Ada Kalanya
Ada kalanya mempersiapkan pesta dengan pedang di pinggang, diam-diam menggenggam seikat bunga dari cawan air mata, irama derap kuda ma dari balik jubah kepedihan.
Setangkup roti dengan lapisan darah di tengah timbunan kata-kata, erangan dan jeritan mendekam bagai magma di balik dada. Taring serigala mengerling di antara bintang-bintang purba.
Indah nian ceceran liur tersembur dari jeruji penjara di atas awan, jelmaan sang dewi yang bertudung hinggap hingga atap hamba sahaya. Ombak yang terkapar sepanjang hidup berkalang tanah seperti sebuah mahkota berhiaskan bunga-bunga kamboja.
Waktu seperti gergasi yang menimbun racun yang manis dari cawan permata.
Ada kalanya nadi dari pembuluh darah membayang keranda di kerumunan kumbang-kumbang. Tumbuh menghambur sepanjang altar persembahan. Ikan-ikan emas dengan lidah berbisa menggeliat saat siuman di tengah pesta.
Surabaya, 2015
Sumber: Burung-Burung Liar Merayah Terbang ke Selatan (2020)
Analisis Puisi:
Puisi “Ada Kalanya” karya Hendro Siswanggono merupakan puisi yang kaya simbol dan imaji, menghadirkan dunia yang penuh kontras antara keindahan dan kengerian. Dengan bahasa yang padat dan metaforis, puisi ini mengajak pembaca memasuki ruang batin yang kompleks—di mana perayaan, penderitaan, dan kematian saling berkelindan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kontradiksi kehidupan antara keindahan dan penderitaan, serta realitas yang tersembunyi di balik tampilan luar.
Puisi ini bercerita tentang berbagai situasi yang tampak indah di permukaan—seperti pesta, bunga, dan mahkota—namun di baliknya tersimpan luka, kekerasan, dan penderitaan. Penyair menggambarkan kehidupan sebagai ruang penuh simbol: pedang berdampingan dengan bunga, roti dilapisi darah, hingga pesta yang menyimpan racun. Semua ini mencerminkan realitas manusia yang tidak pernah sepenuhnya murni atau sederhana.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kehidupan sering kali menyimpan sisi gelap di balik keindahan yang tampak, dan manusia harus mampu melihat lebih dalam untuk memahami kenyataan yang sebenarnya. Keindahan bisa menjadi ilusi yang menutupi penderitaan.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini terasa gelap, intens, dan penuh ketegangan, dengan nuansa surealis yang kuat.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Puisi ini menyampaikan pesan agar manusia tidak mudah terbuai oleh keindahan semu, melainkan berusaha memahami realitas secara utuh, termasuk sisi pahit dan menyakitkan dalam kehidupan.
Imaji
Puisi ini sangat kaya imaji:
- Imaji visual: “pedang di pinggang”, “roti berlapis darah”, “mahkota bunga kamboja”, “jeruji penjara di atas awan”.
- Imaji auditif: “erangan dan jeritan” yang menambah suasana mencekam.
- Imaji perasaan: rasa sakit, ketegangan, dan keanehan yang bercampur.
- Imaji gerak: “menggeliat”, “menghambur” memberikan kesan dinamis.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini:
- Metafora: berbagai simbol seperti “roti berlapis darah” dan “waktu seperti gergasi” untuk menggambarkan realitas yang kompleks.
- Simbolisme: bunga kamboja, pedang, dan pesta sebagai lambang kehidupan, kematian, dan kekuasaan.
- Personifikasi: “waktu menimbun racun” memberi sifat manusia pada konsep abstrak.
- Paradoks: perpaduan antara keindahan dan kengerian dalam satu ruang yang sama.
Puisi “Ada Kalanya” merupakan refleksi mendalam tentang kehidupan yang penuh kontradiksi. Hendro Siswanggono menghadirkan dunia puitis yang tidak nyaman namun jujur, mengajak pembaca untuk melihat lebih jauh dari apa yang tampak, serta memahami bahwa keindahan dan penderitaan sering kali berjalan beriringan.
