Puisi: Gerimis dalam Kabut (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Gerimis dalam Kabut” karya Gunoto Saparie bercerita tentang seseorang yang berada dalam suasana gerimis dan kabut. Alam yang basah dan ...
Gerimis dalam Kabut

gerimis pun menderai dalam kabut
turun membasahi bukit kelabu dan kabur
mendadak terasa cintamu begitu samar
jauh tak tersentuh, mungkin bagaikan langit

mendadak terasa senyap mengendap di hati
di sepanjang musim penghujan ini
malam pun lingsir, makin pekat
kepak sayap kelelawar menghalau riwayat

haruskah aku ingat pada entah siapa
ingat ranting, dahan, dan kuyup dedaunan 
haruskah aku ingat pada yang hilang-musna
ketika ada yang berdenyut dalam kesepian

2020

Analisis Puisi:

Puisi “Gerimis dalam Kabut” karya Gunoto Saparie menghadirkan suasana alam yang lembut sekaligus menyiratkan gejolak batin yang dalam. Melalui perpaduan citraan gerimis, kabut, dan malam, penyair membangun ruang refleksi tentang cinta, kehilangan, dan kesepian.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesamaran perasaan cinta yang beriringan dengan kesepian dan kenangan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada dalam suasana gerimis dan kabut. Alam yang basah dan kelabu menjadi latar bagi perasaan yang mulai memudar—cinta yang dulu terasa dekat kini menjadi samar dan jauh. Dalam kesunyian musim hujan, penyair tenggelam dalam kenangan, mempertanyakan apakah ia harus terus mengingat sesuatu yang telah hilang, sementara kesepian tetap berdenyut di dalam dirinya.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah cinta yang tidak lagi jelas dapat berubah menjadi kenangan yang menyakitkan, dan manusia sering terjebak dalam dilema antara melupakan atau terus mengingat. Kesamaran alam mencerminkan kebingungan batin.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa sendu, hening, dan melankolis, dengan nuansa kesepian yang kuat dan perlahan menekan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan pesan agar manusia mampu menghadapi kehilangan dengan bijak, serta tidak terjebak terlalu lama dalam kenangan yang justru memperdalam kesepian.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji yang memperkuat suasana:
  • Imaji visual: “kabut”, “bukit kelabu”, “malam makin pekat” menciptakan gambaran yang suram.
  • Imaji peraba: “membasahi” memberi kesan dingin dan lembap.
  • Imaji gerak: “kepak sayap kelelawar” menambah nuansa misterius dan gelap.
  • Imaji perasaan: kesepian dan kerinduan yang samar.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini:
  • Metafora: kabut sebagai simbol ketidakjelasan perasaan.
  • Personifikasi: “senyap mengendap di hati” seolah-olah kesunyian memiliki sifat hidup.
  • Simile: “cintamu … bagaikan langit” untuk menggambarkan jarak yang tak terjangkau.
  • Simbolisme: musim hujan melambangkan kesedihan dan perenungan.
  • Pertanyaan retoris: “haruskah aku ingat…” menegaskan kebimbangan batin.
Puisi “Gerimis dalam Kabut” merupakan refleksi puitis tentang cinta yang memudar dan kesepian yang menyertainya. Gunoto Saparie dengan halus memadukan suasana alam dan perasaan manusia, sehingga menghadirkan pengalaman emosional yang mendalam bagi pembaca.

Puisi Gunoto Saparie
Puisi: Gerimis dalam Kabut
Karya: Gunoto Saparie


Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya.

Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.