Puisi: Surtikanti (Karya Gunawan Maryanto)

Puisi “Surtikanti” karya Gunawan Maryanto menegaskan bahwa cinta adalah wilayah batin yang kerap tersembunyi, hidup dalam diam, dan hanya malam ...
Surtikanti

di malam pengantin
dua lelaki berkejaran
sepanjang tubuhku sepanjang malam
berlarian di kancing baju, cincin,
giwang, liontin,
dan jam tangan
tapi cuma satu yang berdiam dalam anganku:
lelaki dengan benih matahari di kedua matanya,
dengan deras sungai gangga dalam jantungnya,
yang menyimpan kesedihanku diam-diam

maka diamlah seluruh mandaraka
biarkan malam menyembunyikan cintaku
menggelapkan kekasihku
dari anjing jaga dan peronda.

Jogjakarta, 2008

Sumber: Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya (Basabasi, 2018)

Analisis Puisi:

Puisi “Surtikanti” karya Gunawan Maryanto menghadirkan suara perempuan dalam situasi yang kompleks dan emosional: malam pengantin. Dengan bahasa simbolik dan metaforis, penyair membangun konflik batin antara tubuh, cinta, dan pilihan yang tersembunyi. Puisi ini memadukan sensualitas, spiritualitas, dan kesedihan dalam satu lanskap puitik yang padat.

Tema

Tema puisi ini adalah konflik batin dalam cinta dan pilihan, terutama dalam konteks relasi dan pernikahan. Puisi menyoroti perbedaan antara keterikatan formal dan cinta sejati yang tersembunyi.

Puisi ini bercerita tentang seorang perempuan di malam pengantin. Ia menggambarkan dua lelaki yang “berkejaran sepanjang tubuhku sepanjang malam”—sebuah metafora yang dapat dimaknai sebagai pertarungan antara dua sosok dalam hidupnya.

Detail seperti kancing baju, cincin, giwang, liontin, dan jam tangan mempertegas suasana pernikahan dan simbol-simbol ikatan resmi. Namun di antara dua lelaki itu, hanya satu yang berdiam dalam angannya: lelaki dengan “benih matahari di kedua matanya” dan “deras sungai gangga dalam jantungnya”.

Lelaki tersebut menyimpan kesedihannya diam-diam, menjadi sosok cinta yang mendalam namun tersembunyi. Pada bagian akhir, penyair memohon agar malam menyembunyikan cintanya dari “anjing jaga dan peronda”, simbol pengawasan sosial.

Makna Tersirat

Puisi ini berkaitan dengan cinta terlarang atau cinta yang tidak dapat diungkapkan secara terbuka. Dua lelaki dapat dimaknai sebagai suami dan kekasih, atau sebagai pilihan antara kewajiban dan hasrat hati.

“Benih matahari” melambangkan harapan dan cahaya kehidupan, sementara “deras sungai gangga” mengisyaratkan kesucian sekaligus arus emosi yang kuat. Referensi Gangga juga dapat dimaknai sebagai simbol spiritualitas dan pembersihan dosa.

“Anjing jaga dan peronda” menyimbolkan norma sosial dan pengawasan masyarakat yang membatasi kebebasan cinta.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini intens, rahasia, dan melankolis. Ada ketegangan antara gairah dan kesedihan, antara keterikatan resmi dan cinta yang tersembunyi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah bahwa cinta tidak selalu sejalan dengan aturan sosial. Ada ruang batin yang tak sepenuhnya dapat diatur oleh institusi atau norma. Puisi ini juga menyiratkan bahwa kesetiaan hati sering kali menjadi pergulatan yang sunyi dan personal.

Puisi “Surtikanti” karya Gunawan Maryanto adalah potret pergulatan batin seorang perempuan dalam malam yang sakral namun penuh rahasia. Dengan simbol-simbol yang kaya dan metafora yang kuat, penyair menghadirkan konflik antara cinta sejati dan tuntutan sosial. Puisi ini menegaskan bahwa cinta adalah wilayah batin yang kerap tersembunyi, hidup dalam diam, dan hanya malam yang mampu menjaganya dari sorotan dunia.

Gunawan Maryanto
Puisi: Surtikanti
Karya: Gunawan Maryanto
Biodata Gunawan Maryanto:
  • Gunawan Maryanto lahir pada tanggal 10 April 1976 di Yogyakarta, Indonesia.
  • Gunawan Maryanto meninggal dunia pada tanggal 6 Oktober 2021 (pada usia 45 tahun) di Yogyakarta, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.