Bunga Alang-Alang Menjadi Saksi
Bunga alang-alang putih leta. Berkibaran
Adalah umbul-umbul pusara tak bernama
Ia pernah perang. Yang kini puing-puing kerangka itu
Bunga alang-alang putih liar. Merata
Menaungi lasykar kehausan dan nyawa
Bergulat tangkap di sana di pantai landai. Dalam dengus memburu
Bunga alang-alang putih semakin tua
Bunga alang-alang kini bendera nyala
Tapi dari kaki menguak duri
Bunga alang-alang akan mekar lagi. Berkibaran
Cilangkap, Maret 1973
Sumber: Horison (Oktober, 1973)
Analisis Puisi:
Puisi “Bunga Alang-Alang Menjadi Saksi” karya Joss Sarhadi menghadirkan gambaran tentang perang, kematian, dan jejak sejarah yang tertinggal di sebuah tempat. Penyair menggunakan bunga alang-alang sebagai simbol utama untuk merekam kenangan tentang perjuangan dan penderitaan manusia. Dengan diksi yang padat dan puitis, puisi ini menyimpan suasana pilu sekaligus penghormatan terhadap mereka yang pernah berjuang.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kenangan tentang perang dan pengorbanan manusia. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema sejarah, kematian, dan keberlanjutan kehidupan setelah kehancuran.
Puisi ini bercerita tentang sebuah tempat bekas peperangan yang kini dipenuhi bunga alang-alang. Tempat itu menyimpan jejak para pejuang yang telah gugur dan menjadi “pusara tak bernama”. Bunga alang-alang menjadi saksi bisu atas penderitaan, pertempuran, dan kematian yang pernah terjadi.
Meski perang telah berlalu, kenangan tentang perjuangan itu tetap hidup melalui alam yang terus tumbuh kembali.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa sejarah perjuangan dan penderitaan manusia tidak pernah benar-benar hilang. Alam menyimpan jejak kenangan tersebut, bahkan ketika manusia mulai melupakannya.
Bunga alang-alang melambangkan kehidupan yang terus tumbuh di atas luka masa lalu. Sementara “pusara tak bernama” menggambarkan banyaknya korban perang yang terlupakan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa muram, sendu, dan penuh renungan. Namun di bagian akhir, muncul sedikit nuansa harapan melalui gambaran bunga alang-alang yang akan “mekar lagi”.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Puisi ini menyampaikan pesan agar manusia tidak melupakan sejarah perjuangan dan pengorbanan orang-orang terdahulu. Selain itu, puisi ini juga mengingatkan bahwa di balik kemerdekaan atau kehidupan saat ini terdapat luka dan pengorbanan besar yang pernah terjadi.
Imaji
Beberapa imaji yang muncul dalam puisi ini antara lain:
- Imaji visual, tampak pada gambaran “bunga alang-alang putih”, “pusara tak bernama”, dan “puing-puing kerangka”.
- Imaji gerak, terlihat dalam kata “berkibaran” yang memberi kesan pergerakan bunga tertiup angin.
- Imaji suasana, hadir melalui gambaran medan perang dan pantai landai yang menyimpan bekas pertempuran.
- Imaji pendengaran, tersirat pada ungkapan “dengus memburu” yang menghadirkan suasana pertempuran.
Majas
Puisi ini menggunakan beberapa majas, di antaranya:
- Personifikasi, pada bunga alang-alang yang digambarkan dapat menjadi “saksi”.
- Metafora, pada ungkapan “umbul-umbul pusara tak bernama” yang melambangkan tanda bagi para korban perang.
- Simbolisme, bunga alang-alang menjadi simbol kenangan, perjuangan, dan kehidupan yang terus tumbuh.
- Repetisi, penggunaan frasa “Bunga alang-alang” di awal beberapa larik untuk menegaskan simbol utama puisi.
Puisi “Bunga Alang-Alang Menjadi Saksi” karya Joss Sarhadi merupakan puisi yang menggambarkan hubungan antara alam dan sejarah manusia. Melalui simbol bunga alang-alang, penyair menghadirkan kenangan tentang perang, pengorbanan, dan luka masa lalu yang tetap hidup dalam ingatan alam. Puisi ini tidak hanya menghadirkan kesedihan, tetapi juga harapan bahwa kehidupan akan terus tumbuh setelah kehancuran.
Puisi: Bunga Alang-Alang Menjadi Saksi
Karya: Joss Sarhadi
Biodata Joss Sarhadi:
Nama lengkapnya adalah Joseph Suminto Sarhadi.