Puisi: Gereja Peterongan (Karya Ragil Suwarna Pragolapati)

Puisi “Gereja Peterongan” karya Ragil Suwarna Pragolapati menyampaikan kritik terhadap fanatisme agama sekaligus mengajak pembaca memahami hakikat ...
Gereja Peterongan

Hening! Suasana Eropawi dipersuci koleksi antik
Kau bukan jemaah Katholik. Hanya musafir asing
Melihat dan menghayati. Iman butuh pembanding
Kini pada taraf seni tinggilah nilai lestari
Saat membersihkan lumpur-debu di rongga hati
Kau membisu, menyimpan 1.001 tandatanya dada
Membayar uang kolekte tanpa nyanyi dan komuni
Menyimak kumandang khotbah, bacaan ayat-ayat
Aneh! Iman Islam tambah hidup, mutu dan kuat
Allah di mana? Ada di masjid, juga di gereja

Kepada siapa Allah memihak? Bukan pada jemaah
Tuhan hanya Sang Tunggal tanpa sekutu saingan
Dia tidak butuh menang-kalah. Emoh blok-blokan
Hanya manusia sendiri asyik membangun golongan
Lalu menangkap Allah dalam kerangkeng monopoli
Yakin di luar jamaah hanya ada neraka kesesatan
Engkau tersenyum menyaksikan ayat Allah dikunyah
Mengenyangkan hati. Tapi memperlapar akal-pikir
Allah disekap di surga berterali. Mewah. Indah
Misa pun berakhir. Keluar. Berbuat dosa lagi

Di pintu luar kau menunduk, memelihara jiwa sadar
Yakin para Nabi tidak pernah kelahi dan bertengkar
Beribu kitab-suci berasal dan Maha Sumber Tunggal
Allah memihak diri-Nya sendiri, bukan aku dan kami
Engkaulah yang harus memihak Dia. Yakin lagi setia
Tidak perlu berperang, berebutan kebenaran tunggal
Tidak butuh bertikai, berkubu agama rumah ibadah
Perang bukan doktrin agama, bukan firman Cinta
Di pintu kau menggigil. Monopoli Allah mustahil
Di luar, orang terus bertikai memakai Kitab Suci

Semarang, Oktober 1981

Sumber: Salam Penyair (2002)

Analisis Puisi:

Puisi “Gereja Peterongan” karya Ragil Suwarna Pragolapati merupakan puisi reflektif yang membahas toleransi beragama, kemanusiaan, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Melalui pengalaman seseorang yang berada di dalam gereja, penyair menyampaikan kritik terhadap fanatisme agama sekaligus mengajak pembaca memahami hakikat ketuhanan yang universal.

Tema

Tema utama puisi ini adalah toleransi beragama dan pencarian makna ketuhanan yang melampaui sekat-sekat golongan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • Tuhan tidak dapat dimonopoli oleh satu golongan atau agama tertentu.
  • Semua agama pada dasarnya mengajarkan kebaikan dan cinta kasih.
  • Konflik atas nama agama lebih banyak muncul karena manusia, bukan karena ajaran Tuhan itu sendiri.
  • Keimanan sejati justru dapat tumbuh melalui sikap terbuka dan penghormatan terhadap perbedaan.
Penyair mengajak pembaca memahami bahwa spiritualitas lebih penting daripada fanatisme kelompok.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini meliputi:
  • Hening dan khusyuk.
  • Kontemplatif dan reflektif.
  • Kritis terhadap konflik keagamaan.
  • Damai namun menyimpan kegelisahan sosial.
Suasana tersebut membuat puisi terasa mendalam dan filosofis.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat dipahami dari puisi ini antara lain:
  • Manusia harus saling menghormati antaragama dan tidak merasa paling benar sendiri.
  • Tuhan adalah milik semua manusia, bukan milik satu kelompok tertentu.
  • Agama seharusnya menjadi jalan cinta kasih dan perdamaian, bukan sumber pertikaian.
  • Fanatisme dan monopoli kebenaran dapat merusak nilai-nilai kemanusiaan.

Imaji

Puisi ini menghadirkan berbagai imaji yang kuat, seperti:
  • Imaji visual: gereja bergaya Eropa, koleksi antik, misa, pintu gereja.
  • Imaji pendengaran: kumandang khotbah, bacaan ayat-ayat, suasana misa.
  • Imaji perasaan: hening, menggigil, perenungan batin.
  • Imaji simbolik: gereja sebagai ruang refleksi spiritual dan toleransi.
Imaji-imaji tersebut memperkuat nuansa religius dan reflektif dalam puisi.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: “Allah disekap di surga berterali”, “ayat Allah dikunyah”.
  • Personifikasi: ayat yang “mengenyangkan hati” dan “memperlapar akal-pikir”.
  • Ironi: manusia berbicara tentang Tuhan, tetapi tetap bertikai.
  • Satire/Kritik sosial: kritik terhadap fanatisme agama dan monopoli kebenaran.
  • Simbolisme: gereja dan masjid sebagai simbol jalan spiritual manusia.
  • Hiperbola: “1.001 tanda tanya dada” untuk menggambarkan kegelisahan batin yang besar.
Puisi “Gereja Peterongan” merupakan renungan mendalam tentang toleransi, kemanusiaan, dan hakikat Tuhan yang universal. Ragil Suwarna Pragolapati menghadirkan kritik sosial dan spiritual terhadap manusia yang gemar bertikai atas nama agama. Puisi ini mengajak pembaca untuk melihat agama sebagai jalan cinta dan kesadaran, bukan alat pemisah antar-manusia.

Ragil Suwarna Pragolapati
Puisi: Gereja Peterongan
Karya: Ragil Suwarna Pragolapati

Biodata Ragil Suwarna Pragolapati:
  • Ragil Suwarna Pragolapati lahir di Pati, pada tanggal 22 Januari 1948.
  • Ragil Suwarna Pragolapati dinyatakan menghilang di Parangtritis, Yogyakarta, pada tanggal 15 Oktober 1990.
  • Ragil Suwarna Pragolapati menghilang saat pergi bersemadi ke Gunung Semar. Dalam perjalanan pulang dari kaki Gunung Semar menuju Gua Langse (beliau berjalan di belakang murid-muridnya) tiba-tiba menghilang. Awalnya murid-muridnya menganggap hal tersebut sebagai kejadian biasa karena orang sakti lumrah bisa menghilang. Namun, setelah tiga hari tiga malam tidak kunjung pulang dan dicari ke mana-mana tidak diketemukan. Tidak jelas keberadaannya sampai sekarang, apakah beliau masih hidup atau sudah meninggal.
© Sepenuhnya. All rights reserved.