Puisi: Tukang Daging (Karya Soni Farid Maulana)

Puisi “Tukang Daging” karya Soni Farid Maulana mengajak pembaca untuk merasakan, memahami, dan menghargai kehidupan melalui sudut pandang empati ...
Tukang Daging
Pisau tipis itu ia tancapkan
pada sepaha daging sapi,
lalu ditariknya
ke bawah; menciptakan
sebuah sayatan
yang bila tajam pisau itu
menyayat pahaku

tak bisa aku bayangkan
serasa apa? Pisau itu
mengiris tipis daging sapi
yang aku beli. "Pagi ini kita
masak daging cingcang.
Jangan lupa santan kelapa,
daun salam, dan bumbu
lainnya," kau bilang
pagi itu.

Hmm. Jejak pisau tipis itu
masih terbayang dalam benakku;
menyayat sepaha daging sapi;
lalu serasa apa bila pisau itu
menyayat tubuhku? Sungguh,
tak bisa aku bayangkan
rasa nyeri itu

2017

Sumber: Ranting Patah (2018)

Analisis Puisi:

Puisi “Tukang Daging” karya Soni Farid Maulana menghadirkan pengalaman yang konkret sekaligus menggugah perasaan. Dengan latar aktivitas sederhana—memotong daging—puisi ini berkembang menjadi refleksi tentang rasa sakit, tubuh, dan empati manusia terhadap makhluk lain.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesadaran akan rasa sakit dan empati terhadap tubuh serta makhluk hidup.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menyaksikan proses pemotongan daging oleh tukang daging. Pisau yang menancap dan menyayat daging sapi digambarkan secara detail dan nyata.

Namun, pengalaman itu tidak berhenti pada pengamatan. Penyair kemudian membayangkan bagaimana rasanya jika sayatan tersebut terjadi pada tubuhnya sendiri. Aktivitas memasak yang biasa berubah menjadi perenungan tentang rasa nyeri dan kemanusiaan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa manusia sering kali tidak menyadari atau mengabaikan penderitaan makhluk lain karena telah terbiasa dengan rutinitas.

Ketika penyair mulai membayangkan rasa sakit tersebut pada dirinya sendiri, muncul kesadaran empatik—bahwa rasa sakit itu nyata dan universal. Puisi ini mengajak pembaca untuk lebih peka terhadap kehidupan, bahkan dalam hal-hal yang tampak biasa.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa tegang, sedikit ngeri, dan reflektif, terutama ketika imaji sayatan pisau mulai dikaitkan dengan tubuh manusia.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat diambil adalah bahwa manusia perlu mengembangkan empati dan kesadaran terhadap penderitaan, baik pada sesama manusia maupun makhluk hidup lainnya. Puisi ini juga mengingatkan agar tidak memandang sesuatu secara mekanis tanpa perasaan.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji yang sangat kuat dan konkret, seperti:
  • Imaji visual: pisau tipis, daging sapi, sayatan.
  • Imaji kinestetik (gerak): gerakan pisau yang menusuk dan menarik ke bawah.
  • Imaji rasa (taktil): bayangan rasa nyeri akibat sayatan.
Imaji tersebut membuat pembaca seolah ikut merasakan pengalaman yang digambarkan.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Simile (perbandingan implisit): membayangkan sayatan pada daging seperti pada tubuh manusia.
  • Metafora: sayatan sebagai simbol rasa sakit yang universal.
  • Pertanyaan retoris: “serasa apa?” untuk menggugah kesadaran pembaca.
Puisi “Tukang Daging” karya Soni Farid Maulana berhasil mengangkat peristiwa sederhana menjadi refleksi yang mendalam. Dengan imaji yang tajam dan pendekatan yang personal, puisi ini mengajak pembaca untuk merasakan, memahami, dan menghargai kehidupan melalui sudut pandang empati yang lebih luas.

Soni Farid Maulana
Puisi: Tukang Daging
Karya: Soni Farid Maulana

Biodata Soni Farid Maulana:
  • Soni Farid Maulana lahir pada tanggal 19 Februari 1962 di Tasikmalaya, Jawa Barat.
  • Soni Farid Maulana meninggal dunia pada tanggal 27 November 2022 (pada usia 60 tahun) di Ciamis, Jawa Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.