intim antara seorang anak dan ibunya, mengekspresikan cinta, pemisahan, dan harapan. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenung tentang nilai-nilai kehidupan, keberanian dalam menghadapi tantangan, dan keabadian cinta seorang ibu.

Puisi Wing Kardjo
Puisi: Surat pada Seorang Ibu
Karya: Wing Kardjo

Biodata Wing Kardjo:
  • Wing Kardjo Wangsaatmadja lahir pada tanggal 23 April 1937 di Garut, Jawa Barat.
  • Wing Kardjo Wangsaatmadja meninggal dunia pada tanggal 19 Maret 2002 di Jepang.
© Sepenuhnya. All rights reserved.