Jakarta
Mari kita bertukar lemper
dan saling merasakan ada
yang lengket di hati kita.
Aku punya sebungkus Djarum Super
di saku jaket--cukup buat kita berdua
sampai bis ini tiba di Jakarta.
Kita bisa bakar sebatang lagi
sebab bau benguk pada sarung kursi
tak akan menjadi sebuah puisi.
"Wati," kataku.
Dua jam lagi, atau lebih,
kita akan sampai di Pantura.
Ia meludahkan biji-biji jeruk
ke telapak tangannya
ketika ia kenang lagi Yogyakarta
dan aku setengah mati menahan mabuk.
Lalu ia bukakan untukku
sebotol minyak kayu putih
seiring lagu dangdut menindih,
menggebuk miring pangkal leherku.
Masa lalu biarlah berlalu.
Jangan kau ungkit jangan ingatkan asu.
Sebuah kereta baru saja melintas
dan palang pintu mulai terbuka.
Swara gujes-gujes masih tersisa
di dalam telinga.
Kurasakan juga senja menguwes-uwes
gambar keharuan yang baru saja menetas
di luar jendela.
Setelah itu,
di jalan cuma ada gelap
persis seperti masa depan.
"Wati, inilah masa depan."
Ia berbalik badan, tertidur,
kulihat mimpinya dari bayangan
yang memantul di kaca jendela,
pasrah disembur angin pembangunan.
Sumber: Antarkota Antarpuisi (baNANA, 2019)
Analisis Puisi:
Puisi “Jakarta” karya Beni Satryo menghadirkan perjalanan sederhana di dalam bus menuju Jakarta, tetapi di balik suasana sehari-hari itu tersimpan kegelisahan tentang masa depan, kenangan, dan kehidupan masyarakat kecil. Dengan bahasa yang akrab dan realistis, puisi ini memadukan nuansa perjalanan, nostalgia, serta kritik sosial terhadap pembangunan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup, masa depan, dan kegelisahan sosial. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kenangan masa lalu dan harapan yang samar terhadap kehidupan di kota besar.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan penyair dan seorang bernama Wati menuju Jakarta menggunakan bus. Dalam perjalanan tersebut, mereka berbagi makanan, rokok, kenangan, dan percakapan sederhana.
Di tengah suasana perjalanan Pantura, penyair mengenang kehidupan, mabuk perjalanan, lagu dangdut, hingga bayangan tentang masa depan yang gelap. Jakarta dalam puisi ini tidak hanya menjadi tujuan perjalanan, tetapi juga simbol masa depan yang penuh ketidakpastian.
Bagian akhir puisi memperlihatkan Wati yang tertidur dan tampak “pasrah disembur angin pembangunan”, sebuah gambaran kuat tentang rakyat kecil yang terbawa arus perubahan zaman.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap pembangunan dan kehidupan modern yang sering kali membuat manusia kehilangan arah dan harapan.
Jakarta digambarkan bukan sebagai kota impian yang gemerlap, melainkan ruang yang penuh ketidakjelasan. Kalimat “di jalan cuma ada gelap / persis seperti masa depan” menunjukkan rasa pesimis terhadap kehidupan yang akan dijalani.
Selain itu, puisi ini juga menyiratkan bahwa manusia kecil tetap berusaha bertahan melalui kebersamaan, kenangan, dan hal-hal sederhana di tengah kerasnya kehidupan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa kehidupan modern dan pembangunan tidak selalu membawa kebahagiaan bagi semua orang. Manusia sering kali harus menghadapi ketidakpastian hidup dengan pasrah.
Puisi ini juga mengingatkan pentingnya kebersamaan dan kemanusiaan di tengah perjalanan hidup yang keras dan melelahkan.
Imaji
Beberapa imaji yang muncul dalam puisi ini antara lain:
- Imaji visual, seperti “sebungskus Djarum Super”, “palang pintu”, “kaca jendela”, dan “gelap di jalan”.
- Imaji pendengaran, tampak pada “lagu dangdut”, “swara gujes-gujes”, dan suara kereta yang melintas.
- Imaji penciuman, hadir melalui “bau benguk pada sarung kursi”.
- Imaji gerak, terlihat pada kereta melintas, palang pintu terbuka, dan angin pembangunan yang “menyembur”.
- Imaji perasaan, menghadirkan rasa lelah, mabuk, nostalgia, dan kecemasan akan masa depan.
Majas
Puisi ini menggunakan beberapa majas, di antaranya:
- Metafora, pada kalimat “di jalan cuma ada gelap / persis seperti masa depan” yang menyamakan masa depan dengan kegelapan.
- Personifikasi, pada ungkapan “senja menguwes-uwes gambar keharuan” dan “angin pembangunan”.
- Ironi, terlihat pada gambaran pembangunan yang justru membuat manusia menjadi pasrah dan kehilangan harapan.
- Simbolisme, Jakarta menjadi simbol masa depan, modernitas, dan kerasnya kehidupan kota.
- Hiperbola, tampak pada ungkapan “aku setengah mati menahan mabuk”.
Puisi “Jakarta” karya Beni Satryo adalah puisi perjalanan yang sederhana tetapi sarat makna sosial dan emosional. Melalui percakapan ringan di dalam bus, penyair menghadirkan gambaran tentang kehidupan masyarakat kecil yang menghadapi masa depan penuh ketidakpastian. Jakarta dalam puisi ini bukan hanya sebuah kota, melainkan simbol harapan sekaligus kegelisahan manusia modern.
Karya: Beni Satryo
Biodata Beni Satryo:
- Beni Satryo lahir pada tanggal 21 November 1988 di Jakarta.