Puisi: Sajak Bercinta (Karya Dorothea Rosa Herliany)

Puisi “Sajak Bercinta” karya Dorothea Rosa Herliany menghadirkan konsep cinta yang tidak hanya romantis, tetapi juga eksistensial dan reflektif.
Sajak Bercinta

sekarang waktunya buat bercinta, musim dan matahari
tak bersengketa. bunga, kupu-kupu, dan hamparan
rumput-rumput meninggi.

kita telah usai mengucapkan kalimat-kalimat doa. tapi
musim berziarah keburu tiba.

mayat-mayat sudah ditanam amat dalam. para pelayat
telah pulang, dan kita lihat: tanah ini luas dan sunyi.

kitab-kitab sejarah amat tebal dan berdebu buat selalu
dibuka. bacalah kalimat-kalimat pada tanah-tanah
tergores, yang ditulis oleh angin. batu-batu bertuliskan
prasasti. tangan telah amat lelah mencatat peristiwa
demi peristiwa.

sebab, katamu, cinta mendamba kekosongan
yang kekal dan fana!

1994

Sumber: Nikah Ilalang (1995)

Analisis Puisi:

Puisi “Sajak Bercinta” karya Dorothea Rosa Herliany menghadirkan konsep cinta yang tidak hanya romantis, tetapi juga eksistensial dan reflektif. Penyair memadukan unsur kehidupan, kematian, sejarah, dan alam untuk menunjukkan bahwa cinta hadir di antara kekosongan dan kefanaan manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta dalam konteks kehidupan dan kematian. Selain itu, terdapat tema pendukung berupa kefanaan, kesunyian, dan pencarian makna dalam ruang kosong kehidupan.

Puisi ini bercerita tentang dua individu yang berada dalam situasi sunyi setelah peristiwa besar (kematian, kehilangan, atau sejarah yang berlalu). Di tengah kesunyian itu, mereka justru menemukan momen untuk bercinta. Cinta hadir bukan dalam keramaian, melainkan setelah doa, setelah kematian, dan setelah semua orang pergi—di ruang yang kosong dan luas.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • Cinta tidak selalu hadir dalam suasana bahagia, tetapi bisa muncul dalam kesunyian dan kehampaan.
  • “Mayat-mayat sudah ditanam” menunjukkan bahwa cinta hadir setelah kehilangan atau akhir dari sesuatu.
  • “Kitab-kitab sejarah” yang tebal melambangkan bahwa manusia sering terjebak dalam masa lalu, sementara cinta justru hadir di saat kini yang sunyi.
  • “Kalimat pada tanah yang ditulis angin” menyiratkan bahwa makna hidup dan cinta tidak selalu tercatat secara formal, tetapi terasa secara alami.
  • Ungkapan “cinta mendamba kekosongan” menunjukkan bahwa cinta membutuhkan ruang—kekosongan sebagai tempat untuk tumbuh.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa:
  • Sunyi dan kontemplatif.
  • Melankolis namun tenang.
  • Reflektif dengan nuansa eksistensial.

Amanat / Pesan

Pesan yang dapat diambil dari puisi ini antara lain:
  • Cinta sejati tidak bergantung pada situasi luar, tetapi tumbuh dari kesadaran batin.
  • Kehidupan, kematian, dan cinta adalah bagian dari satu siklus yang saling terkait.
  • Jangan terlalu terikat pada masa lalu; makna hidup dapat ditemukan dalam keheningan saat ini.
  • Kekosongan bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan ruang untuk menemukan makna dan cinta.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji yang halus dan simbolik:
  • Imaji visual: “bunga dan kupu-kupu”, “tanah luas dan sunyi”, “prasasti di batu”.
  • Imaji gerak: “angin menulis di tanah”, “musim berziarah”.
  • Imaji perasaan: kesunyian, kelelahan, dan ketenangan batin.
Imaji-imaji tersebut memperkuat nuansa puitis dan reflektif.

Majas

Beberapa majas yang digunakan antara lain:
  • Metafora: cinta sebagai ruang kosong.
  • Personifikasi: angin yang “menulis”, musim yang “berziarah”.
  • Simbolisme: tanah, batu, dan sejarah sebagai lambang waktu dan kehidupan.
  • Paradoks: “kekosongan yang kekal dan fana”.
  • Kontras: antara kehidupan (bercinta) dan kematian (mayat-mayat yang ditanam).
Puisi “Sajak Bercinta” menghadirkan pemahaman cinta yang mendalam dan tidak konvensional. Cinta digambarkan sebagai sesuatu yang tumbuh di tengah kesunyian, setelah kehilangan, dan dalam ruang kosong kehidupan. Dengan bahasa simbolik dan reflektif, penyair mengajak pembaca untuk melihat cinta sebagai bagian dari perjalanan eksistensial manusia—yang berada di antara kefanaan dan keabadian.

Dorothea Rosa Herliany
Puisi: Sajak Bercinta
Karya: Dorothea Rosa Herliany

Biodata Dorothea Rosa Herliany:
  • Dorothea Rosa Herliany lahir pada tanggal 20 Oktober 1963 di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Ia adalah seorang penulis (puisi, cerita pendek, esai, dan novel) yang produktif.
  • Dorothea sudah menulis sejak tahun 1985 dan mengirim tulisannya ke berbagai majalah dan surat kabar, antaranya: Horison, Basis, Kompas, Media Indonesia, Sarinah, Suara Pembaharuan, Mutiara, Citra Yogya, Dewan Sastra (Malaysia), Kalam, Republika, Pelita, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Jawa Pos, dan lain sebagainya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.