Tragedi
Setelah lampu kaupadamkan
bening mata ikan dapatkah kautangkap
langit berdandan dengan seribu kunang-kunang
bergetar dalam gelap. Menunjuk ke dalam matamu
dengan jarum bianglala. Menikam ke dalam kelam
dengan kilat mata pisau yang diasah batu-batu
perihmu. Dapatkah kautangkap geleparnya?
Setelah jala kautebarkan
hujan tak henti-hentinya bercakap
dengan bumi. Langit mengurung sepi
menyaksikan sebuah negeri ditinggalkan penghuninya
dengan iringan panjang menatap salju turun
sepanjang bukit-bukit gundul, menatap
badai turun sepanjang pantai. Kulihat
Tuhan pun di sana meremas jari jemarinya.
1982
Sumber: Horison (Juni, 1986)
Analisis Puisi:
Puisi “Tragedi” menghadirkan lanskap alam yang sarat simbol dan ketegangan batin. B. Y. Tand meramu gambaran malam, laut, hujan, dan langit sebagai ruang kontemplasi atas sebuah kehancuran. Kata “tragedi” tidak dijelaskan secara eksplisit, tetapi dibangun melalui citraan yang tajam, pertanyaan retoris, dan suasana kosmis yang mencekam.
Puisi ini bergerak dari tindakan personal—memadamkan lampu dan menebarkan jala—menuju gambaran kolektif tentang sebuah negeri yang ditinggalkan penghuninya.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kehancuran dan kehilangan, baik dalam skala personal maupun kolektif. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema pencarian makna di tengah kegelapan dan penderitaan. Tragedi dalam puisi ini bukan sekadar peristiwa tunggal, melainkan kondisi batin dan sosial yang meluas.
Secara umum, puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada dalam situasi gelap—baik secara harfiah maupun simbolik. Setelah lampu dipadamkan, muncul pertanyaan:
“bening mata ikan dapatkah kautangkap”
Pertanyaan ini menyiratkan usaha menangkap sesuatu yang samar dan licin—mungkin kebenaran atau harapan.
Langit digambarkan “berdandan dengan seribu kunang-kunang,” namun cahaya itu justru “menikam ke dalam kelam.” Artinya, terang tidak selalu membawa kelegaan; ia bisa mempertegas luka.
Pada bagian kedua, setelah jala ditebarkan, hujan bercakap dengan bumi. Alam menjadi saksi ketika “sebuah negeri ditinggalkan penghuninya.” Gambaran ini memperluas tragedi menjadi peristiwa sosial—mungkin perang, bencana, atau pengasingan massal.
Baris penutup:
“Tuhan pun di sana meremas jari jemarinya.”
memberi kesan bahwa bahkan Tuhan digambarkan menyaksikan dengan gelisah.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa tragedi sering kali tidak hanya menyisakan kehancuran fisik, tetapi juga kebingungan batin. Upaya “menangkap” mata ikan atau geleparnya dapat dimaknai sebagai usaha memahami penderitaan yang sulit diraih maknanya.
“Negeri ditinggalkan penghuninya” menyiratkan eksodus, kehancuran peradaban, atau hilangnya harapan. Gambaran Tuhan yang “meremas jari jemarinya” menyiratkan ironi—seolah-olah tragedi begitu besar hingga bahkan kekuatan ilahi pun tampak cemas.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa manusia kerap sendirian menghadapi kelamnya dunia, meskipun alam dan langit menjadi saksi.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini gelap, tegang, dan muram. Ada nuansa mencekam dalam gambaran kelam, badai, salju, dan bukit gundul. Nada pertanyaan retoris memperkuat kesan kegelisahan dan ketidakpastian.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Secara implisit, amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah bahwa tragedi harus dihadapi dengan kesadaran dan keberanian untuk melihat kegelapan secara langsung. Pertanyaan “dapatkah kautangkap” menantang pembaca untuk tidak berpaling dari kenyataan pahit. Puisi ini juga mengingatkan bahwa kehancuran sosial atau kemanusiaan adalah peristiwa besar yang mengguncang seluruh tatanan, bahkan menggugah kesadaran spiritual.
Puisi “Tragedi” karya B. Y. Tand adalah refleksi mendalam tentang kehancuran dan kegelisahan manusia dalam menghadapi peristiwa besar yang mengguncang kehidupan. Melalui citraan alam yang gelap dan tajam, penyair membangun atmosfer tragedi yang personal sekaligus kolektif.
Puisi ini menegaskan bahwa tragedi bukan hanya soal peristiwa, tetapi juga soal kesadaran—tentang bagaimana manusia menangkap, memahami, dan menghadapi kelamnya dunia.
Karya: B. Y. Tand
Biodata B. Y. Tand:
- B. Y. Tand (Burhanuddin Yusuf Tanjung) lahir pada tanggal 10 Agustus 1942 di Indrapura, Kabupaten Asahan, Sumatra Utara.
