Puisi: Berakhirtahunnya Orang Karangkemiri (Karya Badruddin Emce)

Puisi “Berakhirtahunnya Orang Karangkemiri” karya Badruddin Emce menunjukkan bahwa manusia sering membawa rasa takut dan kegelisahan bahkan dalam ...
Berakhirtahunnya Orang Karangkemiri
(Hermann Affandi)

Pikiranmu berdiri jauh
dari jalan besar.
Ada hitam di sana,
lebih hitam dari batu kali.

Di atasnya mega corengmoreng cahaya.

Lengking semayup jaman!
Mirip jantung sang ibu
Sisa bambu merumpun
Guncang pula pinggirnya.

Mungkin seperti saat-saat
Pasirluhur hendak mulai.

Tak ada meja makan malam itu!
Hanya lesehan beberapa orang,
Bercakap-cakap di ruang tamu.

Dan sejengkal sawah teramat purba
Melontar ke halaman

Warna-warni kesal
Sepanjang tahun bintang.

Pagi-pagi sekali!
Ya, pagi sekali –
Seekor anjing coklat
Simpuh di sisi gang,
Perutnya rapat
Ke tembok pagar kebun.

Pun tidak menyalak.
Tapi aku tetap saja merapal mantra ketika lewat.

1994/1995

Sumber: Diksi Para Pendendam (2012)

Analisis Puisi:

Puisi “Berakhirtahunnya Orang Karangkemiri” karya Badruddin Emce merupakan puisi yang menghadirkan suasana kampung, kenangan, dan kegelisahan sosial melalui gambaran sederhana namun penuh simbol. Penyair memotret kehidupan masyarakat kecil dengan nuansa muram dan reflektif, terutama menjelang pergantian waktu atau akhir tahun.

Melalui latar Karangkemiri, Stasiun Purwokerto, sawah, dan gang kampung, puisi ini membangun suasana pedesaan yang akrab sekaligus menyimpan rasa cemas dan keterasingan. Puisi ini terasa seperti potret kehidupan rakyat biasa yang hidup di tengah perubahan zaman.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehidupan masyarakat kecil dan kegelisahan hidup. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kenangan kampung halaman, perubahan zaman, dan suasana batin manusia di tengah kehidupan sederhana.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan masyarakat kecil sering berjalan dalam kesunyian dan ketidakpastian, jauh dari gemerlap kehidupan modern.

Karangkemiri dapat dimaknai sebagai simbol kampung atau ruang batin yang tertinggal oleh perubahan zaman. Gambaran “hitam lebih hitam dari batu kali” menunjukkan suasana hidup yang keras dan penuh beban.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa manusia sering menyimpan kecemasan yang samar, bahkan terhadap hal-hal kecil dan sederhana di sekitarnya.

Selain itu, suasana akhir tahun dalam puisi bukan digambarkan sebagai perayaan, melainkan sebagai waktu untuk merenungkan kelelahan hidup.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa muram, sunyi, dan reflektif. Pembaca dapat merasakan kehidupan kampung yang tenang tetapi menyimpan kegelisahan.

Di beberapa bagian, suasana juga terasa mistis dan cemas, terutama pada kemunculan anjing coklat dan tindakan merapal mantra.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa kehidupan sederhana masyarakat kecil memiliki pergulatan dan kesedihannya sendiri yang sering tidak terlihat.

Puisi ini juga mengajak pembaca untuk lebih peka terhadap perubahan zaman, kenangan kampung halaman, dan kondisi batin manusia yang hidup dalam kesunyian.

Selain itu, puisi ini menunjukkan bahwa manusia sering membawa rasa takut dan kegelisahan bahkan dalam kehidupan sehari-hari yang tampak biasa.

Imaji dalam Puisi

Puisi ini memiliki banyak imaji yang kuat, antara lain:

Imaji visual, misalnya:

“lebih hitam dari batu kali”
“seekor anjing coklat simpuh di sisi gang”

Pembaca dapat membayangkan suasana kampung yang suram dan sunyi.

Imaji pendengaran, misalnya:

“Lengking semayup jaman!”

Larik tersebut menghadirkan suara samar yang memberi kesan nostalgia dan kegelisahan.

Imaji gerak, misalnya:

“Sisa bambu merumpun guncang pula pinggirnya”

Pembaca dapat membayangkan rumpun bambu yang bergerak tertiup angin.

Imaji perasaan, tampak pada:

“aku tetap saja merapal mantra ketika lewat”

Ungkapan tersebut menghadirkan rasa takut dan cemas.

Majas dalam Puisi

Beberapa majas yang terdapat dalam puisi ini antara lain:

Majas metafora, pada larik:

“Lengking semayup jaman”

Zaman digambarkan memiliki suara lengkingan yang menyiratkan perubahan dan kegelisahan.

Majas personifikasi, pada larik:

“sawah teramat purba melontar ke halaman warna-warni kesal”

Sawah digambarkan seolah dapat melemparkan rasa kesal.

Majas simile, pada larik:

“Mirip jantung sang ibu”

Perbandingan ini memperkuat nuansa emosional dan kehidupan.

Majas simbolik, pada penggunaan:

“anjing coklat”, “jalan besar”, dan “stasiun”

Semua simbol tersebut menggambarkan kecemasan, perjalanan hidup, dan perubahan zaman.

Majas hiperbola, pada larik:

“lebih hitam dari batu kali”

Ungkapan tersebut mempertegas suasana muram dalam puisi.

Puisi “Berakhirtahunnya Orang Karangkemiri” karya Badruddin Emce merupakan puisi reflektif yang menggambarkan kehidupan masyarakat kecil dengan suasana sunyi dan penuh kegelisahan. Melalui simbol-simbol kampung, sawah, stasiun, dan seekor anjing di gang sempit, penyair menghadirkan potret kehidupan yang sederhana tetapi menyimpan kecemasan mendalam. Puisi ini mengajak pembaca merenungkan perubahan zaman, kenangan kampung halaman, dan pergulatan batin manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Badruddin Emce
Puisi: Berakhirtahunnya Orang Karangkemiri
Karya: Badruddin Emce

Biodata Badruddin Emce:
  • Badruddin Emce lahir di Kroya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada tanggal 5 Juli 1962.
© Sepenuhnya. All rights reserved.