Puisi: Beri Aku (Karya Rusli Marzuki Saria)

Puisi “Beri Aku” karya Rusli Marzuki Saria menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu terletak pada hal yang besar, melainkan pada hal-hal ...
Beri Aku

Beri aku cinta yang sederhana, sayang
Cinta yang tergantung di daun-daun
Cinta yang menyembul di runcing-runcing ilalang
Cinta yang mengalir di sungai-sungai gunung

Beri aku senyum yang sederhana, sayang
Senyum perawan yang bergayut awan di lembah
Senyum hutan-hutan tegalan yang telanjang
Senyum ladang-ladang harum dari jagung bakar merkah

Beri aku kata-kata sederhana, sayang
Kata-kata yang keluar dari mulut petani sesudah panen
Kata-kata celoteh nelayan dari laut sesudah subuh
Kata-kata ajaib dari tukang sadap nira yang berbisa

Beri aku pikiran kecil yang bisa dimengerti semua orang, sayang  
Pikiran yang tidak berganda, tapi jujur tanpa apa-apa
Pikiran yang lahir di mata-air lembah gunung
Pikiran yang dilahirkan satu tambah satu hanya dua

Beri aku kebutuhan yang sederhana, sayang
Kebutuhan yang wajar, tidak usah berlebih-lebih
Kebutuhan manusiawi sedikit reliji alam yang ramah
Kebutuhan orang-orang biasa dalam kerja

1969

Sumber: Parewa (1998)

Analisis Puisi:

Puisi “Beri Aku” karya Rusli Marzuki Saria merupakan ungkapan kerinduan akan kesederhanaan dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan repetisi yang kuat pada frasa “beri aku”, penyair menegaskan keinginannya untuk kembali pada nilai-nilai yang alami, jujur, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesederhanaan hidup dan kejujuran dalam cinta, pikiran, serta kebutuhan manusia. Penyair menolak kerumitan dan kepalsuan yang sering hadir dalam kehidupan modern.

Puisi ini bercerita tentang permohonan seseorang kepada orang yang dicintainya (dan juga kepada kehidupan) untuk mendapatkan hal-hal yang sederhana: cinta, senyum, kata-kata, pikiran, dan kebutuhan hidup yang apa adanya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kesederhanaan dan kealamian hidup. Penyair mengkritik kecenderungan manusia yang sering mencari sesuatu yang berlebihan dan melupakan nilai-nilai dasar kehidupan.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa hangat, tulus, dan menenangkan. Ada nuansa kedamaian yang lahir dari kesederhanaan yang diinginkan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat diambil adalah bahwa manusia sebaiknya kembali pada kesederhanaan dalam menjalani hidup—baik dalam mencintai, berpikir, berbicara, maupun memenuhi kebutuhan. Kejujuran dan kesahajaan menjadi kunci kebahagiaan.

Imaji

Puisi ini sangat kaya akan imaji yang dekat dengan alam dan kehidupan sehari-hari, antara lain:
  • Imaji visual: “daun-daun”, “ilalang”, “sungai gunung”, “ladang jagung”.
  • Imaji perasaan: cinta dan senyum yang sederhana.
  • Imaji kehidupan: petani, nelayan, dan tukang sadap nira.
Imaji-imaji ini memperkuat kesan natural dan membumi.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Repetisi: pengulangan frasa “beri aku” untuk menegaskan permohonan.
  • Metafora: “cinta yang tergantung di daun-daun” sebagai simbol kesederhanaan.
  • Personifikasi: unsur alam yang digambarkan seolah hidup.
  • Simbolisme: alam dan profesi sederhana sebagai lambang kejujuran hidup.
Puisi “Beri Aku” karya Rusli Marzuki Saria adalah refleksi mendalam tentang pentingnya kesederhanaan dalam kehidupan. Melalui bahasa yang puitis dan imaji yang membumi, penyair mengajak pembaca untuk kembali pada nilai-nilai dasar yang jujur dan alami. Puisi ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu terletak pada hal yang besar, melainkan pada hal-hal sederhana yang sering terlupakan.

Rusli Marzuki Saria
Puisi: Beri Aku
Karya: Rusli Marzuki Saria

Biodata Rusli Marzuki Saria:
  • Rusli Marzuki Saria lahir pada tanggal 26 Februari 1936 di Kamang, Bukittinggi.
© Sepenuhnya. All rights reserved.