Puisi: Ziarah Pahlawan (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "Ziarah Pahlawan" menyoroti perasaan kecewa dan kepahitan atas ketidaksejajaran antara semangat kemerdekaan yang diraih oleh para pahlawan ...
Ziarah Pahlawan

di depan makam seorang pahlawan
hatiku perih tertusuk pengkhianatan
kemerdekaan ternyata hanya bayangan
rakyat kecil melata di republik dagelan

2021

Analisis Puisi:

Puisi "Ziarah Pahlawan" karya Gunoto Saparie menyoroti kepahitan dan kekecewaan terhadap kondisi negara yang tidak sejalan dengan semangat perjuangan pahlawan masa lalu.

Rasa Kecewa akan Kehidupan Sehari-hari: Puisi ini menggambarkan penyesalan dan kecewa terhadap apa yang dialami sekarang oleh rakyat, dihadapkan pada kenyataan bahwa apa yang dicapai oleh para pahlawan kemerdekaan tampaknya hanya menjadi bayangan atau kenangan semata. Perihnya hati dan pengkhianatan yang terasa mencuat ketika kenyataan sekarang tak sejalan dengan semangat perjuangan masa lalu.

Makna Ziarah untuk Melihat Kondisi Terkini: Puisi ini menggunakan "ziarah" sebagai perbandingan, di mana ziarah dalam konteks puisi ini bukan hanya sebagai kunjungan ke makam pahlawan, tetapi juga sebagai refleksi terhadap masa kini. Penulis memberikan gambaran bahwa perjuangan pahlawan belum sepenuhnya dihargai, dan kemerdekaan yang dicapai tidak sepenuhnya memberikan kebebasan dan martabat yang layak bagi rakyat kecil.

Ketidaksejajaran Masa Lalu dan Masa Kini: Puisi ini menyoroti ketimpangan antara semangat perjuangan masa lalu dengan kenyataan yang dihadapi di zaman sekarang. Hal ini tampak dari kondisi rakyat kecil yang tidak merasakan dampak yang seharusnya diraih dari perjuangan pahlawan. Ada rasa kecewa dan kepahitan yang mengemuka, menunjukkan ketidakpuasan akan kondisi sosial-politik yang ada.

Tantangan terhadap Semangat Kemerdekaan: Puisi ini seakan memberikan seruan atau tantangan, mempertanyakan apakah semangat kemerdekaan itu benar-benar terefleksikan dalam kehidupan sehari-hari. Disampaikan dengan nada kekecewaan dan penuh kritik, puisi ini menuntut suatu perubahan dan penghormatan yang lebih besar terhadap semangat perjuangan pahlawan.

Puisi "Ziarah Pahlawan" menyoroti perasaan kecewa dan kepahitan atas ketidaksejajaran antara semangat kemerdekaan yang diraih oleh para pahlawan dengan realitas yang dialami rakyat kecil pada masa kini. Isinya mencerminkan suara kekecewaan akan kenyataan yang tidak sejalan dengan semangat perjuangan masa lalu.

Puisi: Ziarah Pahlawan
Puisi: Ziarah Pahlawan
Karya: Gunoto Saparie


BIODATA GUNOTO SAPARIE

Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.