Puisi: Birahi (Karya Landung Simatupang)

Puisi “Birahi” karya Landung Simatupang menggambarkan hubungan cinta dan hasrat antara laki-laki dan perempuan dengan bahasa yang puitis dan simbolis.

Birahi


Dengan tulus jiwa raga
lelaki itu menyimakmu
Gaun merah jambu, Eva,
membungkus tubuhmu
Lelaki itu mabuk memelukmu
yang makin merah jambu
setelah terkelupas gaun itu
Berdua kalian hasratkan
menyelam telaga warisan
Berdua kalian setubuhi kehidupan
Kalian senyawai lagi
ruh langit dan bumi
Maka mega menghamburkan air sakti
menghamilkan palung kali
Dan bulir-bulir padi
Menggenggam firdaus kembali

1985

Sumber: Sambil Jalan (1999)

Analisis Puisi:

Puisi “Birahi” karya Landung Simatupang menggambarkan hubungan cinta dan hasrat antara laki-laki dan perempuan dengan bahasa yang puitis dan simbolis. Walaupun mengangkat tema birahi atau hasrat tubuh, puisi ini tidak hanya berbicara tentang hubungan fisik, tetapi juga tentang kesatuan manusia dengan alam dan kehidupan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta, hasrat, dan kesatuan kehidupan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang penciptaan, kesuburan, dan keharmonisan antara manusia dengan alam semesta.

Puisi ini bercerita tentang dua insan yang dipenuhi rasa cinta dan hasrat. Seorang lelaki memandang perempuan bernama Eva dengan penuh kekaguman dan ketulusan.

Bagian:

“Lelaki itu mabuk memelukmu”

menggambarkan kuatnya rasa cinta dan gairah yang dirasakan lelaki.

Ketika keduanya bersatu, hubungan mereka digambarkan bukan sekadar hubungan fisik, tetapi juga menjadi simbol lahirnya kehidupan baru. Hal itu terlihat dalam bait:

“Berdua kalian setubuhi kehidupan”

Hubungan cinta mereka kemudian dihubungkan dengan alam yang menjadi subur, seperti hujan yang turun dan padi yang kembali tumbuh.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa cinta dan hasrat manusia merupakan bagian alami dari kehidupan dan penciptaan. Penyair menggambarkan hubungan laki-laki dan perempuan sebagai sesuatu yang sakral serta menyatu dengan proses kehidupan alam.

Nama “Eva” kemungkinan merujuk pada simbol perempuan pertama dalam kisah penciptaan manusia. Dengan demikian, puisi ini dapat dimaknai sebagai gambaran tentang awal kehidupan, kesuburan, dan keberlanjutan manusia.

Selain itu, puisi ini menyiratkan bahwa cinta sejati tidak hanya bersifat jasmani, tetapi juga menghadirkan harmoni spiritual dan kehidupan baru.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa romantis, hangat, dan penuh gairah. Di beberapa bagian, suasana juga terasa sakral karena hubungan cinta digambarkan selaras dengan langit, bumi, hujan, dan tumbuhnya padi.

Bagian akhir puisi menghadirkan suasana penuh harapan dan kesuburan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa cinta dan kasih sayang merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Hubungan antar manusia seharusnya dilandasi ketulusan dan keharmonisan.

Puisi ini juga mengajarkan bahwa manusia dan alam memiliki keterkaitan erat. Kehidupan yang harmonis dapat melahirkan kesuburan, kedamaian, dan kebahagiaan.

Imaji

Beberapa imaji yang terdapat dalam puisi ini antara lain:
  • Imaji Penglihatan: “Gaun merah jambu”, “mega menghamburkan air sakti”. Pembaca dapat membayangkan warna dan suasana alam dengan jelas.
  • Imaji Perabaan: “mabuk memelukmu”. Menghadirkan kesan sentuhan dan kedekatan fisik.
  • Imaji Gerak: “menyelam telaga warisan”. Memberikan gambaran aktivitas yang dinamis.
  • Imaji Alam: “bulir-bulir padi/ Menggenggam firdaus kembali”. Menghadirkan gambaran kesuburan dan kehidupan.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora:  “setubuhi kehidupan” menjadi simbol penciptaan dan lahirnya kehidupan baru.
  • Personifikasi: “bulir-bulir padi / Menggenggam firdaus kembali”. Padi digambarkan seolah dapat menggenggam seperti manusia.
  • Simbolisme: “Eva” melambangkan perempuan, asal kehidupan, atau sosok ibu kehidupan.
  • Hiperbola: “mega menghamburkan air sakti” memberikan kesan besar dan magis terhadap turunnya hujan serta kesuburan alam.
Puisi “Birahi” karya Landung Simatupang bukan sekadar membahas hasrat manusia, tetapi juga menggambarkan hubungan cinta yang menyatu dengan alam dan kehidupan. Dengan bahasa simbolis yang indah, puisi ini menghadirkan makna tentang kesuburan, penciptaan, dan harmoni antara manusia dengan semesta.

Landung Simatupang
Puisi: Birahi
Karya: Landung Simatupang

Biodata Landung Simatupang:
  • Yohanes Rusyanto Landung Laksono Simatuandung Simatupang lahir pada tanggal 25 November 1951 di Yogyakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.