Puisi: Waktu (Karya B. Y. Tand)

Puisi “Waktu” karya B. Y. Tand menggambarkan waktu bukan sekadar konsep abstrak, melainkan entitas yang menemani manusia hingga akhir.
Waktu

Dalam deras sungaimu
aku dan waktu berpacu
mendaki bukit sunyi
yang kaujanjikan

Hiruk pikuk suara
menggapai langit putihmu
terlempar ke kolam-kolam
Lihat!
Ikan-ikan berenang menimba waktu
mencari matahari di teluk-teluk pualam
Tetapi tiba-tiba malam menjalanya
dengan kain sutera
yang kausimpan di surga

Aku dan waktu berjanji
akan berhenti pada stasiun terakhir
kereta senja yang kausediakan
Tak ada percakapan
kecuali sepi
sekali-sekali mengetuk pintu
menjengukku
Aku tahu sebentar lagi
roda kereta berputar makin perlahan
sementara waktu di sisiku tersipu
memandangku.

1982

Sumber: Sajak-Sajak Diam (1983)

Analisis Puisi:

Puisi “Waktu” karya B. Y. Tand menghadirkan refleksi mendalam tentang hubungan manusia dengan waktu sebagai sesuatu yang hidup, dinamis, dan tak terpisahkan dari perjalanan eksistensi. Dengan simbol-simbol alam dan perjalanan, penyair menggambarkan waktu bukan sekadar konsep abstrak, melainkan entitas yang menemani manusia hingga akhir.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup manusia bersama waktu. Selain itu, terdapat tema tentang kefanaan, penantian akhir, dan kesadaran akan kematian.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang “berpacu” bersama waktu dalam perjalanan hidup, melewati berbagai fase yang diibaratkan sebagai sungai, bukit, hingga stasiun terakhir. Dalam perjalanan tersebut, waktu menjadi teman sekaligus saksi, hingga akhirnya mereka mendekati akhir perjalanan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • “Sungai” melambangkan aliran kehidupan yang terus bergerak.
  • Berpacu dengan waktu menunjukkan bahwa manusia tidak pernah lepas dari tekanan dan keterbatasan waktu.
  • “Ikan-ikan menimba waktu” menggambarkan usaha manusia untuk memahami atau mengejar waktu yang tak terjangkau.
  • “Malam menjala” menandakan kematian atau akhir yang datang secara tiba-tiba.
  • “Stasiun terakhir” dan “kereta senja” melambangkan akhir kehidupan.
  • Waktu yang “tersipu” menunjukkan bahwa waktu seolah menjadi saksi yang diam dan misterius terhadap nasib manusia.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa hening, reflektif, dan melankolis, dengan nuansa penerimaan terhadap akhir kehidupan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Manusia perlu menyadari bahwa waktu terus berjalan dan tidak bisa dihentikan.
  • Kehidupan harus dijalani dengan kesadaran akan keterbatasan dan akhir yang pasti.
  • Penting untuk menghargai setiap momen dalam perjalanan hidup.
Puisi ini merupakan refleksi filosofis tentang relasi manusia dengan waktu. B. Y. Tand berhasil menggambarkan waktu sebagai sahabat sekaligus pengingat akan kefanaan, menjadikan puisi ini sebagai renungan mendalam tentang perjalanan hidup menuju akhir yang pasti.

B. Y. Tand
Puisi: Waktu
Karya: B. Y. Tand

Biodata B. Y. Tand:
  • B. Y. Tand (Burhanuddin Yusuf Tanjung) lahir pada tanggal 10 Agustus 1942 di Indrapura, Kabupaten Asahan, Sumatra Utara.
© Sepenuhnya. All rights reserved.