Tancap Kayon
Malam tanpa bintang
Mengeraskan bau kayu cendana
Terbakar oleh api batinku
Pada kelir ruhani
Berkelebatan wajah-wajah yang getir
Lihatlah kasihku
Pohon yang tumbuh dalam gunungan
Ular. Harimau. Kehidupan yang tak pernah
Kita pikirkan
Mengekalkan luka purba
Pertarungan hidup dan mati
Rasakanlah, rasakanlah jarak dan rahasia
Tak terjejaki. Terluap dari tanah-Nya
Terhembus angin dari aliran nafas-Nya
Sampai ketinggian subuh
Menjejakkan kayon pada tubuhku
Maut pun menghilir
Mencari muara di sungai kepalaku
Kesirnaanku
Atas senyum-Nya yang sederhana!
1984
Sumber: Para Penziarah (1987)
Analisis Puisi:
Puisi “Tancap Kayon” karya Soni Farid Maulana merupakan karya yang kaya simbolisme, terutama dengan memanfaatkan unsur budaya wayang seperti “kayon” atau “gunungan”. Dalam tradisi pewayangan, kayon melambangkan awal dan akhir kehidupan, sekaligus pusat kosmos. Penyair mengolah simbol ini menjadi medium refleksi spiritual tentang hidup, kematian, dan hubungan manusia dengan Yang Ilahi.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjalanan spiritual manusia dalam menghadapi kehidupan dan kematian. Selain itu, terdapat tema tentang pergulatan batin, takdir, dan kesadaran akan kekuasaan Tuhan.
Puisi ini bercerita tentang pengalaman batin seseorang yang berada dalam pergulatan antara hidup dan mati, digambarkan melalui simbol kayon, malam, dan berbagai elemen alam. Dalam proses tersebut, penyair mengalami kesadaran spiritual yang mendalam hingga mencapai titik pasrah terhadap kehendak Tuhan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
- Kayon melambangkan siklus kehidupan—awal, perjalanan, dan akhir manusia.
- “Malam tanpa bintang” menggambarkan kegelapan batin atau ketidakpastian hidup.
- Pertarungan antara ular, harimau, dan kehidupan mencerminkan naluri, kekuatan, dan konflik eksistensial manusia.
- Ungkapan “maut pun menghilir mencari muara di sungai kepalaku” menunjukkan bahwa kematian adalah proses alami yang menuju akhir kehidupan manusia.
- “Kesirnaan” menandakan pelepasan diri menuju kesatuan dengan Yang Ilahi.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini terasa mistis, intens, dan kontemplatif, dengan nuansa spiritual yang kuat dan sedikit mencekam.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
- Manusia perlu menyadari bahwa hidup dan mati adalah bagian dari satu siklus yang tak terpisahkan.
- Pergulatan batin merupakan proses penting menuju kesadaran spiritual.
- Pada akhirnya, manusia harus berserah diri kepada kehendak Tuhan.
Puisi ini menunjukkan kedalaman spiritual dan kekuatan simbolik khas Soni Farid Maulana. Puisi “Tancap Kayon” tidak hanya meminjam simbol budaya, tetapi juga mengolahnya menjadi refleksi filosofis tentang kehidupan, kematian, dan hubungan manusia dengan Yang Maha Kuasa.
Puisi: Tancap Kayon
Karya: Soni Farid Maulana
Biodata Soni Farid Maulana:
- Soni Farid Maulana lahir pada tanggal 19 Februari 1962 di Tasikmalaya, Jawa Barat.
- Soni Farid Maulana meninggal dunia pada tanggal 27 November 2022 (pada usia 60 tahun) di Ciamis, Jawa Barat.
