Tuntutan
aku pernah percaya pada batu
maka kuasah tandukku
laut bersenggak jauh di sana
mempertahankan warna birunya
bukan aku memilih teman
tapi prasasti dan dongeng
telah rancu dalam ngarai
menipiskan nilai-nilai
apakah arti amnesti
bila pantai telah merah meniru senja
dan di angkasa
anai-anai kembali dikejar burung raksasa?
dalam kelam yang ramah
semesta daun melepas diri dari pohonnya
menuntut lidah yang tak kuasah
Sumber: Segugus Percakapan Cinta di Bawah Matahari (2017)
Analisis Puisi:
Puisi “Tuntutan” karya D. Zawawi Imron menghadirkan refleksi simbolik tentang kekuasaan, moralitas, dan tanggung jawab manusia dalam menghadapi sejarah serta realitas sosial. Dengan bahasa metaforis yang padat, puisi ini menyampaikan kritik terhadap nilai-nilai yang mengalami kerancuan dan kehilangan makna.
Tema
Tema puisi ini adalah krisis nilai dan tuntutan moral di tengah realitas sosial yang penuh konflik dan penyimpangan makna.
Makna Tersirat
Puisi ini adalah kritik terhadap pengampunan atau kebijakan yang tidak menyentuh akar persoalan moral. Amnesti menjadi tidak bermakna ketika luka sosial belum sembuh dan kekerasan masih membekas.
“Lidah yang tak kuasah” menyiratkan ketidakmampuan berkata benar atau menyuarakan kebenaran secara tajam. Ini bisa dimaknai sebagai kegagalan moral, baik individu maupun kolektif, dalam memperjuangkan nilai yang sejati.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa alam dan sejarah menyimpan memori—dan pada waktunya, akan menuntut kejujuran.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini terasa kontemplatif, simbolik, dan sarat kegelisahan moral. Ada nuansa muram yang dibalut dengan bahasa puitik dan reflektif.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya keteguhan moral dan keberanian menyuarakan kebenaran di tengah kerancuan nilai dan sejarah. Pengampunan atau rekonsiliasi tidak berarti tanpa kejujuran dan pertanggungjawaban.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa manusia tidak bisa menghindar dari tuntutan etika—baik dari masyarakat, sejarah, maupun nurani sendiri.
Imaji
- Imaji visual: “laut bersenggak jauh di sana”, “pantai telah merah meniru senja”, “semesta daun melepas diri dari pohonnya”.
- Imaji simbolik: batu, tanduk, prasasti, dongeng, dan anai-anai sebagai lambang kekuatan, sejarah, serta kerapuhan nilai.
- Imaji gerak: “anai-anai kembali dikejar burung raksasa” menghadirkan kesan ancaman dan siklus kekuasaan.
Majas
- Metafora: “mengasah tanduk” sebagai lambang kesiapan melawan; “lidah yang tak kuasah” sebagai simbol ketidakmampuan berkata benar.
- Personifikasi: “laut bersenggak”, “pantai meniru senja”, “semesta daun… menuntut” memberi sifat manusia pada alam.
- Pertanyaan retoris: “apakah arti amnesti…” menegaskan kritik sosial.
- Simbolisme: warna merah pantai sebagai lambang pertumpahan darah; prasasti dan dongeng sebagai simbol sejarah yang terdistorsi.
Puisi “Tuntutan” karya D. Zawawi Imron merupakan refleksi mendalam tentang krisis nilai dan tanggung jawab moral. Melalui simbol-simbol alam dan sejarah, penyair menegaskan bahwa tanpa kejujuran dan keberanian moral, pengampunan atau rekonsiliasi hanya menjadi formalitas. Pada akhirnya, suara nurani dan sejarah akan selalu menuntut kebenaran yang tidak bisa dihindari.

Puisi: Tuntutan
Karya: D. Zawawi Imron
Biodata D. Zawawi Imron:
- D. Zawawi Imron (biasa disapa Cak Imron) adalah salah satu penyair ternama di Indonesia, ia lahir di desa Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ia sendiri tidak mengetahui dengan pasti tanggal kelahirannya.