Puisi: Angin Negeri Anak Gembala (Karya Iman Budhi Santosa)

Puisi “Angin Negeri Anak Gembala” karya Iman Budhi Santosa menggambarkan kehidupan anak-anak gembala di tanah Jawa yang sederhana, akrab dengan ...
Angin Negeri Anak Gembala

Waktu angin mati, layang-layang kembali kertas
rautan bilah bambu dan benang kehilangan napas
anak-anak gembala pun segera meneriakkan nyanyian sakti
"Cempe-cempe undangna barat gedhe
takopahi duduk tape
yen kurang goleka dhewe..."

Maka, entah dari mana asalnya, angin pun tiba
puluhan layang-layang mendaki
mencari tinggi, menguji musuh
bakal dicampakkan ke negeri jauh
tinggal rangka di pohonan sunyi
atau koyak-moyak dalam perang anak
ketika semua tak bisa memiliki

Seindah itu, sepatuh itu
angin negeri anak gembala ini.
Tak pernah ingkar janji diajak bermain
mengajar daun pohon melambai
mengantar tepung sari bercinta hingga selesai
usai puji sanjung dilantunkan membumbung
hanya dengan tembang tanpa sesaji
hanya dengan hati lapang, mata terang
mulut lidah tak menyimpan kata-kata berduri
"Cempe-cempe undangna barat gedhe
takopahi duduk tape
yen kurang goleka dhewe..."

Anak-anak gembala telanjang dada
tembang, bau keringat dan tangan-tangan kecilmu
telah mengibarkan bumi Jawa
dengan cerdas, di luar sejarah emas yang perkasa
karena restu berkah para raja
tak pernah singgah di ubun-ubun mereka


2006

Sumber: Ziarah Tanah Jawa (2013)
Catatan:
Cempe-cempe undangna barat gedhe (dan seterusnya) adalah tembang anak-anak gembala di Jawa yang artinya: anak-anak kambing panggilkan angin besar, saya beri hadiah air tapai, kalau kurang cari sendiri.

Analisis Puisi:

Puisi “Angin Negeri Anak Gembala” karya Iman Budhi Santosa menggambarkan kehidupan anak-anak gembala di tanah Jawa yang sederhana, akrab dengan alam, dan penuh kepolosan. Melalui permainan layang-layang dan tembang tradisional Jawa, penyair menghadirkan suasana masa kecil yang hangat sekaligus menyimpan kritik sosial yang mendalam.

Puisi ini juga menampilkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan budaya tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehidupan anak-anak desa yang dekat dengan alam dan tradisi Jawa. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kesederhanaan, kebersamaan, dan kemurnian hati masyarakat kecil.

Di balik gambaran permainan layang-layang, penyair menunjukkan bagaimana anak-anak gembala mampu hidup bahagia tanpa kemewahan. Mereka hanya mengandalkan tembang sederhana untuk “memanggil” angin agar layang-layang dapat terbang.

Puisi ini bercerita tentang anak-anak gembala di Jawa yang sedang bermain layang-layang. Ketika angin berhenti bertiup, mereka menyanyikan tembang tradisional:

“Cempe-cempe undangna barat gedhe
takopahi duduk tape
yen kurang goleka dhewe...”

Tembang tersebut dipercaya mampu memanggil angin agar kembali datang. Setelah lagu dinyanyikan, angin pun tiba dan layang-layang kembali terbang tinggi.

Namun, puisi ini tidak sekadar bercerita tentang permainan anak-anak. Penyair juga menunjukkan bahwa anak-anak desa memiliki kebijaksanaan, kedekatan dengan alam, dan ketulusan yang justru sering dilupakan oleh kehidupan modern.

Pada bagian akhir puisi, terdapat kritik sosial mengenai ketimpangan sejarah dan kekuasaan. Anak-anak gembala digambarkan sebagai pihak kecil yang tidak pernah menikmati “restu berkah para raja”, tetapi tetap mampu “mengibarkan bumi Jawa” melalui kerja keras dan ketulusan mereka.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan alam dan budaya tradisional.

Angin dalam puisi dapat dimaknai sebagai simbol keberkahan, harapan, atau kekuatan alam yang datang kepada mereka yang hidup dengan hati bersih. Anak-anak gembala tidak membutuhkan sesaji atau kemewahan untuk memanggil angin. Mereka hanya membutuhkan tembang, hati lapang, dan ketulusan.

Selain itu, puisi ini menyiratkan kritik terhadap sejarah yang lebih sering memuliakan raja dan kekuasaan, sementara rakyat kecil yang sesungguhnya menjaga budaya dan kehidupan justru terlupakan.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang terasa dalam puisi ini antara lain:
  • Hangat dan nostalgis, karena menggambarkan permainan masa kecil di pedesaan.
  • Ceria, terutama saat anak-anak bermain layang-layang bersama.
  • Damai dan alami, melalui gambaran hubungan akrab antara manusia dan alam.
  • Haru dan reflektif, terutama pada bagian akhir puisi yang menyinggung kehidupan rakyat kecil.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Beberapa amanat yang dapat diambil dari puisi ini yaitu:
  • Manusia sebaiknya hidup selaras dengan alam.
  • Kesederhanaan dan ketulusan merupakan nilai yang sangat berharga.
  • Tradisi dan budaya daerah perlu dijaga agar tidak hilang.
Rakyat kecil juga memiliki peran besar dalam menjaga kehidupan dan kebudayaan, meskipun sering tidak tercatat dalam sejarah.

Imaji dalam Puisi

Puisi ini memiliki beberapa jenis imaji, di antaranya:
  • Imaji Visual: Pembaca dapat membayangkan suasana anak-anak bermain layang-layang, daun pohon melambai, dan layang-layang yang terbang tinggi di langit. Contoh: “puluhan layang-layang mendaki”
  • Imaji Auditori: Pembaca seolah dapat mendengar nyanyian anak-anak gembala yang memanggil angin. Contoh: “anak-anak gembala pun segera meneriakkan nyanyian sakti”
  • Imaji Perabaan: Terlihat pada gambaran tubuh anak-anak gembala yang “telanjang dada” dan bau keringat yang terasa sangat dekat dengan kehidupan nyata.

Majas dalam Puisi

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi: Angin digambarkan seperti makhluk hidup yang dapat diajak bermain dan menepati janji. Contoh: “Tak pernah ingkar janji diajak bermain”
  • Metafora: “Angin negeri anak gembala” dapat dimaknai sebagai simbol kehidupan sederhana yang penuh kebebasan dan ketulusan.
  • Hiperbola: Penggunaan ungkapan: “telah mengibarkan bumi Jawa”. Ungkapan tersebut melebih-lebihkan untuk menegaskan besarnya peran anak-anak desa dalam menjaga budaya Jawa.
Puisi “Angin Negeri Anak Gembala” karya Iman Budhi Santosa menghadirkan keindahan kehidupan anak-anak desa yang dekat dengan alam dan budaya tradisional Jawa. Melalui simbol angin, layang-layang, dan tembang rakyat, penyair menyampaikan pesan tentang ketulusan, kebersamaan, serta pentingnya menghargai rakyat kecil yang sering terlupakan dalam sejarah.

Iman Budhi Santosa
Puisi: Angin Negeri Anak Gembala
Karya: Iman Budhi Santosa

Biodata Iman Budhi Santosa:
  • Iman Budhi Santosa pada tanggal 28 Maret 1948 di Kauman, Magetan, Jawa Timur, Indonesia.
  • Iman Budhi Santosa meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2020 (pada usia 72 tahun) di Dipowinatan, Yogyakarta, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.