Puisi: Jalanan Kampung (Karya Rusli Marzuki Saria)

Puisi “Jalanan Kampung” karya Rusli Marzuki Saria adalah gambaran kehangatan kehidupan kampung yang penuh interaksi, namun juga menyiratkan ...
Jalanan Kampung

Jalanan kampung
Gonjong surau kampung
Di pintu garin mencibir
Di mulutnya kumat-kamit takbir

Jalanan kampung
Kias kata memercik di telinga
Gadis rumah gadang ini melambaikan tangannya
Pejalan ini bertanya: – Adik ini siapa jodohnya?

1963

Sumber: Parewa (1998)

Analisis Puisi:

Puisi “Jalanan Kampung” karya Rusli Marzuki Saria merupakan puisi yang menggambarkan kehidupan sosial di lingkungan kampung dengan sentuhan budaya Minangkabau. Melalui potret sederhana jalanan kampung, penyair menghadirkan interaksi manusia, nilai religius, serta dinamika sosial yang hidup di dalamnya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehidupan sosial dan budaya masyarakat kampung yang sarat dengan nilai tradisi dan religiusitas.

Puisi ini bercerita tentang suasana di jalanan sebuah kampung, di mana berbagai elemen kehidupan hadir secara bersamaan. Ada surau dengan gonjong khas Minangkabau, sosok garin yang melantunkan takbir, serta interaksi sosial seperti percakapan ringan dan sapaan antarwarga. Kehadiran seorang gadis yang melambaikan tangan dan pertanyaan tentang jodoh menunjukkan kebiasaan masyarakat yang akrab dan terbuka.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah gambaran kehangatan kehidupan kampung yang penuh interaksi, namun juga menyiratkan kebiasaan sosial yang kadang mencampuri ranah pribadi, seperti urusan jodoh. Selain itu, puisi ini menegaskan pentingnya tradisi dan nilai religius dalam kehidupan masyarakat.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa hangat, akrab, dan hidup, dengan nuansa khas kampung yang sederhana namun penuh warna.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan pesan agar kita menghargai nilai kebersamaan dan tradisi dalam kehidupan masyarakat, namun tetap menjaga batas dalam menghormati kehidupan pribadi orang lain.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji yang cukup jelas:
  • Imaji visual: “gonjong surau kampung”, “gadis rumah gadang melambaikan tangan” menggambarkan suasana khas Minangkabau.
  • Imaji auditif: “kumat-kamit takbir”, “kias kata memercik di telinga” menghadirkan suasana bunyi dan percakapan.
  • Imaji gerak: aktivitas melambaikan tangan dan percakapan antarwarga.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini:
  • Metafora: “kias kata memercik di telinga” menggambarkan percakapan yang terasa hidup dan tajam.
  • Personifikasi: kata-kata seolah “memercik” seperti benda cair.
  • Simbolisme: surau melambangkan pusat kehidupan religius masyarakat.
  • Repetisi: pengulangan frasa “jalanan kampung” menegaskan latar dan fokus puisi.
Puisi “Jalanan Kampung” merupakan potret sederhana namun bermakna tentang kehidupan masyarakat tradisional. Rusli Marzuki Saria berhasil menangkap detail kecil yang mencerminkan identitas budaya, interaksi sosial, dan nilai-nilai yang hidup dalam keseharian masyarakat kampung.

Rusli Marzuki Saria
Puisi: Jalanan Kampung
Karya: Rusli Marzuki Saria

Biodata Rusli Marzuki Saria:
  • Rusli Marzuki Saria lahir di Kamang, Bukittinggi, pada tanggal 26 Februari 1936.
© Sepenuhnya. All rights reserved.