Di Mana Ey
di mane ey yang telah mengganggu pandangku yang telah mengganggu tidurku yang telah merasuk rohku yang telah merusak jiwaku
senyap telah sampai dari puncak-puncak perbukitan merayap lewat pematang dan sampai pada sungai yang mengalirkan desah airnya pada lintasan angin yang membaurkan anganku, terik telah sampai pada akar rumputan membakar daun-daunnya yang dahaga dan membinasa pikirku yang mengabur
di mana ey
kucari kau sianghari seperti ketemu dalam lamunan
kucari kau dinihari seperti ketemu dalam mimpi
kucari kau di gunung-gunung seperti ketemu dalam kabut yang murung
angin tersangkut di pucuk-pucuk semak dan tak bakal sampai di lembah tapi masih jua terdengar suara cemara yang gusar suara burung-burung yang lapar
di mana ey
senja telah sampai di ujung-ujung bukit dan dingin turun kaku di pucuk-pucuk perdu, bakal ke mana angin ketika kabut mengembun di atas daun-daun
ey
di mana Kau
Pucungkerep, 1974
Sumber: Horison (Februari, 1975)
Analisis Puisi:
Puisi “Di Mana Ey” karya Hendro Siswanggono menghadirkan suasana pencarian yang sunyi, gelisah, dan penuh kerinduan. Melalui pilihan diksi alam seperti bukit, sungai, angin, kabut, dan senja, penyair menggambarkan pergulatan batin seseorang yang mencari sosok bernama “Ey”. Sosok tersebut terasa begitu dekat dalam jiwa, tetapi sulit ditemukan dalam kenyataan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pencarian dan kerinduan yang mendalam terhadap seseorang atau sesuatu yang sangat berarti dalam hidup. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kegelisahan batin dan kehampaan jiwa.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang terus mencari “Ey”, sosok yang telah menguasai pikiran dan perasaannya. Kehadiran “Ey” begitu kuat hingga mengganggu pandangan, tidur, bahkan merasuk ke dalam roh dan jiwa penyair.
Pencarian tersebut dilakukan di berbagai waktu dan tempat: siang hari, dini hari, gunung-gunung, hingga dalam lamunan dan mimpi. Namun, sosok itu tetap tidak benar-benar ditemukan. Alam sekitar yang digambarkan dalam puisi seolah ikut menyuarakan kegelisahan batin sang penyair.
Pada bagian akhir, pertanyaan “Ey di mana Kau” memberi kesan bahwa pencarian tersebut bukan hanya terhadap manusia biasa, melainkan bisa juga dimaknai sebagai pencarian spiritual atau pencarian makna hidup.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini dapat dipahami sebagai ungkapan kerinduan mendalam terhadap sesuatu yang sulit dijangkau. “Ey” dapat dimaknai sebagai:
- seseorang yang dicintai,
- kenangan yang hilang,
- ketenangan batin,
- atau bahkan simbol Tuhan dan spiritualitas.
Kalimat “yang telah merasuk rohku yang telah merusak jiwaku” menunjukkan bahwa kehilangan atau kerinduan tersebut sangat memengaruhi kondisi batin penyair.
Sementara itu, gambaran alam yang murung dan sunyi memperkuat kesan bahwa pencarian tersebut penuh ketidakpastian dan kesepian.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini didominasi oleh: sunyi, gelisah, murung, dan penuh kerinduan.
Penggunaan kata-kata seperti “kabut yang murung”, “suara cemara yang gusar”, dan “burung-burung yang lapar” menciptakan nuansa emosional yang dingin dan sepi.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa manusia sering mengalami pencarian batin terhadap sesuatu yang dianggap penting dalam hidupnya. Kerinduan dan kehilangan dapat memengaruhi jiwa secara mendalam, tetapi pencarian tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan hidup manusia untuk memahami dirinya sendiri.
Selain itu, puisi ini mengingatkan bahwa tidak semua hal dapat ditemukan secara nyata, sebab ada pencarian yang bersifat batiniah dan spiritual.
Imaji dalam Puisi
Puisi ini mengandung beberapa imaji yang kuat, antara lain:
- Imaji Visual: Penggambaran alam seperti “puncak-puncak perbukitan”, “pematang”, “sungai”, “kabut yang murung”, dan “senja telah sampai di ujung-ujung bukit”. Pembaca seolah dapat melihat lanskap alam yang sunyi dan berkabut.
- Imaji Auditori: Terdapat bunyi-bunyian yang dapat didengar melalui larik “suara cemara yang gusar”, “suara burung-burung yang lapar”.
- Imaji Perabaan: Kesan dingin terasa pada larik “dingin turun kaku di pucuk-pucuk perdu”.
Majas dalam Puisi
Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi: Benda atau alam digambarkan seolah hidup dan memiliki sifat manusia, misalnya “senyap telah sampai”, “terik telah sampai”, “angin tersangkut di pucuk-pucuk semak”, “suara cemara yang gusar”.
- Repetisi: Pengulangan frasa digunakan untuk memperkuat emosi, seperti: “kucari kau”, “di mana ey”.
- Metafora: Frasa “merasuk rohku”, “merusak jiwaku”, menjadi metafora untuk menunjukkan pengaruh emosional yang sangat dalam.
Puisi “Di Mana Ey” karya Hendro Siswanggono merupakan puisi yang kaya akan nuansa batin dan simbol alam. Melalui bahasa puitis yang penuh imaji, penyair menggambarkan pencarian, kerinduan, dan kegelisahan jiwa yang mendalam. Sosok “Ey” menjadi simbol dari sesuatu yang sangat dirindukan, baik dalam makna cinta maupun spiritualitas.
