Puisi: Sajak Hijau, Putih dan Jingga (Karya Sugiarta Sriwibawa)

Puisi “Sajak Hijau, Putih dan Jingga” karya Sugiarta Sriwibawa menjadi mosaik kontemplatif tentang hidup, waktu, dan perpisahan.
Sajak Hijau, Putih dan Jingga

Senzoku

Sarang burung bisu
Merangkum kabut
Mencengkeram lagu


        Payung

        Payung terkembang
        Angin badai ditantang
        Kabut melayang


Yokohama

Berkaca duka
Pelabuhan terbuka
Kubasuh muka


        Salju

        Pusara bumi
        Putih dalam sedekap
        Terbujur senyap


Ari-cang

Terlena ancaman
Rahim dalam bayang
Boneka sayang


        Kebun Binatang Ueno

        Ria sejenak kera
        Pedihku sandiwara
        Melipur anak


Lumut

Ikan terlena
Mata sisik mutiara
Hijau nirmala


        Hibiya
        
        Sejuta kembar wajah
        Matanya bertanya
        Aku berbaju zirah


Musim Gugur

Bumi yang sahid
Ah, tak kusangka pamit
Daun yang jingga

Tokyo, 1966

Sumber: Garis Putih (1983)

Analisis Puisi:

Puisi “Sajak Hijau, Putih dan Jingga” karya Sugiarta Sriwibawa ditulis di Tokyo pada tahun 1966. Karya ini tersusun dalam fragmen-fragmen pendek yang merujuk pada berbagai lokasi di Jepang seperti Senzoku, Yokohama, dan Hibiya. Struktur puisinya menyerupai rangkaian haiku: padat, sugestif, dan kuat dalam citraan.

Judulnya menegaskan tiga warna—hijau, putih, dan jingga—yang menjadi benang merah simbolik: hijau (kehidupan), putih (kemurnian atau kematian), dan jingga (perpisahan atau musim gugur). Puisi ini menghadirkan lanskap geografis sekaligus lanskap batin.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perenungan eksistensial dalam lanskap asing.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung hening, kontemplatif, dan sesekali muram. Ada momen-momen lembut dan ringan—seperti di Kebun Binatang Ueno—namun tetap dibayangi kesadaran akan kefanaan dan keterasingan. Atmosfernya reflektif dan puitis.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini dapat dipahami sebagai:
  • Kehidupan adalah rangkaian musim yang terus berganti.
  • Dalam perjalanan, manusia berjumpa dengan keindahan sekaligus kefanaan.
  • Keterasingan dapat menjadi ruang untuk mengenal diri lebih dalam.
Puisi ini mengajak pembaca menerima perubahan sebagai bagian dari siklus alami kehidupan.

Puisi “Sajak Hijau, Putih dan Jingga” karya Sugiarta Sriwibawa adalah rangkaian fragmen puitik yang merekam perjalanan batin di Tokyo tahun 1966. Puisi ini menjadi mosaik kontemplatif tentang hidup, waktu, dan perpisahan.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Sajak Hijau, Putih dan Jingga
Karya: Sugiarta Sriwibawa

Biodata Sugiarta Sriwibawa:
  • Sugiarta Sriwibawa lahir di Surakarta, pada tanggal 31 Maret 1932.
© Sepenuhnya. All rights reserved.