Puisi: Bla Bla (Karya Darmanto Jatman)

Puisi “Bla Bla” karya Darmanto Jatman menggambarkan kehidupan kota modern yang sibuk, bising, dan kehilangan makna kemanusiaan di tengah arus ...
Bla Bla

kayak rayap orang-orang london ngerubung liang-liang subway
pating kruntel madhumani, mombasa, guillermo, sontoloyo
dan mereka terus juga nyeloteh: yes sir
bla bla!
no sir
bla bla!
orang-orang london terus juga gemrenggeng
rambut-rambut pirang, kepala-kepala botak, kribo-kribo
sari, sweater, jacket, jumper
berdesak-desakan.
bla bla!
terus juga mereka merayapi
pintu-pintu, escalator-escalator, tangga-tangga
dengan sepatu booty, lenvin, bally, cardin
bla bla!

sementara angin menggoyangkan daunan
di highbury barn
kabut menyembunyikan bola
dari kaki-kaki yang kemudu-kudu nendang
dan bunga-bunga untuk para wreda
hilang dari halaman-halaman gereja
(om rep sidem permanem)
bla! bla!
madhumani, ovum, jelly, kontrasepsi
daging, kapas, kulit
sampah yang didorong lori dari highbury
ke euston, oxford, piccadilly
sampah
cuma
junk junk!
rubish
cuma
pah pah!
cuma
daging
cuma
kulit
cuma
tulang
bla! bla!

sampai soho
sirna jadi sunya ruri
boom o ya ta ta!

Sumber: Golf untuk Rakyat (1994)

Analisis Puisi:

Puisi “Bla Bla” karya Darmanto Jatman merupakan puisi yang eksperimental, satiris, dan penuh permainan bunyi. Melalui campuran bahasa Indonesia, Jawa, dan Inggris, puisi ini menggambarkan kehidupan kota modern yang sibuk, bising, dan kehilangan makna kemanusiaan di tengah arus urbanisasi dan konsumsi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kritik terhadap kehidupan modern yang ramai tetapi kosong makna. Selain itu, terdapat tema tentang urbanisasi, konsumerisme, dan keterasingan manusia di kota besar.

Puisi ini bercerita tentang keramaian kehidupan kota London, terutama di ruang-ruang publik seperti subway, jalan, dan pusat kota. Orang-orang digambarkan bergerak seperti rayap, berdesakan, terus berbicara (“bla bla”), dan menjalani rutinitas mekanis.

Di tengah keramaian itu, puisi menampilkan berbagai simbol modernitas: mode pakaian, merek sepatu, sampah kota, hingga budaya konsumsi. Namun, semua itu terasa hampa. Pada akhirnya, manusia hanya tersisa sebagai “daging, kulit, tulang”, sebelum lenyap dalam kesunyian.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini meliputi:
  • “orang-orang london seperti rayap” → manusia modern yang bergerak massal tanpa arah spiritual.
  • “bla bla” → simbol kebisingan komunikasi yang kehilangan makna.
  • “subway, escalator, tangga” → rutinitas hidup urban yang mekanis.
  • “junk junk, rubish” → kritik terhadap budaya konsumsi dan limbah peradaban modern.
  • “cuma daging, kulit, tulang” → manusia direduksi menjadi tubuh fisik semata.
  • “sirna jadi sunya ruri” → akhir dari hiruk-pikuk menuju kehampaan atau kekosongan eksistensial.
Puisi ini menyiratkan bahwa peradaban modern yang penuh hiruk-pikuk justru membuat manusia kehilangan kedalaman makna hidup.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang terasa adalah ramai, kacau, satiris, dan absurd. Di balik kebisingan itu terdapat nuansa hampa dan ironis.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan bahwa:
  • Kehidupan modern yang terlalu materialistis dapat membuat manusia kehilangan jati diri dan makna kemanusiaannya.
  • Manusia perlu lebih sadar terhadap arah hidupnya, agar tidak terjebak dalam rutinitas kosong dan kebisingan semata.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji urban dan bunyi:
  • Imaji visual: subway, escalator, kabut, jalan kota London.
  • Imaji auditif: “bla bla”, “pah pah”, “boom o ya ta ta”.
  • Imaji gerak: berdesakan, merayapi, mendorong lori.
  • Imaji suasana: kota sibuk, penuh sesak, dan bising.

Majas

Beberapa majas yang digunakan:
  • Simile (perumpamaan): “kayak rayap orang-orang london…”.
  • Onomatope: “bla bla”, “pah pah”, “boom o ya ta ta”.
  • Satire: kritik terhadap masyarakat modern dan budaya konsumsi.
  • Repetisi: pengulangan “bla bla” untuk menegaskan kebisingan tanpa makna.
  • Metafora: manusia sebagai rayap atau sampah kota.
Melalui puisi “Bla Bla”, Darmanto Jatman menghadirkan kritik tajam terhadap kehidupan modern yang dipenuhi kebisingan, rutinitas, dan konsumsi tanpa makna. Dengan gaya eksperimental dan permainan bunyi yang unik, puisi ini menunjukkan bahwa di balik keramaian kota besar, manusia bisa kehilangan arah, identitas, bahkan makna keberadaannya sendiri.

Puisi Darmanto Jatman
Puisi: Bla Bla
Karya: Darmanto Jatman

Biodata Darmanto Jatman:
  • Darmanto Jatman lahir pada tanggal 16 Agustus 1942 di Jakarta.
  • Darmanto Jatman meninggal dunia pada tanggal 13 Januari 2018 (pada usia 75) di Semarang, Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.