Di Atas Viaduct
Lemparkan pandangmu, sungai berliku
Membelah gubuk-gubuk karton
Lemparkan rindumu, pandang dengan mata hati
Cikapundung menyalib duka: seorang gadis menanti
Apa katamu kemarin pagi, cerita biasa
hukum yang terpaeri di setiap dada lelaki
Apa katamu kini, seorang gadis duduk sendirian
Dengan kaki bersijuntai memandang bayangannya di air
Bukan lagu yang kutuliskan ini, sekedar harap
Ketika gerimis reda dan jalanan bisu sepanjang Braga
Bukan, bukan lagu yang kusenandungkan ini, sebuah kasih
Di antara kesepian kita yang berjuta: seorang gadis merintih
Inilah kesepian yang nyaris sempurna
Lahir dari keasyikan kita menikam diri sendiri
Sebagai lelaki penduka
Inilah lagu yang tak pernah selesai dinyanyikan
Dengan hati bersijuntai, senja dalam genggam tanganmu
Dengan suka melambai, Cikapundung mengaliri dukanya
Kita terperangah dalam mungkin: gadis itu menatap kita
Lihatlah, seorang gadis menatap kita, biru pandangnya
1982
Sumber: Menjadi Penyair Lagi (2007)
Analisis Puisi:
Puisi “Di Atas Viaduct” karya Acep Zamzam Noor merupakan puisi yang menghadirkan potret urban dengan nuansa lirih dan reflektif. Mengambil latar di sekitar Cikapundung dan kawasan Jalan Braga, puisi ini memadukan lanskap kota dengan pergulatan batin manusia, terutama tentang kesepian dan empati yang kian menipis.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesepian manusia dalam kehidupan kota serta kepekaan sosial terhadap penderitaan orang lain.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada di atas viaduct, memandang ke bawah pada aliran sungai Cikapundung yang membelah permukiman sederhana. Di sana terlihat seorang gadis yang duduk sendiri, seolah menunggu atau tenggelam dalam pikirannya.
Penyair tidak hanya mengamati, tetapi juga merenungkan kondisi tersebut sebagai bagian dari kehidupan manusia yang lebih luas—tentang kesepian, luka batin, dan kegagalan untuk saling memahami. Gadis itu menjadi simbol dari banyak manusia lain yang terpinggirkan dan terlupakan.
Makna Tersirat
Puisi ini adalah kritik terhadap kehidupan modern yang sering membuat manusia terasing, bahkan dari dirinya sendiri dan orang lain. Kesepian bukan hanya kondisi individu, tetapi juga hasil dari ketidakpekaan sosial.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini terasa sendu, sunyi, dan reflektif, dengan nuansa melankolis yang kuat, terutama melalui gambaran gerimis, senja, dan jalanan yang sepi.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Puisi ini menyampaikan pesan agar manusia lebih peka terhadap lingkungan sosial dan tidak terjebak dalam kesibukan diri hingga melupakan penderitaan orang lain.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji:
- Imaji visual: “sungai berliku”, “gubuk-gubuk karton”, “gadis duduk sendirian”, “jalanan bisu sepanjang Braga”.
- Imaji gerak: “mengaliri dukanya”, “melambai” memberikan kesan hidup pada suasana.
- Imaji perasaan: kesepian, kerinduan, dan penderitaan yang mendalam.
- Imaji warna: “biru pandangnya” memberi kesan dingin dan jauh.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini:
- Metafora: “Cikapundung menyalib duka” sebagai simbol penderitaan yang mengalir terus-menerus.
- Personifikasi: sungai seolah-olah memiliki perasaan dan mampu “mengaliri duka”.
- Simbolisme: gadis sebagai lambang kesepian manusia urban.
- Repetisi: pengulangan frasa “seorang gadis” untuk menegaskan fokus perhatian.
- Paradoks: kesepian yang lahir dari “keasyikan kita menikam diri sendiri”.
Puisi “Di Atas Viaduct” merupakan refleksi tajam tentang kehidupan kota yang penuh kontradiksi. Acep Zamzam Noor menghadirkan potret sosial yang puitis sekaligus menyentuh, mengajak pembaca untuk melihat lebih dalam—bahwa di balik hiruk-pikuk kota, terdapat kesepian yang sering luput dari perhatian.
Biodata Acep Zamzam Noor:
- Acep Zamzam Noor (Muhammad Zamzam Noor Ilyas) lahir pada tanggal 28 Februari 1960 di Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia.
- Ia adalah salah satu sastrawan yang juga aktif melukis dan berpameran.
