Puisi: Hidup Bersama Si Hitam Manis (Karya Jang Sukmanbrata)

Puisi “Hidup Bersama Si Hitam Manis” karya Jang Sukmanbrata mengajarkan bahwa hidup tidak dapat dipahami secara sederhana dalam batas hitam dan putih.

Hidup Bersama Si Hitam Manis

aku suka si hitam manis
berpuluh tahun kuminum bagai kopi,
cinta kasihnya mahar indah tradisionil
bayanganmu adalah bulu mata
melayang di pucuk dedaunan mawar merah.

aku suka hitam manis
empat putri lahir itu bukti
Tuhan dan hutan jati mengerti
dititipkannya putri sulung hitam manis
pohon isyarat padaku agar selalu ingat mati.

kedua ketiga kulitnya putih
membuat jalan kesukaan moyang laki
keempat putri bungsu berkulit hitam manis
hukum berhitam-putih bukanlah hidup mutlak
barisan ayat yang kubaca saat bulan purnama.

ya, aku sayang hitam manis
indahnya mawar kuyup gerimis
tangkai liat yang menolak kering.

Bukit Padalarang
8 Juni 2019 - April, 2022

Analisis Puisi:

Puisi “Hidup Bersama Si Hitam Manis” karya Jang Sukmanbrata menghadirkan ungkapan cinta dan penerimaan terhadap sosok “si hitam manis” yang menjadi bagian penting dalam kehidupan penyair. Dengan bahasa yang lembut dan simbolis, penyair membicarakan cinta, keluarga, keturunan, hingga pandangan hidup yang menolak penilaian berdasarkan warna kulit atau perbedaan lahiriah.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta, penerimaan, dan penghargaan terhadap kehidupan apa adanya. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema keluarga dan kebijaksanaan dalam memandang perbedaan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mencintai sosok “si hitam manis”. Sosok tersebut digambarkan sangat berarti dalam hidupnya, bahkan cinta kepadanya diibaratkan seperti menikmati kopi selama bertahun-tahun.

Penyair kemudian menceritakan kehidupan keluarganya, terutama tentang empat putrinya yang memiliki warna kulit berbeda-beda. Ada yang berkulit hitam manis dan ada yang putih. Dari pengalaman itu, penyair menyadari bahwa hidup tidak bisa dipandang secara hitam-putih atau mutlak.

Puisi ini juga memperlihatkan rasa syukur dan penerimaan terhadap takdir kehidupan yang diberikan Tuhan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap cara pandang manusia yang sering menilai berdasarkan warna kulit atau penampilan luar. Penyair ingin menunjukkan bahwa keindahan dan kasih sayang tidak ditentukan oleh standar fisik tertentu.

“Hitam manis” dalam puisi dapat dimaknai sebagai simbol keaslian, kesederhanaan, dan kecantikan alami yang diterima dengan penuh cinta. Selain itu, keberagaman warna kulit anak-anaknya menjadi simbol bahwa kehidupan memiliki banyak bentuk dan tidak dapat dipaksakan dalam satu ukuran mutlak.

Larik:

“hukum berhitam-putih bukanlah hidup mutlak”

menegaskan bahwa hidup jauh lebih luas daripada sekadar pembagian benar-salah atau hitam-putih.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa hangat, penuh kasih, dan reflektif. Ada nuansa romantis dalam ungkapan cinta kepada “si hitam manis”, tetapi juga terasa tenang dan bijaksana ketika penyair merenungkan keluarga dan kehidupan.

Beberapa bagian juga menghadirkan suasana syukur dan kedamaian batin.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan yang ingin disampaikan penyair adalah pentingnya menerima kehidupan dan manusia apa adanya tanpa memandang perbedaan fisik. Cinta sejati lahir dari ketulusan hati, bukan dari penampilan luar.

Selain itu, puisi ini mengajarkan bahwa hidup tidak dapat dipahami secara sederhana dalam batas hitam dan putih. Manusia perlu memiliki kebijaksanaan dan keluasan hati dalam memahami kehidupan.

Imaji

Puisi ini mengandung beberapa jenis imaji, antara lain:

Imaji visual, misalnya:

“melayang di pucuk dedaunan mawar merah”
“indahnya mawar kuyup gerimis”

Gambaran ini menghadirkan kesan indah dan lembut.

Imaji rasa, misalnya:

“kuminum bagai kopi”

Pembaca dapat membayangkan rasa dan kenikmatan kopi sebagai simbol cinta.

Imaji perasaan, misalnya:

“ya, aku sayang hitam manis”

Menunjukkan emosi kasih sayang yang kuat dan tulus.

Majas

Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:

Metafora, misalnya:

“kuminum bagai kopi”

Cinta diibaratkan seperti menikmati kopi yang akrab dan terus menemani hidup.

Personifikasi, misalnya:

“Tuhan dan hutan jati mengerti”

Hutan jati digambarkan seolah memiliki kemampuan memahami.

Simbolisme, misalnya:

“hitam manis” sebagai simbol kecantikan alami dan penerimaan diri.

Perumpamaan, misalnya:

“bayanganmu adalah bulu mata”

Digunakan untuk menggambarkan sosok yang lembut dan indah.

Puisi “Hidup Bersama Si Hitam Manis” karya Jang Sukmanbrata merupakan puisi yang berbicara tentang cinta, keluarga, dan penerimaan hidup secara bijaksana. Melalui simbol “hitam manis”, penyair menyampaikan bahwa keindahan sejati tidak ditentukan oleh warna kulit atau penampilan luar. Dengan bahasa yang lembut dan penuh perenungan, puisi ini mengajak pembaca untuk menghargai keberagaman dan memandang hidup dengan hati yang lebih luas.

Puisi Jang Sukmanbrata
Puisi: Hidup Bersama Si Hitam Manis
Karya: Jang Sukmanbrata

Biodata Jang Sukmanbrata:
Jang Sukmanbrata lahir pada tanggal 17 Agustus 1964 di Bandung. Ia menulis karya sastra dengan bahasa Sunda dan bahasa Indonesia dalam berbagai genre mulai dari puisi, guguritan, lirik, balada, epik, naratif, tanka, haiku, dan bahkan esai.

Puisi-puisinya terangkum di berbagai Buku Antologi Puisi, seperti Penyair Bandung (1981), Negeri Pesisiran (2019), Negeri Rantau (2020), Raja Kelana (2022) dan beberapa lainnya.

Karya sastranya yang lain bisa dijumpai dan tersebar di berbagai Media Online dan Media Offline, seperti di Majalah Basis, koran Bali Pos, Pikiran Rakyat Bandung, dan lain sebagainya.

Jang Sukmanbrata saat ini aktif mengadvokasi - melestarikan nilai-nilai Kabuyutan Sunda-Nusantara.
© Sepenuhnya. All rights reserved.