Calon Arang
Di desa Girah ada nenek sihir
bernama Calon Arang
Ia sejahat kapten hook,
wajahnya seseram zombie
giginya sekuning matahari.
Saat mereka menjumpainya
mereka lari ketakutan
seperti sigung bersembunyi
di dalam sarang. Dia jahat,
tak ada yang mau menikahi anaknya.
Padahal anaknya cantik
seperti mekaran ekor burung merak.
Muridnya juga kejam,
berkeramas darah manusia
berselendang usus manusia.
2016
Sumber: Resep Membuat Jagat Raya (Kabarita, 2017)
Analisis Puisi:
Puisi “Calon Arang” karya Abinaya Ghina Jamela merupakan puisi yang mengangkat legenda tradisional dengan gaya bahasa sederhana dan imajinatif. Penyair menghadirkan tokoh legendaris Calon Arang melalui sudut pandang anak-anak yang penuh perbandingan unik dan mudah dipahami.
Walaupun mengandung unsur seram, puisi ini tetap terasa ringan karena dipadukan dengan gambaran yang dekat dengan dunia anak, seperti tokoh dongeng dan benda-benda yang akrab dalam imajinasi mereka.
Tema
Tema utama puisi ini adalah legenda dan ketakutan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema penilaian terhadap seseorang berdasarkan perilaku serta gambaran tentang kejahatan dalam cerita rakyat.
Puisi ini bercerita tentang tokoh legendaris Calon Arang yang digambarkan sebagai nenek sihir menakutkan dari Desa Girah.
Tokoh tersebut dilukiskan sangat jahat dan menyeramkan sehingga orang-orang takut kepadanya. Bahkan, anak Calon Arang yang cantik pun tidak ada yang berani menikahinya karena takut terhadap ibunya.
Selain itu, murid-murid Calon Arang juga digambarkan kejam dan mengerikan sehingga suasana puisi terasa penuh ketegangan dan misteri.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa perilaku buruk seseorang dapat membuat orang lain menjauh dan takut.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa penampilan atau kekuasaan yang menakutkan tidak selalu membawa kebahagiaan. Tokoh Calon Arang digambarkan memiliki kekuatan, tetapi justru hidup dalam kesendirian dan ketakutan dari orang lain.
Selain itu, puisi ini memperlihatkan bagaimana cerita rakyat dapat dikenalkan kepada anak-anak melalui bahasa yang sederhana dan imajinatif.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa seram, menegangkan, tetapi tetap imajinatif khas puisi anak. Ada juga unsur keheranan dan rasa takut yang dibangun melalui gambaran tokoh Calon Arang.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa manusia sebaiknya tidak bersikap jahat kepada orang lain.
Puisi ini juga mengajarkan bahwa perilaku buruk dapat membuat seseorang dijauhi dan ditakuti oleh lingkungan sekitarnya.
Imaji
Puisi ini memiliki beberapa jenis imaji, antara lain:
- Imaji penglihatan, tampak pada gambaran wajah Calon Arang, gigi kuning, zombie, dan selendang usus manusia.
- Imaji gerak, terlihat pada orang-orang yang lari ketakutan.
- Imaji perasaan, hadir melalui rasa takut dan tegang.
- Imaji warna, tampak pada “giginya sekuning matahari” dan gambaran darah manusia.
- Imaji fantasi, sangat kuat melalui tokoh nenek sihir dan zombie.
Imaji-imaji tersebut membuat puisi terasa hidup dan mudah dibayangkan oleh pembaca anak-anak.
Majas
Beberapa majas yang terdapat dalam puisi ini antara lain:
- Simile, pada ungkapan “Ia sejahat kapten hook”, “wajahnya seseram zombie”, dan “cantik seperti mekaran ekor burung merak”.
- Hiperbola, pada penggambaran murid yang “berkeramas darah manusia”.
Puisi “Calon Arang” karya Abinaya Ghina Jamela menghadirkan kembali legenda tradisional dalam bahasa yang sederhana dan dekat dengan dunia anak. Dengan imaji yang kuat dan perbandingan yang kreatif, puisi ini berhasil menggambarkan tokoh Calon Arang sebagai sosok menakutkan sekaligus menyampaikan pesan moral tentang akibat dari perilaku buruk.
Karya: Abinaya Ghina Jamela
Biodata Abinaya Ghina Jamela:
- Abinaya Ghina Jamela (biasa disapa Naya) lahir pada tanggal 11 Oktober 2009 di Padang, Sumatera Barat, Indonesia.