Demikian Saja Lewat
Demikian saja lewat matahari di cakrawala
sebelum lengkap terselenggara cuaca, seluruhnya
berangkat dari kaki langit meraih kaki penjuru
seberang sana. Dua sosok bayang menggelepar
terhuyung merayap-rayap sepanjang trotoir
terkembang gemetar jari-jemari di sepanjang tangannya
menggapai-gapai puncak gedung dan menara-menara kota
Sepasang tubuh yang tak bernama dihanguskan keletihan
dan terik matahari siang, terkapar ke bawah
sebuah tembok tua, kotor dan bau, rapuh dan berdebu
adalah mereka tubuh-tubuh yang kelewat sengsara
dalam siang di bakar duka dan panas hari yang garang
Rintih keluhnya tertelan ke dalam, tertelan
bising lalulintas jalanan. Tidak ada yang hirau
di kota dan sepanjang kaki lima tak ada tempat lagi
bagi rasa kasihan, simpati dan kemanusiaan
tidak pun sedikit perhatian, tidak juga ketika
sepasang bayang itu terkejang-kejang tanpa merintih lagi
kemudian diam selama-lamanya. Demikian saja
berangkat matahari meninggalkan kota yang sibuk
dengan kerja, hiruk pikuk deru dan kesibukan
demikian saja setiap yang lewat tak punya perhatian
Sampai Tuhan pun menurunkan bau-bau busuk, debu-debu
lalat-lalat yang berkerumun, dan ulat-ulat di dalam
Tidak seorang pun mendekat, dan sebelum segalanya lengkap
sebelum ada yang sempat tercatat sekonyong matahari
waktu dan peristiwa pun keburu lewat. Demikian saja.
(Aku sendiri mematung menahan sedan dan terdiam
Barangkali bayang yang kaku terbaring itu suatu saat
adalah juga diriku sendiri, nasib tak selalu baik hati
sebagai induk, kepada anak-anaknya sendiri).
Sumber: Horison (Agustus, 1974)
Analisis Puisi:
Puisi “Demikian Saja Lewat” karya Ragil Suwarna Pragolapati merupakan puisi yang menggambarkan kerasnya kehidupan kota dan lunturnya rasa kemanusiaan di tengah kesibukan masyarakat. Penyair menghadirkan suasana yang suram dan menyentuh melalui kisah dua sosok terlantar yang mengalami penderitaan tanpa mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekitarnya.
Melalui pilihan kata yang kuat dan penuh makna, puisi ini menjadi kritik sosial terhadap sikap manusia yang semakin acuh terhadap sesama.
Tema
Tema puisi “Demikian Saja Lewat” adalah kemanusiaan dan kritik sosial. Penyair menyoroti hilangnya rasa empati masyarakat terhadap penderitaan orang lain, khususnya di kehidupan kota yang sibuk dan individualistis.
Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kesenjangan sosial, penderitaan hidup, dan ketidakpedulian manusia terhadap sesamanya.
Puisi ini bercerita tentang dua orang miskin yang hidup dalam penderitaan di tengah kota. Mereka kelelahan dan terlantar di trotoar tanpa ada seorang pun yang peduli.
Walaupun kondisi mereka sangat memprihatinkan, masyarakat sekitar tetap berjalan seperti biasa. Hiruk pikuk kota membuat jeritan penderitaan mereka tenggelam dan akhirnya mereka meninggal tanpa perhatian maupun pertolongan.
Penyair kemudian menyadari bahwa kehidupan manusia sangat rapuh dan nasib buruk bisa terjadi kepada siapa saja.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap masyarakat modern yang kehilangan rasa kemanusiaan. Kesibukan, pekerjaan, dan rutinitas membuat manusia menjadi tidak peduli terhadap penderitaan orang lain.
Penyair ingin menunjukkan bahwa kemiskinan dan penderitaan sering kali hanya dianggap sebagai pemandangan biasa di kota besar. Orang-orang melihat, tetapi memilih untuk mengabaikan.
Selain itu, puisi ini mengandung peringatan bahwa nasib manusia dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu, manusia seharusnya lebih peduli dan tidak memandang rendah orang yang sedang menderita.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa muram, sedih, dan menyayat hati. Pembaca dapat merasakan penderitaan hidup dalam kelelahan dan kesengsaraan.
Di beberapa bagian, suasana juga terasa sunyi dan mengerikan, terutama ketika digambarkan tubuh yang membusuk tanpa ada yang mendekat ataupun peduli.
Pada bagian akhir, suasana berubah menjadi reflektif karena penyair mulai merenungkan kemungkinan dirinya mengalami nasib yang sama.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat puisi ini adalah pentingnya menjaga rasa kemanusiaan dan empati terhadap sesama. Manusia tidak seharusnya menutup mata terhadap penderitaan orang lain hanya karena sibuk dengan urusan pribadi.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan baik. Nasib buruk dapat menimpa siapa saja, sehingga manusia perlu saling membantu dan peduli satu sama lain.
Selain itu, penyair mengajak pembaca untuk lebih peka terhadap kondisi sosial di sekitar dan tidak membiarkan penderitaan manusia berlalu begitu saja.
Puisi “Demikian Saja Lewat” karya Ragil Suwarna Pragolapati merupakan puisi kritik sosial yang kuat dan penuh makna. Melalui gambaran kehidupan kota yang keras, penyair menunjukkan bagaimana rasa kemanusiaan perlahan memudar di tengah kesibukan hidup.
Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan pentingnya empati, kepedulian sosial, dan kesadaran bahwa setiap manusia memiliki kemungkinan mengalami penderitaan yang sama.
Karya: Ragil Suwarna Pragolapati
Biodata Ragil Suwarna Pragolapati:
- Ragil Suwarna Pragolapati lahir di Pati, pada tanggal 22 Januari 1948.
- Ragil Suwarna Pragolapati dinyatakan menghilang di Parangtritis, Yogyakarta, pada tanggal 15 Oktober 1990.
- Ragil Suwarna Pragolapati menghilang saat pergi bersemadi ke Gunung Semar. Dalam perjalanan pulang dari kaki Gunung Semar menuju Gua Langse (beliau berjalan di belakang murid-muridnya) tiba-tiba menghilang. Awalnya murid-muridnya menganggap hal tersebut sebagai kejadian biasa karena orang sakti lumrah bisa menghilang. Namun, setelah tiga hari tiga malam tidak kunjung pulang dan dicari ke mana-mana tidak diketemukan. Tidak jelas keberadaannya sampai sekarang, apakah beliau masih hidup atau sudah meninggal.
