Puisi: Apa yang Sesungguhnya Harus Kukatakan (Karya Darmanto Jatman)

Puisi “Apa yang Sesungguhnya Harus Kukatakan” karya Darmanto Jatman menggambarkan usaha seseorang untuk memahami kehilangan, kesedihan, dan ...
Apa yang Sesungguhnya
Harus Kukatakan

Lewat jendela kamarku
Aku menjengukmu
"Adakah kau sehat-sehat saja
Seperti waktu aku dulu meninggalkanmu?"

                (Seperti Nuh membuka jendela kepalanya
                Berharap
                "Semoga ada daratan
                dengan bunga-bunga
                serta buah-buah"
                Kami pun sama-sama melepas burung dara)

Dulu
Kalau aku duduk di muka jendela ini
Kuberondongkan seribu tembakan
(Suara tanpa rupa)
Yang menghancurkan nestapa
yang menyergapku
Apabila aku dihukum ibu.

Dan sekarang
Bahkan seribu tambah satu tembakan
Tak mampu melukai duka
yang menyerbuku.

                Sementara perhitungan teliti
                Memunculkan berbagai-bagai ancaman
                Lawan yang tersembunyi
                Serta medan yang berkabut —
                (Namun toh tiada malu-malunya kita berdoa
                "Semoga terjadilah keajaiban
                Semoga terjadilah
                Semoga
                Wahai"
                Sedang kepadamu kukatakan selalu
                "Hidupku adalah keajaiban
                Heran
                Kenapa belum padam-padam juga?!"

————————————

Di bawah pohon-pohon kenari
Di sepanjang bukit-bukit
Kabut berjalan dengan diam-diam
Lalu berbisik:
Siapakah yang mati?
Aku pun urung:
Manusia
Ya
Manusia terbaik abad ini.

                Bah!
                Apakah gunanya aku berbantah-bantah dengan Tuhan
                Toh Ia selalu lebih benar?

Kabut menghampiri jendela
Sia-sia kuberondongkan tembakanku
Satu kali lagi
Sebelum sampai putus asa —
Aku menyaksikan dosaku:
Cinta yang selalu bikin repot orang saja!

                Pertama usul kita:
                "Tuhan
                Harap yang begini-begini
                Kau beri hak hidup juga
                Betapapun terbatasnya"
                Sebab Tuhan sendiri toh tak pernah kesepian
                Sekalipun Ia bujangan

Wah,
Lewat jendela kamarku
Kukirimkan surat kepada-Nya
: Kristus
Seandainya Kau kesasar dalam perjalanan-Mu
Mampirlah ke rumahku
Aku sangat butuh bantuan-Mu
Aku pengin coba-coba menulis pesan
Cintaku
                Yang abadi
                Yang pernah pasi
                Yang manusiawi
Yang bukan lagi jadi milikku kini

Sumber: Horison (Juni, 1971)

Analisis Puisi:

Puisi “Apa yang Sesungguhnya Harus Kukatakan” karya Darmanto Jatman merupakan puisi reflektif yang memadukan unsur spiritual, cinta, dan pergulatan batin manusia. Dengan gaya yang kontemplatif dan penuh simbol, puisi ini menggambarkan usaha seseorang untuk memahami kehilangan, kesedihan, dan hubungannya dengan Tuhan serta cinta yang telah pergi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pergulatan batin manusia dalam menghadapi cinta, kehilangan, dan hubungan spiritual dengan Tuhan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merenungi hidup, cinta, dan kesedihan melalui jendela kamarnya.

Jendela menjadi tempat ia memandang dunia luar sekaligus dunia batinnya sendiri. Penyair mengenang masa lalu, ketika ia masih mampu melawan kesedihan dengan “tembakan” imajiner. Namun kini, duka terasa jauh lebih berat dan sulit dilawan.

Di tengah pergulatan itu, ia mempertanyakan kehidupan, kematian, dan keadilan Tuhan. Penyair bahkan mengirimkan “surat” kepada Kristus sebagai simbol harapan dan pencarian pertolongan spiritual. Pada bagian akhir, puisi menyingkap kesedihan terdalam: cinta yang pernah dimiliki kini telah pergi.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • Manusia sering merasa kecil dan rapuh di hadapan kehidupan serta Tuhan.
  • Cinta dapat menjadi sumber kekuatan sekaligus sumber luka mendalam.
  • Kesedihan tidak selalu dapat diatasi dengan logika atau perlawanan biasa.
  • Ada kerinduan manusia terhadap keajaiban, penghiburan, dan makna spiritual.
Puisi ini juga menunjukkan bahwa iman dan keraguan bisa hadir bersamaan dalam diri manusia.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini sangat beragam, antara lain:
  • Melankolis dan penuh kesedihan.
  • Kontemplatif dan spiritual.
  • Putus asa namun tetap menyimpan harapan.
Perubahan suasana tersebut membuat puisi terasa emosional dan mendalam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat ditangkap antara lain:
  • Manusia perlu tetap memiliki harapan meskipun berada dalam kesedihan.
  • Cinta dan kehilangan adalah bagian dari kehidupan yang membentuk manusia.
  • Dalam kondisi sulit, manusia sering kembali mencari makna spiritual dan hubungan dengan Tuhan.
  • Kesadaran atas kelemahan diri dapat menjadi awal untuk memahami kehidupan dengan lebih bijak.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji yang kuat, seperti:
  • Imaji visual: jendela kamar, kabut, pohon kenari, bukit-bukit.
  • Imaji pendengaran: suara tembakan, bisikan kabut.
  • Imaji suasana: kesunyian, ancaman, doa, dan harapan.
  • Imaji simbolik: burung dara, surat kepada Kristus, kabut, dan jendela.
Imaji tersebut memperkuat suasana batin yang kompleks.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Alusi: kisah Nabi Nuh dan burung dara, serta Kristus.
  • Personifikasi: kabut yang berjalan dan berbisik.
  • Metafora: “tembakan” sebagai simbol usaha melawan kesedihan.
  • Ironi: hidup disebut “keajaiban”, tetapi penuh penderitaan.
  • Hiperbola: “seribu tambah satu tembakan”.
  • Simbolisme: jendela sebagai batas antara dunia luar dan batin.
Puisi “Apa yang Sesungguhnya Harus Kukatakan” merupakan renungan mendalam tentang cinta, kehilangan, dan pencarian makna hidup di hadapan Tuhan. Darmanto Jatman menghadirkan puisi yang kaya emosi dan simbol spiritual, sehingga pembaca diajak masuk ke dalam kegelisahan manusia yang terus mencari penghiburan dan jawaban atas penderitaannya.

Puisi Darmanto Jatman
Puisi: Apa yang Sesungguhnya Harus Kukatakan
Karya: Darmanto Jatman

Biodata Darmanto Jatman:
  • Darmanto Jatman lahir pada tanggal 16 Agustus 1942 di Jakarta.
  • Darmanto Jatman meninggal dunia pada tanggal 13 Januari 2018 (pada usia 75) di Semarang, Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.