Puisi: Zaman Azab (Karya Remy Sylado)

Puisi “Zaman Azab” karya Remy Sylado mengajak pembaca untuk tidak hanya menyadari kerusakan zaman, tetapi juga berani mengambil sikap dan tetap ...
Zaman Azab

Zamanku dipenuhi azab
roh terkilir dalam perjalanan ke surga
diganggu hasrat mencintai serba bendawi.

Apa perlu memakai zirah
agar muka terlindung pencemaran dusta
di waktu berbaris maju mengalahkan sesatan?
dunia telah membusuk dan terus-terusan busuk
adakah sungai-sungai yang mau membawanya hanyut
jauh dari mata jauh dari hidung jauh dari rasa?

Ini agaknya baris-baris kenyataan kini
lebih berkesan mati sebagai perkutut piaraan
ketimbang mati sebagai orang yang penuh berjasa
ya, matilah dalam kemuliaan digorok Belanda
ketimbang mati pelan-pelan disiksa sesama.

Tak kudu sesalkan azab dalam zamanku
setiap zaman ada algojo ada bajingan
terus saja bangun walau di dalam tidur
jangan terjadi bentang jalanan yang berjalan
dan semua berdiri menganga ditinggalkan jalannya
lihat, betapa jarum jam tak letih memutari angka
apa dibiarkan zindik tersesat dalam putarannya?
aku tampil dan menentukan pilihan untuk jadi garam.

Menyanyilah nyaring, nyanyikan lagu pengharapan
menyanyilah nyaring, kalahkan gemuruh gelombang
sembuhkan sakit melalui larik-larik puisi kasih
laporkan dalam zikir, dia mendengar dan melihat.

Sumber: Kerygma & Martyria (2004)

Analisis Puisi:

Puisi “Zaman Azab” karya Remy Sylado merupakan refleksi tajam terhadap kondisi moral dan sosial manusia. Dengan bahasa yang lugas namun sarat simbol, puisi ini menggambarkan kegelisahan penyair terhadap dunia yang dianggap semakin rusak dan penuh penderitaan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kritik terhadap kerusakan moral manusia dan pergulatan spiritual di tengah zaman yang penuh penderitaan.

Puisi ini bercerita tentang kondisi zaman yang dipenuhi “azab”, di mana manusia terjebak dalam hasrat duniawi dan kehilangan nilai-nilai kebenaran. Penyair menggambarkan dunia sebagai sesuatu yang “membusuk”, penuh dusta, dan dipenuhi oleh kejahatan.

Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan tentang pilihan hidup: apakah menjalani hidup dengan kemuliaan atau terjerumus dalam kehancuran moral. Penyair juga menegaskan pentingnya tetap berjuang, bahkan di tengah situasi yang sulit.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kerusakan moral dan penderitaan adalah bagian dari setiap zaman, tetapi manusia tetap memiliki pilihan untuk bertindak benar dan menjaga nilai-nilai kebaikan.

Puisi ini juga menunjukkan bahwa kesadaran spiritual dan refleksi diri menjadi kunci untuk menghadapi zaman yang penuh tantangan.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa tegang, gelisah, dan penuh kritik, namun juga mengandung semangat perlawanan dan harapan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat diambil adalah bahwa manusia harus tetap teguh pada nilai kebenaran, berani melawan kejahatan, dan tidak larut dalam kerusakan zaman. Puisi ini juga mengajak pembaca untuk terus berharap dan memperbaiki diri.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji yang kuat dan kontras, antara lain:
  • Imaji visual: dunia yang membusuk, sungai yang menghanyutkan.
  • Imaji gerak: jarum jam yang terus berputar.
  • Imaji suasana: penderitaan dan kehancuran zaman.
  • Imaji simbolik: menjadi “garam” sebagai lambang kebermanfaatan.
Imaji tersebut memperkuat kesan dramatis dalam puisi.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: dunia yang membusuk, menjadi garam.
  • Hiperbola: penggambaran azab dan kerusakan yang berlebihan.
  • Retoris: pertanyaan-pertanyaan yang menggugah pemikiran.
  • Simbolisme: azab sebagai kondisi zaman.
  • Ironi: perbandingan kematian yang bermakna dan yang sia-sia.
Puisi “Zaman Azab” karya Remy Sylado adalah karya yang kuat dalam menyuarakan kritik sosial dan spiritual. Dengan bahasa yang tajam dan penuh makna, puisi ini mengajak pembaca untuk tidak hanya menyadari kerusakan zaman, tetapi juga berani mengambil sikap dan tetap menyalakan harapan di tengah kegelapan.

Puisi Remy Sylado
Puisi: Zaman Azab
Karya: Remy Sylado
© Sepenuhnya. All rights reserved.