Ada Jam Duduk dengan Belnya
ada sebuah meja di hari kesekian mulai
di atasnya perbedaan kecil-kecil
ada sebuah jam berdering
di dalamnya keras bunyinya.
ada sebuah bel
duduk
suatu hari pada jam itu
banyak debu ada diam.
1975
Sumber: Horison (April, 1976)
Analisis Puisi:
Puisi “Ada Jam Duduk dengan Belnya” karya Joss Sarhadi merupakan puisi pendek yang penuh simbol dan kesan absurd. Dengan susunan larik yang sederhana serta penempatan kata yang tidak biasa, puisi ini menghadirkan renungan tentang waktu, kesunyian, dan perubahan dalam kehidupan sehari-hari.
Tema
Tema utama puisi ini adalah waktu, kesunyian, dan perubahan hidup. Selain itu, puisi ini juga menyiratkan tema keterasingan dan rutinitas manusia.
Puisi ini bercerita tentang sebuah ruang sederhana yang berisi meja, jam, dan bel. Benda-benda tersebut tampak diam, namun sebenarnya menyimpan makna tentang perjalanan waktu dan suasana kehidupan yang berubah perlahan.
Jam yang “berdering keras bunyinya” menjadi pusat perhatian, sementara debu yang semakin banyak menunjukkan waktu yang terus berjalan dan meninggalkan kesan sepi. Pada akhir puisi, muncul kalimat “pada jam itu ada diam” yang memberi kesan bahwa di balik bunyi dan rutinitas, sebenarnya terdapat kehampaan atau kesunyian.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini meliputi:
- “meja” → simbol ruang kehidupan atau aktivitas manusia.
- “jam” → simbol waktu yang terus berjalan.
- “bel” → penanda perubahan, peringatan, atau rutinitas.
- “debu” → tanda waktu yang berlalu dan suasana yang terlupakan.
- “perbedaan kecil-kecil mulai berdering” → perubahan kecil dalam hidup yang lama-lama terasa besar.
- “ada diam” → kesunyian batin di balik hiruk-pikuk kehidupan.
Puisi ini menyiratkan bahwa kehidupan manusia dipenuhi rutinitas dan perubahan kecil yang terus berjalan bersama waktu, tetapi pada akhirnya menyisakan kesunyian dan keterasingan.
Suasana dalam Puisi
Suasana yang terasa adalah sunyi, ganjil, dan kontemplatif. Puisi ini juga menghadirkan nuansa hening yang sedikit absurd.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Puisi ini menyampaikan bahwa:
- Waktu terus bergerak meskipun manusia sering terjebak dalam rutinitas yang sama.
- Perubahan kecil dalam hidup dapat memengaruhi suasana batin manusia.
- Di balik keramaian aktivitas, manusia sering menghadapi kesunyian dalam dirinya sendiri.
Imaji
Puisi ini menghadirkan beberapa imaji yang kuat:
- Imaji visual: meja, jam, bel, dan debu.
- Imaji auditif: bunyi jam dan bel yang berdering keras.
- Imaji suasana: ruang sunyi yang dipenuhi benda-benda diam.
- Imaji perasaan: sepi dan keterasingan.
Majas
Beberapa majas yang digunakan:
- Personifikasi: “bel duduk” seolah-olah bel memiliki perilaku manusia.
- Metafora: debu sebagai simbol waktu dan keterlupaan.
- Simbolisme: jam melambangkan waktu, bel melambangkan tanda atau perubahan.
- Paradoks: bunyi dering yang keras tetapi diakhiri dengan “ada diam”.
Melalui puisi “Ada Jam Duduk dengan Belnya”, Joss Sarhadi menghadirkan refleksi sederhana namun mendalam tentang waktu dan kesunyian hidup. Dengan simbol benda-benda sehari-hari, puisi ini menunjukkan bahwa di tengah rutinitas dan perubahan yang terus berlangsung, manusia sering berhadapan dengan kehampaan dan diam dalam dirinya sendiri.
Puisi: Ada Jam Duduk dengan Belnya
Karya: Joss Sarhadi
Biodata Joss Sarhadi:
Nama lengkapnya adalah Joseph Suminto Sarhadi.