Bukan Milik Kita Lagi
Ekayandri, rasakan geliat akar rumput pada telapak kakimu
Pohon trembesi yang senantiasa menyerap udara buruk
Dengan tulus akan meluruhkan daun-daunnya yang menua
Menjadi humus. Lalu dari rahim waktu yang gembur
Bayi-bayi melambaikan tangannya ke udara
Mungkin cintamu masih terselip di antara jalinan ari-ari
Dan gumpal darah. Tapi bumi ini sudah bukan milik kita lagi
2014
Sumber: Berguru kepada Rindu (2017)
Analisis Puisi:
Puisi “Bukan Milik Kita Lagi” karya Acep Zamzam Noor menghadirkan perenungan mendalam tentang hubungan manusia dengan alam, waktu, dan kehidupan. Dengan bahasa yang puitis dan simbol-simbol alam yang kuat, penyair menyampaikan kesadaran akan perubahan, regenerasi, dan keterbatasan kepemilikan manusia atas dunia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kefanaan hidup dan hubungan manusia dengan alam serta waktu. Puisi ini menekankan bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari siklus kehidupan yang terus berlangsung.
menegaskan pentingnya kesadaran, keikhlasan, dan harmoni dengan alam dalam menjalani kehidupan.ajakan untuk merasakan kehidupan melalui alam, seperti akar rumput dan pohon trembesi yang terus berproses. Di sisi lain, puisi ini juga menggambarkan kelahiran kehidupan baru, serta kesadaran bahwa dunia ini akan terus berlanjut meskipun manusia tidak lagi memilikinya.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan bersifat siklik dan manusia tidak memiliki kendali penuh atas dunia. Segala sesuatu akan kembali ke alam, dan generasi baru akan menggantikan yang lama. Pernyataan “bumi ini sudah bukan milik kita lagi” menegaskan kesadaran akan keterbatasan manusia.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini cenderung hening, reflektif, dan sedikit sendu, namun juga mengandung nuansa harapan melalui kelahiran kehidupan baru.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat diambil adalah bahwa manusia perlu menyadari keterbatasannya dan hidup selaras dengan alam. Kehidupan bukan tentang kepemilikan, melainkan tentang keberlanjutan dan regenerasi.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji yang kuat, antara lain:
- Imaji visual: “akar rumput”, “pohon trembesi”, “daun menjadi humus”, “bayi-bayi melambaikan tangan”.
- Imaji perasaan: kesadaran kehilangan dan keikhlasan.
Imaji tersebut memperkuat siklus kehidupan dari kematian menuju kelahiran kembali.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Metafora: “rahim waktu” sebagai simbol proses kehidupan.
- Personifikasi: “bayi-bayi melambaikan tangannya ke udara”.
- Simbolisme: humus sebagai lambang kehidupan baru, trembesi sebagai pelindung alam.
Puisi “Bukan Milik Kita Lagi” karya Acep Zamzam Noor merupakan refleksi mendalam tentang siklus kehidupan dan keterbatasan manusia. Melalui simbol-simbol alam, penyair mengajak pembaca untuk memahami bahwa dunia ini terus bergerak dan tidak pernah benar-benar dimiliki oleh siapa pun. Puisi ini menegaskan pentingnya kesadaran, keikhlasan, dan harmoni dengan alam dalam menjalani kehidupan.
Biodata Acep Zamzam Noor:
- Acep Zamzam Noor (Muhammad Zamzam Noor Ilyas) lahir pada tanggal 28 Februari 1960 di Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia.
- Ia adalah salah satu sastrawan yang juga aktif melukis dan berpameran.
