Puisi: Devenir Pur (Karya Abdul Hadi WM)

Puisi “Devenir Pur” karya Abdul Hadi WM menyiratkan bahwa alam memiliki ritme yang tenang dan alami, berbeda dengan kegelisahan manusia terhadap ...
Devenir Pur

Ruang dan waktu. Tiba-tiba
mendesak kita. Ketika
anginpun menyusup semak-semak, jendela
Tanah-tanah mengembang mencari bunga rumputan

Dan deretan angka pada jam
sesekali ketika kita mau diam
sesekali kita terpejam
Sunyi kita, di dalam

1968

Sumber: Horison (Mei, 1970)

Analisis Puisi:

Puisi “Devenir Pur” karya Abdul Hadi WM merupakan puisi pendek yang bersifat reflektif dan filosofis. Dengan bahasa yang padat dan simbolik, penyair mengajak pembaca merenungkan hubungan manusia dengan ruang, waktu, alam, dan kesunyian batin.

Judul “Devenir Pur” berasal dari bahasa Prancis yang dapat dimaknai sebagai “menjadi murni” atau “proses menuju kemurnian”. Hal ini sejalan dengan isi puisi yang menggambarkan manusia yang sedang menghadapi tekanan ruang dan waktu, lalu menemukan keheningan di dalam dirinya sendiri.

Tema

Tema utama puisi ini adalah refleksi tentang ruang, waktu, dan kesunyian batin manusia. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kontemplasi, kesadaran diri, dan hubungan manusia dengan alam.

Puisi ini bercerita tentang manusia yang tiba-tiba merasa didesak oleh ruang dan waktu. Dalam keadaan tersebut, alam tetap bergerak: angin menyusup ke semak-semak dan jendela, tanah mengembang, serta bunga rumput tumbuh.

Di tengah pergerakan dunia itu, manusia sesekali berhenti, diam, dan memejamkan mata. Pada saat itulah muncul kesunyian batin yang mendalam.

Puisi ini menggambarkan pengalaman manusia ketika mencoba memahami keberadaan dirinya di tengah arus waktu dan kehidupan yang terus berjalan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa manusia sering hidup dalam tekanan waktu dan kehidupan, tetapi ketenangan sejati dapat ditemukan melalui keheningan dan perenungan diri.

Ruang dan waktu dalam puisi melambangkan kehidupan yang terus bergerak dan mendesak manusia untuk terus berjalan. Namun, ketika manusia berhenti sejenak dan memasuki kesunyian batin, ia dapat menemukan kemurnian dan kesadaran diri.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa alam memiliki ritme yang tenang dan alami, berbeda dengan kegelisahan manusia terhadap waktu.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa hening, kontemplatif, dan filosofis. Pembaca diajak memasuki ruang batin yang sunyi dan penuh perenungan.

Di sisi lain, suasana alam dalam puisi menghadirkan ketenangan yang lembut dan mendalam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa manusia perlu meluangkan waktu untuk diam dan merenungkan kehidupannya.

Puisi ini juga mengajarkan bahwa di tengah tekanan hidup dan waktu yang terus berjalan, manusia tetap dapat menemukan ketenangan batin melalui kesunyian dan kesadaran diri.

Selain itu, puisi ini mengingatkan bahwa manusia sebaiknya lebih peka terhadap alam dan keberadaan dirinya sendiri.

Imaji

Puisi ini memiliki beberapa imaji yang kuat, antara lain:

Imaji visual, misalnya:

“anginpun menyusup semak-semak, jendela”
“Tanah-tanah mengembang mencari bunga rumputan”

Pembaca dapat membayangkan suasana alam yang bergerak secara lembut.

Imaji gerak, misalnya:

“anginpun menyusup”
“Tanah-tanah mengembang”

Larik tersebut menghadirkan kesan alam yang hidup dan terus bergerak.

Imaji perasaan, tampak pada:

“sesekali kita mau diam”
“Sunyi kita, di dalam”

Ungkapan ini menghadirkan rasa tenang dan reflektif.

Imaji waktu, tampak pada:

“Deretan angka pada jam”

Pembaca dapat membayangkan waktu yang terus berjalan dan mengikat kehidupan manusia.

Majas

Beberapa majas yang terdapat dalam puisi ini antara lain:

Majas personifikasi, pada larik:

“Ruang dan waktu tiba-tiba mendesak kita”

Ruang dan waktu digambarkan seolah memiliki kemampuan menekan manusia.

Majas personifikasi, pada:

“Tanah-tanah mengembang mencari bunga rumputan”

Tanah digambarkan seolah dapat mencari sesuatu.

Majas simbolik, pada penggunaan:

“ruang”, “waktu”, “angin”, dan “jam”

Simbol-simbol tersebut menggambarkan kehidupan, perjalanan hidup, dan kesadaran manusia.

Majas metafora, pada:

“Sunyi kita, di dalam”

Kesunyian menjadi lambang ruang batin manusia.

Majas repetisi, pada pengulangan:

“sesekali”

Pengulangan ini mempertegas momen refleksi yang muncul dalam kehidupan manusia.

Puisi “Devenir Pur” karya Abdul Hadi WM merupakan puisi reflektif yang membahas hubungan manusia dengan ruang, waktu, dan kesunyian batin. Dengan bahasa yang singkat namun penuh simbol, penyair menggambarkan manusia yang berusaha menemukan ketenangan di tengah tekanan kehidupan. Puisi ini mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, merenung, dan menemukan kemurnian diri melalui keheningan dan kesadaran batin.

Puisi: Devenir Pur
Puisi: Devenir Pur
Karya: Abdul Hadi WM

Biodata Abdul Hadi WM:
  • Abdul Hadi WM (Abdul Hadi Widji Muthari) lahir di kota Sumenep, Madura, pada tanggal 24 Juni 1946.
  • Abdul Hadi WM adalah salah satu tokoh Sastrawan Angkatan '66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.