Dinner Scene
kegiatan yang baru ini memburu juga setiap waktu
ia menterjemahkan, sementara seseorang mempersiapkan
meja makan dan keinginan untuk menciptakan
sesuatu yang lebih daripada sekedar terjemahan.
makanlah, dengan berkat Tuhan untuk hari ini
anak dalam kandungan, mengertilah keadaan kami
tak lebih, daripada ini, tapi terhimpun sudah di dalamnya segala Rasa
makanlah, kata-katanya lunak bagai ubi.
nasi dalam piring, sepasang sendok aluminium
meja yang miring, segelas air untuk minum
lalat pun enggan singgah, hampir terlihat semut itu tersenyum.
makanlah —
ada apa?
ikan asin ini,
makanan orang Persia sejak 2000 tahun sebelum Masehi.
istrinya terdiam, mengancam sepi
menelan kemarahan, memeram dendam.
makan! atau saya buang buku itu!
Sumber: Horison (Februari, 1973)
Analisis Puisi:
Puisi “Dinner Scene” karya Yuswadi Saliya menampilkan adegan makan malam yang tampak sederhana, namun sarat ketegangan emosional dan simbolisasi relasi dalam rumah tangga. Melalui detail keseharian seperti meja makan, nasi, dan percakapan singkat, puisi ini mengungkap konflik batin dan komunikasi yang retak di balik rutinitas domestik.
Tema
Ketegangan dalam relasi rumah tangga dan komunikasi emosional yang terhambat dalam kehidupan sehari-hari.
Puisi ini bercerita tentang suasana makan malam di sebuah rumah tangga yang tidak harmonis. Di satu sisi ada ajakan untuk makan yang tampak hangat dan religius, tetapi di sisi lain muncul konflik tersembunyi antara suami, istri, dan kemungkinan latar intelektual atau ideologis yang diwakili oleh “buku”. Adegan makan berubah menjadi ruang perdebatan, keheningan, dan ancaman emosional.
Makna Tersirat
Makan malam dalam puisi ini bukan sekadar aktivitas biologis, melainkan simbol interaksi sosial yang seharusnya penuh kehangatan. Namun, suasana yang tercipta justru menunjukkan keterasingan dalam rumah tangga.
Konflik antara “makan” dan “buku” dapat dimaknai sebagai pertentangan antara kehidupan praktis (keluarga, kebutuhan dasar) dan dunia intelektual atau idealisme. Di balik meja makan yang sederhana, terdapat ketegangan kuasa, ego, dan emosi yang tidak tersampaikan secara sehat.
Imaji
- Imaji visual: nasi dalam piring, sendok aluminium, meja miring, segelas air, ikan asin, lalat, semut.
- Imaji gerak: tindakan makan, membuang buku.
- Imaji suasana: kesunyian yang tegang dalam ruang makan.
- Imaji rasa: “ikan asin” dan “nasi” menghadirkan sensasi rasa sederhana namun kuat.
Majas
- Simbolisme: meja makan sebagai simbol rumah tangga dan relasi keluarga; buku sebagai simbol ide atau konflik intelektual.
- Personifikasi: “semut itu tersenyum” memberikan sifat manusia pada benda kecil.
- Perbandingan (simile): “kata-katanya lunak bagai ubi” menggambarkan kelembutan ucapan yang bersifat menenangkan namun mungkin tidak menyelesaikan konflik.
- Ironi: ajakan “makanlah” yang berulang justru terjadi di tengah suasana emosional yang tidak damai.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Puisi ini mengingatkan bahwa kehidupan rumah tangga tidak hanya dibangun dari kebutuhan fisik seperti makan, tetapi juga dari komunikasi yang sehat dan saling pengertian. Ketika emosi dan ego tidak dikelola, hal-hal sederhana dapat berubah menjadi sumber konflik yang dalam.
Puisi “Dinner Scene” memperlihatkan bagaimana ruang paling domestik—meja makan—dapat menjadi panggung drama psikologis yang sunyi namun tajam, tempat cinta, amarah, dan ideologi saling berhadapan tanpa kata yang benar-benar selesai diucapkan.
Biodata Yuswadi Saliya:
Juswadi Saliya lahir pada tanggal 15 Juni 1938 di Bandung. Sejak SMA ia sudah mulai menulis, mula-mula pada lembaran-lembaran remaja lalu pada majalah-majalah kebudayaan seperti Basis.
Ia tamat sebagai sarjana arsitektur di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1966 dan direkrut sebagai staff di ITB pada saat itu. Kemudian mengajar Sejarah Arsitektur dan Ilmu-Ilmu Sosial. Ia mendapat gelar master dari University of Hawaii pada tahun 1975.
