Puisi: Tanda (Karya D. Zawawi Imron)

Puisi “Tanda” karya D. Zawawi Imron mengingatkan agar manusia tetap menjaga kesabaran dan keteguhan iman, meskipun lingkungan sekitar telah ...

Tanda

kiamat yang dikhawatirkan para saleh
akan datang bersama ketidaksabaran
karena tiang-tiang sudah acuh tak acuh
pada lumut dan derita
kini tinggal sebuah beduk masih bergema
menyulur ruas-ruas akar di dalam tanah

ketika intan jatuh di talam
kudengar sabda lahir
lalu mata air menderaskan getaran

kijang yang melengking tubuhnya tertancap panah
tak butuh suara lagi
biarkan ia berpeluk
dengan merjan-merjan pilihan
yang menolak menghias tanda kehormatan

dari bangkai-bangkai orang tertindas ini
akan tumbuh lagu-lagu tak terduga
menajamkan doa kita yang bisu

Sumber: Segugus Percakapan Cinta di Bawah Matahari (2017)

Analisis Puisi:

Puisi “Tanda” merupakan karya yang sarat simbol dan refleksi spiritual. D. Zawawi Imron menghadirkan gambaran-gambaran metaforis yang kuat untuk menyampaikan kegelisahan sosial, religiusitas, dan harapan yang lahir dari penderitaan. Bahasa yang digunakan cenderung simbolik dan kontemplatif, sehingga pembaca perlu menafsirkan makna di balik citraan yang disuguhkan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah tanda-tanda kehancuran moral dan spiritual manusia, serta harapan akan kebangkitan yang lahir dari penderitaan. Puisi ini menyinggung persoalan keimanan, ketidakadilan sosial, dan kesabaran dalam menghadapi cobaan zaman.

Kata “kiamat” di awal puisi bukan semata-mata merujuk pada akhir zaman secara harfiah, melainkan dapat dipahami sebagai simbol runtuhnya nilai-nilai kebenaran dan kesalehan di tengah masyarakat.

Makna Tersirat

Puisi ini mengarah pada kritik sosial dan spiritual. Beberapa simbol penting yang dapat ditafsirkan antara lain:
  • Kiamat: tanda kehancuran moral dan sosial.
  • Tiang-tiang yang acuh tak acuh: pemimpin atau sistem yang tidak lagi peduli pada penderitaan.
  • Beduk yang masih bergema: suara keimanan atau panggilan spiritual yang masih bertahan.
  • Intan jatuh di talam: momen pencerahan atau kesadaran.
  • Kijang tertancap panah: sosok yang terluka akibat ketidakadilan.
  • Bangkai orang tertindas: korban sistem yang tidak adil.
Puisi ini menyiratkan bahwa di balik kehancuran dan penderitaan, terdapat benih perubahan dan harapan yang tidak terduga.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung muram, reflektif, dan penuh ketegangan batin. Pada bagian awal, terasa nuansa kekhawatiran dan kecemasan terhadap datangnya “kiamat” atau kehancuran. Namun, menjelang akhir, muncul suasana harapan yang tenang dan penuh keyakinan bahwa doa dan penderitaan tidak akan sia-sia.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah bahwa penderitaan dan ketidakadilan bukanlah akhir dari segalanya. Dari kesengsaraan dapat lahir kesadaran dan kekuatan baru. Puisi ini juga mengingatkan agar manusia tetap menjaga kesabaran dan keteguhan iman, meskipun lingkungan sekitar telah kehilangan kepekaan. Selain itu, puisi ini seolah menegaskan bahwa doa yang “bisu” sekalipun tetap memiliki kekuatan, terutama jika ia lahir dari pengalaman tertindas.

Puisi “Tanda” karya D. Zawawi Imron merupakan refleksi mendalam tentang tanda-tanda kehancuran moral sekaligus harapan akan kebangkitan dari penderitaan. Melalui simbol-simbol religius dan alam, penyair menyampaikan kritik sosial yang halus namun tajam. Puisi ini tidak hanya mengajak pembaca merenungkan kondisi zaman, tetapi juga menegaskan bahwa dari derita dan ketidakadilan dapat tumbuh kesadaran, doa, dan perubahan yang tak terduga.

Puisi D. Zawawi Imron
Puisi: Tanda
Karya: D. Zawawi Imron

Biodata D. Zawawi Imron:
  • D. Zawawi Imron (biasa disapa Cak Imron) adalah salah satu penyair ternama di Indonesia, ia lahir di desa Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ia sendiri tidak mengetahui dengan pasti tanggal kelahirannya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.