Puisi: Untuk Kandidat (Karya Pulo Lasman Simanjuntak)

Puisi “Untuk Kandidat” karya Pulo Lasman Simanjuntak adalah kritik sosial yang padat dan simbolik terhadap dinamika perebutan kekuasaan.
Untuk Kandidat

batas akhir dari permainan primitif
merebut kursi
oi, kursi
keramat
berbatu terjal

kesempatan lowongan kerja
nilai-nilai permintaan penguasa
mendidik itu menyenangkan
bukan urusanmu lagi

tengoklah kawan,
puluhan ekor kuda
sudah terbang dari sangkar
mulutnya ditumbuhi kompor gas
tanam investasi dalam museum

megaproyek menerbangkan hotel-hotel berbintang
persis di jidat kepala

batas akhir dari permainan primitif
merebut kursi
oi, kursi
mengeras
retak

Jakarta, 30 September 2022

Analisis Puisi:

Puisi “Untuk Kandidat” karya Pulo Lasman Simanjuntak merupakan kritik sosial-politik yang tajam terhadap praktik perebutan kekuasaan. Melalui diksi satiris dan simbol-simbol kuat, penyair membangun gambaran tentang ambisi, manipulasi, dan absurditas dalam kontestasi politik modern.

Tema

Tema puisi ini adalah kritik terhadap ambisi kekuasaan dan praktik politik yang menyimpang dari nilai-nilai ideal.

Puisi ini bercerita tentang “permainan primitif” dalam merebut kursi kekuasaan. Kata “kursi” berulang kali disebut dan diseru, seolah menjadi objek keramat yang diperebutkan secara brutal.

Penyair menggambarkan perebutan itu sebagai “lowongan kerja” yang sarat nilai permintaan penguasa, sehingga politik direduksi menjadi sekadar ajang mencari posisi.

Gambaran metaforis seperti “puluhan ekor kuda sudah terbang dari sangkar” dan “mulutnya ditumbuhi kompor gas” menghadirkan citra kekacauan, kerakusan, dan agresivitas. Megaproyek dan hotel berbintang yang “menerbangkan” serta “persis di jidat kepala” menyiratkan pembangunan yang dipaksakan, bahkan mungkin tak berpihak pada rakyat.

Pada akhirnya, kursi yang diperebutkan itu digambarkan “mengeras” dan “retak”, menandakan rapuhnya legitimasi dan moralitas kekuasaan tersebut.

Makna Tersirat

Puisi ini adalah sindiran terhadap praktik politik yang kehilangan substansi etika. “Permainan primitif” menyiratkan bahwa perebutan kekuasaan sering kali didorong oleh naluri dasar—ambisi dan kepentingan pribadi—bukan oleh idealisme.

“Kursi keramat berbatu terjal” melambangkan jabatan yang dianggap sakral, tetapi sebenarnya penuh rintangan dan konsekuensi. Retaknya kursi di akhir puisi menjadi simbol kehancuran sistem atau moral yang tak lagi kokoh.

Puisi ini juga menyentil fenomena pembangunan dan investasi yang tampak megah, tetapi berpotensi menutupi ketimpangan dan kepentingan tertentu.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini sinis, kritis, dan satiris. Nada yang digunakan terasa tajam dan penuh ironi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah agar para kandidat dan pemegang kekuasaan menyadari bahwa jabatan bukanlah sekadar kursi untuk diperebutkan. Kekuasaan harus dijalankan dengan integritas dan tanggung jawab moral. Puisi ini mengingatkan bahwa ambisi tanpa nilai akan berujung pada keretakan—baik dalam sistem maupun dalam kepercayaan publik.

Puisi “Untuk Kandidat” karya Pulo Lasman Simanjuntak adalah kritik sosial yang padat dan simbolik terhadap dinamika perebutan kekuasaan. Dengan bahasa metaforis dan ironi yang kuat, penyair memperlihatkan bagaimana ambisi politik dapat menjadi permainan primitif yang meretakkan fondasi moral.

Puisi ini mengajak pembaca—terutama para kandidat—untuk merefleksikan makna sejati kekuasaan dan tanggung jawab yang melekat di dalamnya.

Pulo Lasman Simanjuntak
Puisi: Untuk Kandidat
Karya: Pulo Lasman Simanjuntak

Biodata Pulo Lasman Simanjuntak:
    Pulo Lasman Simanjuntak lahir di Surabaya, 20 Juni 1961. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Publisistik (STP/IISIP-Jakarta). Lasman Simanjuntak belajar sastra secara otodidak. Hasil karya sajaknya pertama kali dipublikasikan sewaktu masih duduk di bangku SMP, yakni dimuat di ruang sanjak anak-anak Harian Umum Kompas tahun 1977.

    Kemudian pada tahun 1980 sampai tahun 2022 sajak-sajaknya mulai disiarkan di Majalah Keluarga, Dewi, Nova, Monalisa, Majalah Mahkota, Harian Umum Merdeka, Suara Karya, Jayakarta, Berita Yudha, Media Indonesia, Harian Sore Terbit, Harian Umum Seputar Indonesia (Sindo), Koran Media Cakra Bangsa (Jakarta), Majalah Habatak Online, dan banyak lagi lainya.

    Selain di Media Online dan Media Offline, sajaknya juga termuat dalam 17 Buku Antologi Puisi Bersama Penyair di seluruh Indonesia.

    Buku kumpulan sajak tunggalnya yang sudah terbit Traumatik (1997), Kalah atau Menang (1997), Taman Getsemani (2016), Bercumbu dengan Hujan (2021), Tidur di Ranjang Petir (2021), Mata Elang Menabrak Karang (2021), Rumah Terbelah Dua (2021).

    Pada saat ini Pulo Lasman Simanjuntak sedang mempersiapkan penerbitan buku Antologi Puisi Tunggal ke-8 berjudul Bila Sunyiku Ikut Terluka (2022).

    Beberapa karya puisinya juga telah diterjemahkan (dialihaksarakan) kepada penulisan aksara Arab Melayu.

    Pada Minggu 18 September 2022 puisinya berjudul Pohon Itu Kesunyian atau The Tree Was Silent mendapat sertifikat keunggulan dari Global Poetry Forum karena dinilai puisi tersebut luar biasa.

    Namanya juga telah masuk dalam buku Pintar Sastra Indonesia (2001) yang disunting oleh Pamusuk Eneste, serta buku Apa & Siapa Penyair Indonesia (2017) yang disunting oleh Maman S. Mahayana bersama Sutardji Calzoum Bahchri, Abdul Hadi W.M, Rida K.Liamsi, Ahmadun Y. Herfanda, dan Hasan Aspahani.

    Pada tahun 2021 ia mendapat piagam dan medali penghargaan Setya Sastra Nagari (30 tahun Kesetiaan Sastra Indonesia) oleh Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia.

    Pada bulan Juni dan Juli 2022 berturut-turut karya puisinya memperoleh juara III dan juara II Puisi Pilihan Terbaik oleh Komunitas Sastra SNW ( Sastra Nusa Widhita).

    Saat ini Lasman Simanjuntak aktif sebagai anggota Dapur Sastra Jakarta (DSJ), Komunitas dari Negeri PociSastera Sahabat Kita (berpusat di Sabah Malaysia) serta Ketua Komunitas Sastra Pamulang (KSP).
    © Sepenuhnya. All rights reserved.