Doa Dewa Ruci
maka kutinggalkan engkau
hutan-hutan yang lebat berkabut
ketika kelelawar menyapu malam
kutinggalkan engkau sendiri
kutinggali sekarung duri
kucari embun abadi
sendiri di alam sendiri
kudengar suara senapan
dan darah menetes dari kain sarung
selusin bayi terkapar
dan kalian tertawa-tawa melihatnya
di rimba ini aku semakin benci
di rimba ini tak ada kata hati
Jakarta, 7/2/1989
Sumber: Horison (April, 1989)
Analisis Puisi:
Puisi “Doa Dewa Ruci” karya M. Nasruddin Anshoriy Ch menghadirkan suasana gelap dan penuh kegelisahan batin. Melalui larik-larik singkat namun kuat, penyair menggambarkan perjalanan seseorang yang meninggalkan dunia penuh kekerasan dan kebencian demi mencari “embun abadi”, yang dapat dimaknai sebagai kedamaian, kebenaran, atau pencerahan spiritual. Puisi ini sarat dengan simbol dan kritik terhadap hilangnya nurani manusia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pencarian kedamaian dan kemanusiaan di tengah kekerasan dan kebencian. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema spiritualitas serta kekecewaan terhadap dunia yang kehilangan hati nurani.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang meninggalkan “hutan-hutan yang lebat berkabut”, sebuah simbol dunia yang gelap dan penuh ketidakjelasan. Ia pergi seorang diri untuk mencari “embun abadi”, yang menggambarkan harapan akan ketenangan atau makna hidup sejati.
Dalam perjalanan itu, penyair menyaksikan kekerasan: suara senapan, darah, dan bayi-bayi yang terkapar. Hal yang paling menyakitkan adalah adanya orang-orang yang justru tertawa melihat penderitaan tersebut. Pengalaman itu membuat penyair semakin muak terhadap dunia yang kehilangan rasa kemanusiaan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap kekerasan dan hilangnya empati manusia. “Rimba” dalam puisi dapat dimaknai bukan sekadar hutan, tetapi lambang kehidupan sosial yang kacau, brutal, dan tanpa nurani.
Sementara itu, “embun abadi” melambangkan sesuatu yang suci dan menenangkan, seperti kedamaian jiwa, kebijaksanaan, atau nilai kemanusiaan yang sejati. Penyair ingin menunjukkan bahwa di tengah dunia yang dipenuhi kebencian dan kekerasan, manusia tetap memiliki kerinduan untuk menemukan ketulusan dan kedamaian batin.
Judul “Doa Dewa Ruci” juga memberi nuansa spiritual. Dalam budaya Jawa, Dewa Ruci sering dikaitkan dengan pencarian jati diri dan kesempurnaan hidup. Karena itu, puisi ini dapat dipahami sebagai perjalanan batin menuju kesadaran diri.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa muram, sunyi, dan penuh kegelisahan. Gambaran tentang hutan berkabut, kelelawar malam, suara senapan, serta darah yang menetes menciptakan nuansa mencekam dan menyedihkan.
Di sisi lain, terdapat pula suasana reflektif dan spiritual ketika penyair mencari “embun abadi” seorang diri.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang ingin disampaikan penyair adalah pentingnya menjaga hati nurani dan rasa kemanusiaan. Puisi ini mengingatkan bahwa kekerasan dan kebencian hanya akan membuat manusia kehilangan makna hidup.
Selain itu, puisi ini juga mengajak pembaca untuk terus mencari kedamaian batin dan nilai-nilai kebaikan meskipun hidup berada di tengah dunia yang penuh konflik.
Imaji
Puisi ini mengandung beberapa imaji yang kuat, antara lain:
Imaji visual, misalnya:
“hutan-hutan yang lebat berkabut”“darah menetes dari kain sarung”
Larik tersebut menghadirkan gambaran yang jelas dan dramatis.
Imaji pendengaran, misalnya:
“kudengar suara senapan”
Pembaca seolah mendengar bunyi kekerasan yang terjadi.
Imaji gerak, misalnya:
“ketika kelelawar menyapu malam”
Gambaran ini membuat suasana malam terasa hidup dan mencekam.
Majas
Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
Metafora, misalnya:
“embun abadi”
Frasa ini melambangkan kedamaian atau pencerahan hidup.
Personifikasi, misalnya:
“kelelawar menyapu malam”
Kelelawar digambarkan seperti manusia yang dapat menyapu.
Simbolisme, misalnya:
“rimba” sebagai simbol dunia yang liar dan kehilangan nurani.
Puisi “Doa Dewa Ruci” karya M. Nasruddin Anshoriy Ch merupakan puisi yang kuat dalam menggambarkan pergulatan batin manusia di tengah dunia yang keras dan penuh kekerasan. Dengan simbol-simbol alam dan nuansa spiritual, penyair menyampaikan kritik sosial sekaligus pencarian makna hidup yang lebih damai dan manusiawi. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan pentingnya hati nurani dalam menjalani kehidupan.
Karya: M. Nasruddin Anshoriy Ch
Biodata M. Nasruddin Anshoriy Ch:
- M. Nasruddin Anshoriy Ch (biasa dipanggil Gus Nas) lahir pada tanggal 4 Mei 1965 di Yogyakarta.
- Ia menulis artikel, puisi, kolom, dan resensi buku di berbagai media, termasuk di antaranya Horison, Sinar Harapan, Prisma, Pelita, Amanah, Panji Masyarakat dan Kompas.
