Puisi: Tak Pernah Tuntas (Karya Piek Ardijanto Soeprijadi)

Puisi “Tak Pernah Tuntas” karya Piek Ardijanto Soeprijadi menampilkan ketabahan manusia dalam menghadapi rutinitas, penantian, dan ketidakpastian ...
Tak Pernah Tuntas

diceritakan tak pernah tuntas
di pinggir hamparan air begini luas
isteri nelayan tak terserang resah
menanti suami dalam perahu di tengah
laut menggelombang namun memberi hidup
sementara jantung tetep berdegup

diceritakan tak pernah tuntas
di pinggir hamparan air begini luas
anak nelayan letih segan beranjak
dari unggunan pasir di pantai sepi
meski mentari telah tertelan ombak
sebelum ayahnya kembali menepi

Sumber: Suara Karya (Jumat, 20 Januari 1984)

Analisis Puisi:

Puisi “Tak Pernah Tuntas” menggambarkan kehidupan keluarga nelayan dengan pendekatan yang sederhana namun penuh makna. Melalui pengulangan dan suasana pesisir, penyair menyoroti siklus kehidupan yang terus berlangsung tanpa akhir yang benar-benar selesai.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah kehidupan yang terus berulang dan perjuangan hidup masyarakat pesisir. Selain itu, terdapat pula tema tentang penantian, ketabahan, dan ketidakpastian.

Puisi ini bercerita tentang kehidupan keluarga nelayan—istri yang menunggu suami di laut, serta anak yang tetap berada di pantai menantikan kepulangan ayahnya. Kehidupan mereka berjalan dalam siklus yang berulang: berangkat melaut, menunggu, dan kembali. Namun, cerita ini “tak pernah tuntas”, seolah menjadi rutinitas tanpa akhir.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • Kehidupan manusia sering kali berjalan dalam siklus yang berulang tanpa kepastian akhir.
  • Penantian adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan, terutama bagi mereka yang hidup bergantung pada alam.
  • Laut tidak hanya menjadi sumber kehidupan, tetapi juga sumber ketidakpastian dan risiko.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa tenang namun sarat ketegangan batin. Ada kesan pasrah, tetapi juga tersimpan kekhawatiran yang halus.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat dipetik:
  • Jalani kehidupan dengan ketabahan meskipun penuh ketidakpastian.
  • Hargai perjuangan orang-orang yang hidup dalam kondisi yang keras dan bergantung pada alam.
  • Kehidupan tidak selalu memiliki akhir yang jelas, tetapi tetap harus dijalani.

Imaji

Puisi ini memiliki imaji yang cukup kuat:
  • Imaji visual: “hamparan air luas”, “pantai sepi”, “perahu di tengah laut”.
  • Imaji gerak: “laut menggelombang”, “mentari tertelan ombak”.
  • Imaji perasaan: penantian, kelelahan, dan harapan.

Majas

Beberapa majas yang digunakan:
  • Repetisi: “diceritakan tak pernah tuntas” untuk menegaskan siklus yang berulang.
  • Personifikasi: “mentari telah tertelan ombak”.
  • Metafora: laut sebagai simbol kehidupan yang penuh ketidakpastian.
Puisi “Tak Pernah Tuntas” karya Piek Ardijanto Soeprijadi merupakan refleksi tentang kehidupan yang terus berjalan tanpa akhir yang pasti. Dengan latar kehidupan nelayan, puisi ini menampilkan ketabahan manusia dalam menghadapi rutinitas, penantian, dan ketidakpastian yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Piek Ardijanto Soeprijadi
Puisi: Tak Pernah Tuntas
Karya: Piek Ardijanto Soeprijadi

Biodata Piek Ardijanto Soeprijadi:
  • Piek Ardijanto Soeprijadi (EyD Piek Ardiyanto Supriyadi) lahir pada tanggal 12 Agustus 1929 di Magetan, Jawa Timur.
  • Piek Ardijanto Soeprijadi meninggal dunia pada tanggal 22 Mei 2001 (pada umur 71 tahun) di Tegal, Jawa Tengah.
  • Piek Ardijanto Soeprijadi adalah salah satu sastrawan angkatan 1966.
© Sepenuhnya. All rights reserved.