Puisi: Kabut Pagi (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "Kabut Pagi" menghadirkan suasana alam yang tenang setelah hujan pagi dan merujuk pada perasaan rindu dan keinginan dalam hati.
Kabut Pagi

ada kabut tipis sehabis hujan pagi
ada yang merindukanmu di depan jendela
tetapi siapakah yang berdenyut di dalam hati
berkisah soal berahi dan dendam meronta

2021

Analisis Puisi:

Puisi "Kabut Pagi" menghadirkan suasana alam yang tenang setelah hujan pagi dan merujuk pada perasaan rindu dan keinginan dalam hati.

Kabut Pagi dan Hujan Pagi: Puisi ini membuka dengan gambaran kabut tipis yang muncul setelah hujan pagi. Ini adalah gambaran yang sangat visual tentang suasana alam yang tenang dan segar setelah hujan. Kabut pagi seringkali dianggap sebagai simbol ketenangan dan keindahan.

Rindu dan Keinginan: Puisi ini menyiratkan bahwa ada seseorang yang merindukan atau menginginkan seseorang yang mungkin tidak ada di dekatnya. Kata-kata "ada yang merindukanmu di depan jendela" menggambarkan rasa rindu yang kuat. Namun, puisi ini juga bertanya, "siapakah yang berdenyut di dalam hati," yang bisa mengacu pada perasaan campur aduk, termasuk hasrat dan kemarahan.

Bahasa yang Simpel: Penulis menggunakan bahasa yang sederhana dan deskriptif dalam puisi ini. Ini membuat puisi mudah dipahami tetapi juga memungkinkan pembaca untuk menciptakan gambaran mental yang kuat tentang adegan kabut pagi dan perasaan yang diungkapkan.

Tafsiran yang Terbuka: Puisi ini memiliki tafsiran yang terbuka dan memungkinkan berbagai interpretasi. Itu bisa menjadi tentang rindu dalam konteks hubungan, keinginan yang tidak terucapkan, atau perasaan bercampur tentang seseorang atau sesuatu yang hilang atau tidak dapat diakses.

Suasana dan Emosi: Puisi ini berhasil menciptakan suasana yang tenang dan sejuk, menggambarkan alam setelah hujan pagi. Namun, ada juga sentuhan emosi yang kompleks dalam kata-kata seperti "berahi dan dendam meronta," yang menunjukkan adanya ketegangan atau perasaan yang kuat di dalam hati yang merindukan.

Puisi "Kabut Pagi" adalah karya yang singkat tetapi memikat yang menggambarkan keindahan alam dan perasaan yang rumit. Ini mengajak pembaca untuk merenungkan tentang emosi dan keinginan yang mungkin ada dalam hati seseorang dalam situasi tertentu.

Gunoto Saparie
Puisi: Kabut Pagi
Karya: Gunoto Saparie


Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.

Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri. Tinggal di Jalan Taman Karonsih 654, Ngaliyan, Semarang.
© Sepenuhnya. All rights reserved.