Puisi: Tambur (Karya Dorothea Rosa Herliany)

Puisi “Tambur” karya Dorothea Rosa Herliany merupakan puisi yang eksperimental dan repetitif, dengan struktur dominan berupa pengulangan kata ...
Tambur

menjadi sungai
menjadi batu
menjadi air
menjadi tanah
menjadi ikan
menjadi pendar
menjadi riak
menjadi alir
menjadi bah
menjadi jerit

menjadi pohon
menjadi akar
menjadi daun
menjadi getar
menjadi gugur
menjadi musim
menjadi ringkih
menjadi belantara
menjadi riuh
menjadi lagu

menjadi ratap
menjadi rabu
menjadi tubuh
menjadi liuk
menjadi tari
menjadi bayang
menjadi lenting
menjadi jemari
menjadi tusuk
menjadi tunggu

menjadi taman
menjadi lampu
menjadi bayang
menjadi takut
menjadi sunyi
menjadi bisik
menjadi luka
menjadi tatap
menjadi tiup
menjadi lamat

menjadi diam
menjadi gunung
menjadi waktu
menjadi janji
menjadi sesal
menjadi liku
menjadi arah
menjadi renta
menjadi ruh
menjadi tuhan

menjadi segala
menjadi riak
menjadi lenyap
menjadi bila
menjadi tanya
menjadi tingkap
menjadi aku
menjadi kosong
menjadi gaung
menjadi kalbu

setumpul sembilu ...

Mendut, 2011

Sumber: Kompas (Minggu, 4 Desember 2011)

Analisis Puisi:

Puisi “Tambur” karya Dorothea Rosa Herliany merupakan puisi yang eksperimental dan repetitif, dengan struktur dominan berupa pengulangan kata “menjadi”. Pola ini menciptakan ritme seperti tabuhan tambur—sesuai judulnya—yang mengalun terus-menerus, menggambarkan perubahan, transformasi, dan dinamika eksistensi manusia serta alam semesta.

Tema

Tema utama puisi ini adalah transformasi dan keberadaan (eksistensi) manusia dalam hubungannya dengan alam dan semesta. Selain itu, terdapat tema tentang perubahan, siklus kehidupan, dan pencarian jati diri.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • Pengulangan “menjadi” menunjukkan bahwa kehidupan adalah proses perubahan yang tak pernah berhenti.
  • Perpindahan dari unsur alam (air, batu, pohon) ke unsur batin (luka, takut, sunyi) mencerminkan kesatuan antara dunia luar dan dunia dalam manusia.
  • Bagian “menjadi tuhan” mengisyaratkan pencarian makna tertinggi atau kesadaran spiritual.
  • Akhir puisi yang menuju “menjadi kosong” menunjukkan bahwa puncak eksistensi bisa berupa kehampaan atau pelepasan diri.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa meditatif, ritmis, dan kontemplatif, dengan nuansa yang berubah-ubah mengikuti aliran kata—kadang tenang, kadang gelisah.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Kehidupan adalah proses perubahan yang harus diterima sebagai bagian dari eksistensi.
  • Manusia perlu menyadari keterhubungannya dengan alam dan semesta.
  • Pencarian jati diri merupakan perjalanan panjang yang melibatkan pengalaman fisik, emosional, dan spiritual.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji yang berlapis-lapis, antara lain:
  • Imaji visual: “sungai”, “batu”, “pohon”, “gunung”, “taman”.
  • Imaji gerak: “riak”, “alir”, “liuk”, “tari”.
  • Imaji perasaan: “takut”, “luka”, “sunyi”, “sesal”.
  • Imaji konseptual: “waktu”, “janji”, “ruh”, “kosong”.
Imaji-imaji ini menciptakan pengalaman puitik yang luas, dari yang konkret hingga abstrak.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini meliputi:
  • Repetisi: pengulangan kata “menjadi” sebagai struktur utama puisi.
  • Metafora: berbagai unsur (alam, benda, perasaan) sebagai representasi eksistensi.
  • Simbolisme: “tambur” sebagai simbol ritme kehidupan.
  • Enumerasi (perincian): deretan panjang kata untuk menunjukkan keluasan pengalaman.
  • Paradoks: peralihan dari “menjadi segala” ke “menjadi kosong”.
Puisi ini menampilkan kekuatan Dorothea Rosa Herliany dalam mengeksplorasi bahasa dan makna. Puisi “Tambur” bukan sekadar rangkaian kata, melainkan meditasi puitik tentang perubahan, keberadaan, dan pencarian makna hidup yang terus berdenyut seperti tabuhan tanpa henti.

Dorothea Rosa Herliany
Puisi: Tambur
Karya: Dorothea Rosa Herliany

Biodata Dorothea Rosa Herliany:
  • Dorothea Rosa Herliany lahir pada tanggal 20 Oktober 1963 di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Ia adalah seorang penulis (puisi, cerita pendek, esai, dan novel) yang produktif.
  • Dorothea sudah menulis sejak tahun 1985 dan mengirim tulisannya ke berbagai majalah dan surat kabar, antaranya: Horison, Basis, Kompas, Media Indonesia, Sarinah, Suara Pembaharuan, Mutiara, Citra Yogya, Dewan Sastra (Malaysia), Kalam, Republika, Pelita, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Jawa Pos, dan lain sebagainya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.