Puisi: Bangkiriang (Karya Ama Achmad)

Puisi “Bangkiriang” karya Ama Achmad menggambarkan benturan antara tradisi dan modernitas yang mengancam kehidupan masyarakat serta warisan budaya ...

Bangkiriang

Berapa lama usia kegaduhan?
Kita sering bertanya-tanya tentang itu,
nasib Maleo yang kehilangan rumah
dan Tumpe yang kekurangan telur.

Mungkin kita hanya bisa menangis untuk hantaran
yang tak seberapa setiap kali perahu berlayar menuju
keraton. Sedang Tomundo dan empat Bosanyo
tak pernah menerima kesedihan.

Tanah adat yang tabah hanya dongeng yang basi.
Sebab zaman tiba dengan gagah di Bangkiriang bersama
mesin-mesin bersuara guruh membungkam teriakan anak Banggai.

Tapi selama laut masih melayarkan Tumpe hingga jauh,
Bangkiriang akan bertahan menjadi rumah untuk masa lalu.

2016

Sumber: Keterampilan Membaca Laut (Gramedia Pustaka Utama, 2019)

Analisis Puisi:

Puisi “Bangkiriang” karya Ama Achmad merupakan puisi yang memadukan kritik sosial, keresahan budaya, dan kecintaan terhadap tanah adat. Dengan menghadirkan simbol-simbol lokal seperti Maleo, Tumpe, dan Bangkiriang, penyair menggambarkan benturan antara tradisi dan modernitas yang mengancam kehidupan masyarakat serta warisan budaya mereka.

Tema

Tema utama puisi ini adalah hilangnya ruang hidup dan identitas budaya akibat perubahan zaman. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang perlawanan ingatan dan ketahanan tradisi lokal.

Puisi ini bercerita tentang kegelisahan masyarakat terhadap perubahan yang mengancam tanah adat dan kehidupan tradisional. Penyair menyinggung nasib burung Maleo yang kehilangan habitat dan tradisi Tumpe yang mulai kekurangan makna atau sumber kehidupan.

Masuknya “mesin-mesin bersuara guruh” ke Bangkiriang menjadi simbol datangnya modernisasi yang membungkam suara masyarakat lokal. Di tengah perubahan itu, masyarakat hanya mampu menyaksikan dan merasakan kehilangan. Namun, selama laut masih membawa tradisi Tumpe, Bangkiriang diyakini tetap akan menjadi rumah bagi kenangan dan masa lalu.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • Modernisasi sering membawa dampak buruk bagi budaya lokal dan lingkungan hidup.
  • Tradisi dan tanah adat perlahan terpinggirkan oleh kekuatan ekonomi dan pembangunan.
  • Kehilangan budaya bukan hanya kehilangan benda atau tempat, tetapi juga kehilangan identitas kolektif masyarakat.
  • Kenangan dan tradisi tetap dapat bertahan selama masih diwariskan dan diingat oleh masyarakatnya.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa gelisah, sedih, dan reflektif. Di balik kesedihan itu, terdapat sedikit nuansa harapan terhadap keberlangsungan tradisi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini antara lain:
  • Manusia perlu menjaga tanah adat, budaya, dan lingkungan agar tidak hilang oleh arus modernisasi.
  • Tradisi lokal merupakan bagian penting dari identitas masyarakat yang harus dihormati dan dilestarikan.
  • Kemajuan zaman seharusnya tidak membungkam suara masyarakat adat dan alam.
  • Ingatan kolektif dan budaya dapat menjadi bentuk perlawanan terhadap kepunahan identitas.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji budaya dan alam, seperti:
  • Imaji visual: “Maleo yang kehilangan rumah”, “perahu berlayar menuju keraton”, “mesin-mesin bersuara guruh”, “laut melayarkan Tumpe”.
  • Imaji auditif: “mesin-mesin bersuara guruh”, “teriakan anak Banggai”.
  • Imaji suasana: kesedihan tanah adat dan tekanan perubahan zaman.
  • Imaji gerak: “perahu berlayar”, “laut melayarkan Tumpe”.
Imaji tersebut memperkuat nuansa kehilangan sekaligus kedekatan dengan budaya lokal.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi: “zaman tiba dengan gagah di Bangkiriang”.
  • Metafora: “mesin-mesin bersuara guruh” sebagai simbol modernisasi yang keras dan mengancam.
  • Simbolisme: Maleo, Tumpe, laut, dan Bangkiriang sebagai lambang budaya dan identitas lokal.
  • Ironi: “tanah adat yang tabah hanya dongeng yang basi”.
  • Hiperbola: “membungkam teriakan anak Banggai” untuk menegaskan tekanan perubahan zaman.
Puisi “Bangkiriang” menghadirkan renungan sosial dan budaya tentang ancaman modernisasi terhadap identitas lokal. Ama Achmad menggunakan simbol-simbol daerah dan citra alam untuk menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan bagian hidup masyarakat yang harus dijaga. Puisi ini menjadi suara kegelisahan sekaligus harapan agar tanah adat dan tradisi tidak hilang ditelan zaman.

Ama Achmad
Puisi: Bangkiriang
Karya: Ama Achmad

Biodata Ama Achmad:
  • Ama Achmad lahir pada tanggal 3 September 1981 di Luwuk, Banggai, Sulawesi Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.