Puisi: Di Bangku Sekolah (Karya Abinaya Ghina Jamela)

Puisi “Di Bangku Sekolah” karya Abinaya Ghina Jamela menggambarkan suara hati anak-anak yang merasa terbebani oleh sistem pendidikan yang terlalu ...

Di Bangku Sekolah

Sekolah itu tidak menarik
hanya duduk dan belajar
itu saja, tak menarik,
tak ada.

Jika terus seperti itu
otak terbebani. Seperti filsuf
penyair, cerpenis, esais,
ada waktu menulis, membaca
dan bermain.

Di sekolah ada waktu istirahat,
tapi belum cukup.
Anak-anak seperti orangtua yang
dipaksa belajar.

Soal-soal berada
di atas kepala, berputar-putar,
membuat kami bekerja keras
memecahkannya. Anak-anak
bingung seperti seorang yang
tak tahu apa yang harus dikerjakan.

Seratus berada di depan mata.
Anak-anak gembira. Mengapa?
Apakah 100 tiket menonton
di bioskop? Apakah 100 sekeranjang
permen lolipop? Apakah 100 kado
istimewa saat ulang tahun?
Atau 100 hanya pujian dari orang dewasa?

2017

Sumber: Harian Media Indonesia (10 Juni 2018)

Analisis Puisi:

Puisi berjudul “Di Bangku Sekolah” karya Abinaya Ghina Jamela merupakan puisi yang menggambarkan perasaan anak-anak terhadap dunia sekolah. Dengan bahasa sederhana dan sudut pandang polos khas anak-anak, puisi ini menyampaikan kritik terhadap sistem belajar yang dianggap terlalu membebani siswa.

Puisi ini menarik karena mampu menunjukkan isi hati anak-anak mengenai kegiatan belajar, tugas sekolah, dan harapan mereka untuk memperoleh waktu bermain yang lebih banyak.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehidupan anak-anak di sekolah serta beban belajar yang mereka rasakan. Penyair menggambarkan bagaimana anak-anak merasa jenuh dengan kegiatan belajar yang monoton dan terlalu menekan.

Selain itu, puisi ini juga bertemakan kritik sosial terhadap sistem pendidikan yang lebih menekankan nilai dibanding kebahagiaan dan kreativitas anak.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman anak-anak selama berada di sekolah. Mereka merasa bahwa sekolah hanya berisi kegiatan duduk dan belajar tanpa cukup waktu bermain atau berekspresi.

Penyair juga menggambarkan bagaimana tugas dan soal-soal pelajaran membuat anak-anak terbebani. Di sisi lain, anak-anak dipaksa mengejar nilai tinggi, meskipun mereka belum tentu memahami makna sebenarnya dari nilai tersebut.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa anak-anak membutuhkan keseimbangan antara belajar dan bermain. Pendidikan seharusnya tidak hanya berfokus pada nilai akademik, tetapi juga memperhatikan kebahagiaan, kreativitas, dan perkembangan mental anak.

Puisi ini juga menyindir pandangan orang dewasa yang terlalu mengutamakan angka atau nilai tanpa memahami tekanan yang dirasakan anak-anak.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang tergambar dalam puisi ini antara lain: jenuh, bingung, lelah, kritikal, polos namun penuh sindiran.

Walaupun bernada sederhana, puisi ini menyimpan kritik yang cukup mendalam terhadap dunia pendidikan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa pendidikan harus dibuat lebih menyenangkan dan manusiawi bagi anak-anak. Anak-anak tidak seharusnya hanya dibebani tugas dan tuntutan nilai tinggi.

Selain itu, puisi ini mengajarkan bahwa anak-anak juga membutuhkan waktu bermain, beristirahat, dan mengembangkan kreativitas agar proses belajar menjadi lebih seimbang.

Imaji

Beberapa imaji dalam puisi ini yaitu:
  • Imaji visual: Tampak pada bagian “Soal-soal berada di atas kepala, berputar-putar” yang membuat pembaca membayangkan soal-soal memenuhi pikiran anak-anak.
  • Imaji gerak: Kata “berputar-putar” memberikan kesan gerakan yang menggambarkan pikiran penuh beban.

Majas

Puisi ini menggunakan beberapa majas, di antaranya:
  • Perumpamaan (Simile): Contoh “Anak-anak bingung seperti seorang yang tak tahu apa yang harus dikerjakan.”
  • Personifikasi: Contoh “Soal-soal berada di atas kepala, berputar-putar” seolah-olah soal memiliki kemampuan bergerak.
  • Pertanyaan Retoris: Contoh “Apakah 100 tiket menonton di bioskop?” Pertanyaan tersebut tidak membutuhkan jawaban langsung, melainkan untuk menyindir makna nilai bagi anak-anak.
  • Repetisi: Pengulangan angka “100” digunakan untuk menegaskan fokus terhadap nilai akademik.
Puisi “Di Bangku Sekolah” karya Abinaya Ghina Jamela merupakan puisi yang sederhana namun sarat makna. Puisi ini menggambarkan suara hati anak-anak yang merasa terbebani oleh sistem pendidikan yang terlalu fokus pada belajar dan nilai.

Melalui bahasa yang lugas dan kritis, penyair mengajak pembaca untuk memahami bahwa pendidikan ideal bukan hanya soal angka, melainkan juga tentang kebahagiaan, kreativitas, dan keseimbangan hidup anak-anak.

Abinaya Ghina Jamela
Puisi: Di Bangku Sekolah
Karya: Abinaya Ghina Jamela

Biodata Abinaya Ghina Jamela:
  • Abinaya Ghina Jamela (biasa disapa Naya) lahir pada tanggal 11 Oktober 2009 di Padang, Sumatera Barat, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.