Puisi: Beri Aku Tambo (Karya Rusli Marzuki Saria)

Puisi ini adalah kritik terhadap cara pandang sejarah serta kerinduan pada narasi masa lalu yang lebih hidup dan bermakna. Penyair menekankan ...
Beri Aku Tambo
Jangan Sejarah

Aku tak tahu apa nasib Imbang Jaya
setelah pergumulan malam
Sang puteri rait entah ke mana
di abad abad yang tenggelam
 
Beri aku Tambo
jangan sejarah
Karena yang pertama ada riak menjarah
sedang yang kedua sepi dari Hero
 
Beri aku Tambo
jangan Sejarah
Aku ingin tuak penuh ragi
dan tidak bangkai bangkai yang menyerah!

1978

Sumber: Sembilu Darah (1995)

Analisis Puisi:

Puisi “Beri Aku Tambo, Jangan Sejarah” karya Rusli Marzuki Saria menghadirkan perbedaan tajam antara “tambo” dan “sejarah”. Penyair menggunakan dua konsep tersebut sebagai simbol untuk menyoroti cara manusia memahami masa lalu. Dengan bahasa yang tegas dan simbolik, puisi ini mengandung kritik terhadap sejarah yang kaku dan kehilangan ruh kepahlawanan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kritik terhadap cara pandang sejarah serta kerinduan pada narasi masa lalu yang lebih hidup dan bermakna. Penyair menekankan pentingnya semangat, bukan sekadar catatan fakta.

Puisi ini bercerita tentang keinginan penyair untuk memahami masa lalu melalui “tambo” (cerita tradisional yang hidup), bukan melalui sejarah formal yang dianggap kering. Ia menyinggung tokoh dan peristiwa yang seolah tenggelam dalam waktu, lalu membandingkannya dengan cara penulisan sejarah yang kehilangan makna emosional.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa sejarah yang hanya berisi fakta sering kali kehilangan jiwa dan semangat manusia di dalamnya. Sebaliknya, “tambo” melambangkan kisah yang lebih hidup, penuh nilai, dan mampu menghidupkan kembali semangat heroik.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa kritis, penuh semangat, dan sedikit memberontak. Ada dorongan kuat untuk menolak sesuatu yang dianggap kaku dan tidak bermakna.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat diambil adalah bahwa dalam memahami masa lalu, manusia tidak hanya membutuhkan fakta, tetapi juga nilai, makna, dan semangat yang terkandung di dalamnya. Sejarah seharusnya tidak kehilangan sisi kemanusiaannya.

Imaji

Puisi ini menghadirkan beberapa imaji yang kuat, antara lain:
  • Imaji visual: “abad-abad yang tenggelam”, “bangkai-bangkai yang menyerah”.
  • Imaji rasa/indra: “tuak penuh ragi” (memberi kesan hidup, fermentasi, energi).
Imaji tersebut memperkuat kontras antara kehidupan dan kematian makna.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: “tambo” sebagai simbol kisah hidup, “sejarah” sebagai simbol kekakuan.
  • Antitesis: perlawanan antara “tambo” dan “sejarah”.
  • Simbolisme: “tuak penuh ragi” sebagai lambang kehidupan dan semangat, “bangkai-bangkai” sebagai lambang kekalahan atau kepasifan.
  • Repetisi: pengulangan frasa “Beri aku Tambo, jangan sejarah” untuk menegaskan gagasan utama.
Puisi “Beri Aku Tambo, Jangan Sejarah” karya Rusli Marzuki Saria merupakan kritik tajam terhadap cara manusia memahami masa lalu. Penyair menegaskan bahwa kisah yang hidup dan penuh makna lebih penting daripada sekadar catatan sejarah yang kering. Melalui simbol-simbol yang kuat, puisi ini mengajak pembaca untuk melihat kembali bagaimana nilai, semangat, dan kemanusiaan seharusnya menjadi bagian dari setiap narasi masa lalu.

Rusli Marzuki Saria
Puisi: Beri Aku Tambo
Karya: Rusli Marzuki Saria

Biodata Rusli Marzuki Saria:
  • Rusli Marzuki Saria lahir pada tanggal 26 Februari 1936 di Kamang, Bukittinggi.
© Sepenuhnya. All rights reserved.