Di Sini Pengasingan Terjadi
Di sinilah pengasingan terjadi
Ketika senyap merendah, rumput-rumput di bumi lahir kembali
Sebagai gumpalan kabut. Dan ketika udara djadi merendap juga
Dan kita hanya berdo'a
Bumi yang mengerdip padamu, matahari yang gaib cendera selalu
Ketika akan tidur, dan menetap pada jengkal waktu
Bahwa gerimis yang bergetar. Akan sampai padamu
Mencelupkan ujung benua. Seketika tahu kita tak setia
1967
Sumber: Horison (Mei, 1970)
Analisis Puisi:
Puisi “Di Sini Pengasingan Terjadi” karya Abdul Hadi WM merupakan puisi reflektif yang menghadirkan suasana sunyi, asing, dan penuh perenungan batin. Dengan bahasa simbolik dan nuansa spiritual yang kuat, penyair menggambarkan pengalaman keterasingan manusia di tengah waktu, alam, dan hubungan antarsesama.
Puisi ini menggunakan kabut, gerimis, bumi, dan matahari sebagai lambang perjalanan batin manusia yang perlahan menyadari rapuhnya kesetiaan dan hubungan hidup.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pengasingan batin dan kesadaran manusia terhadap keterpisahan serta ketidaksetiaan hidup. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema spiritualitas dan hubungan manusia dengan alam serta waktu.
Puisi ini bercerita tentang pengalaman pengasingan yang terjadi dalam suasana sunyi dan hening. Penyair menggambarkan keadaan ketika manusia hanya bisa berdoa di tengah dunia yang terasa meredap dan berkabut.
Dalam kesunyian itu, alam seakan ikut berbicara melalui rumput, kabut, gerimis, dan matahari. Namun, di balik keheningan tersebut muncul kesadaran pahit bahwa manusia tidak selalu setia—baik kepada sesama, kepada dirinya sendiri, maupun kepada nilai-nilai kehidupan.
Puisi ini lebih menekankan perjalanan batin daripada cerita konkret, sehingga pembaca diajak masuk ke dalam suasana renungan yang mendalam.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa pengasingan tidak selalu berarti terpisah secara fisik, tetapi juga keterasingan jiwa dan batin.
Kabut dan udara yang merendap melambangkan keadaan batin yang sunyi, samar, dan penuh ketidakpastian. Sementara gerimis yang “akan sampai padamu” menunjukkan bahwa perasaan, kenangan, atau kesadaran hidup tetap akan menemukan jalannya meskipun manusia mencoba menjauh.
Bagian “Seketika tahu kita tak setia” menyiratkan kesadaran manusia akan kelemahannya sendiri. Puisi ini menunjukkan bahwa manusia sering gagal menjaga keteguhan hati, hubungan, atau keyakinannya.
Suasana dalam Puisi
Suasana yang terasa dalam puisi ini antara lain:
- Sunyi.
- Kontemplatif.
- Melankolis.
- Mistis.
- Hening dan reflektif.
Nuansa spiritual sangat terasa melalui penggunaan simbol alam dan doa.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa manusia perlu memahami dirinya sendiri dan menyadari keterbatasannya.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa dalam kesunyian dan keterasingan, manusia sering menemukan kebenaran tentang dirinya. Selain itu, penyair menyampaikan bahwa kesetiaan, keteguhan hati, dan hubungan manusia dengan sesama adalah hal yang rapuh dan perlu dijaga.
Imaji
Puisi ini memiliki beberapa jenis imaji, antara lain:
- Imaji visual: Tampak pada gambaran kabut, rumput, gerimis, bumi, dan matahari.
- Imaji perasaan: Pembaca dapat merasakan kesunyian, keterasingan, dan kegelisahan batin.
- Imaji gerak: Terlihat pada gerimis yang bergetar dan perjalanan menuju ujung benua.
- Imaji suasana: Keseluruhan puisi membangun suasana hening dan spiritual.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Majas personifikasi: “Bumi yang mengerdip padamu” memberi sifat manusia pada bumi.
- Majas metafora: Pengasingan menjadi metafora bagi keterasingan jiwa manusia.
- Majas simbolik: Kabut, gerimis, dan matahari melambangkan keadaan batin dan perjalanan spiritual.
- Majas hiperbola: “Mencelupkan ujung benua” memberikan kesan luas dan mendalam terhadap perasaan yang disampaikan.
Puisi “Di Sini Pengasingan Terjadi” karya Abdul Hadi WM menggambarkan pengalaman keterasingan manusia melalui simbol-simbol alam yang puitis dan filosofis. Dengan suasana sunyi dan reflektif, penyair mengajak pembaca merenungkan hubungan manusia dengan waktu, kesetiaan, dan dirinya sendiri. Puisi ini memperlihatkan bahwa dalam kesunyian, manusia sering menemukan kenyataan paling dalam tentang hidupnya.
Karya: Abdul Hadi WM
Biodata Abdul Hadi WM:
- Abdul Hadi WM (Abdul Hadi Widji Muthari) lahir di kota Sumenep, Madura, pada tanggal 24 Juni 1946.
- Abdul Hadi WM adalah salah satu tokoh Sastrawan Angkatan '66.
