Puisi: Elegi (Karya Sugiarta Sriwibawa)

Puisi “Elegi” karya Sugiarta Sriwibawa menyiratkan bahwa hidup adalah proses memahami diri, yang penuh kesalahan, penyesalan, dan akhirnya penerimaan.
Elegi

Mulanya pun samar memperhitungkan akhir
Dari tengah jarak yang ditarik mati antara
(kita hanya menjawabkan ruh)
Ah hati, hati yang masih kenal menyesal
Bertanya diri yang menanggung
Ketika muka-muka yang berkabung
Timbul kata-katanya
Menjadi kucinta dan kuhiba

Ajal pastilah pula kali lain bukan penyelesaian
(Muka-muka menatap tak tahu pada arah)
Keanehan yang selalu ada
Dan akan semakin panjang
Semakin bertanya
Tapi diturutinya sebab bukan ketakutan

Di seberang-menyeberang sepihak-sepihak menyeru
Dai yang lampau dengan amsal-amsal tua
Tapi laku dan tindak mengiraikan kendali
Justru dipesona dongeng-dongeng kelahiran
Dari hasil yang dicintai
Dari tubuh yang dinamai
Pernah dan masih dan akan bisa keliru

Diakuinya
Lahir nama masing-masing
Dikaguminya: telah ada awal?
Lantas tumungkul karena sama tahu
(Aku yang mengerti takut akan kengertianku)
Sesal yang ternyata ditagih dari kehidupan

Tapi kemudian saling berjabat tangan
(Aku yang mengerti puas akan kengertianku)

Kapan ada kisah dendam yang berkobar
Akhirnya padam dan berarang
Lalu pamitlah
Melipur muka-muka yang sungkawa

Sumber: Garis Putih (1983)

Analisis Puisi:

Puisi “Elegi” merupakan refleksi mendalam tentang kehidupan, kematian, penyesalan, dan kesadaran diri. Dengan bahasa yang kompleks dan kontemplatif, penyair menghadirkan pergulatan batin manusia dalam memahami eksistensi serta makna hidup yang tidak pernah benar-benar tuntas.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perenungan eksistensial tentang kehidupan, kematian, dan penyesalan. Selain itu, terdapat tema tentang kesadaran diri dan keterbatasan manusia dalam memahami makna hidup.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan batin manusia dalam menghadapi kenyataan hidup dan kematian. Sejak awal, penyair menyadari bahwa kehidupan selalu mengandung bayangan akhir (kematian), namun pemahaman terhadapnya tetap samar.

Dalam perjalanan tersebut, muncul penyesalan, pertanyaan, dan kesadaran akan kesalahan yang pernah dilakukan. Kehadiran “muka-muka berkabung” memperkuat suasana duka dan refleksi terhadap kehilangan.

Puisi ini juga menggambarkan bahwa kematian bukanlah penyelesaian, melainkan bagian dari misteri yang terus memunculkan pertanyaan. Di sisi lain, manusia tetap menjalani kehidupan, sering kali terpesona oleh harapan, kelahiran, dan pengalaman baru, meskipun berpotensi melakukan kesalahan yang sama.

Pada bagian akhir, terdapat semacam rekonsiliasi—manusia saling memahami, berjabat tangan, dan menerima kenyataan hidup, termasuk duka dan konflik yang pada akhirnya mereda.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini meliputi:
  • Jarak yang ditarik mati melambangkan batas antara kehidupan dan kematian.
  • Ruh yang menjawab menunjukkan dimensi spiritual dalam memahami hidup.
  • Penyesalan menjadi bagian penting dari kesadaran manusia.
  • Ajal bukan penyelesaian menyiratkan bahwa kematian tidak menghapus pertanyaan eksistensial.
  • Dongeng kelahiran mencerminkan harapan dan ilusi yang sering memikat manusia.
  • Berjabat tangan di akhir melambangkan penerimaan dan rekonsiliasi terhadap kehidupan.
Puisi ini menyiratkan bahwa hidup adalah proses memahami diri, yang penuh kesalahan, penyesalan, dan akhirnya penerimaan.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini dominan sendu, reflektif, dan filosofis, dengan nuansa duka, kebingungan, dan akhirnya ketenangan yang pasrah.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat diambil dari puisi ini antara lain:
  • Kehidupan adalah proses panjang untuk memahami diri dan makna eksistensi.
  • Penyesalan adalah bagian dari kesadaran manusia yang tidak bisa dihindari.
  • Kematian bukan akhir dari pertanyaan, melainkan bagian dari misteri kehidupan.
  • Manusia perlu menerima ketidaksempurnaan dan belajar berdamai dengan dirinya sendiri.
  • Konflik dan dendam pada akhirnya akan mereda jika ada kesadaran dan penerimaan.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji yang bersifat abstrak namun kuat:
  • Imaji visual: “muka-muka berkabung”, “berjabat tangan”, “arang yang padam”.
  • Imaji emosional: penyesalan, kebingungan, kesedihan, penerimaan.
  • Imaji konseptual: ruh, ajal, kelahiran, dan kesadaran.
  • Imaji simbolik: perjalanan batin manusia.
Imaji-imaji ini memperkuat nuansa reflektif dan filosofis.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini meliputi:
  • Metafora: “jarak yang ditarik mati”, “dongeng kelahiran”.
  • Personifikasi: konsep abstrak seperti ajal dan penyesalan yang diperlakukan seolah hidup.
  • Simbolisme: ruh, kematian, kelahiran sebagai simbol eksistensi manusia.
  • Paradoks: kematian bukan penyelesaian, pemahaman justru melahirkan ketakutan.
Puisi “Elegi” karya Sugiarta Sriwibawa merupakan perenungan eksistensial yang mendalam tentang kehidupan dan kematian. Dengan bahasa yang filosofis dan simbolik, puisi ini mengajak pembaca untuk memahami bahwa hidup adalah perjalanan penuh pertanyaan, penyesalan, dan pada akhirnya penerimaan terhadap diri sendiri dan kenyataan.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Elegi
Karya: Sugiarta Sriwibawa

Biodata Sugiarta Sriwibawa:
  • Sugiarta Sriwibawa lahir di Surakarta, pada tanggal 31 Maret 1932.
© Sepenuhnya. All rights reserved.