Kalau Kau Datang
Kalau kau datang berdiri di pintu kamar itu
sungguh sinar bayangan kau yang perkasa
apa yang akan terjadi sahabatku?
Berilah aku salam.
Jangan tuding tubuhku yang terhenyak
di ranjang dingin ini.
Sungguh aku sekarang terikat oleh rabun malam
membuka perjanjian yang lama aku setuju.
Bukankah kau pasti datang
menjamah diriku
akan balik membawa berita.
Sebentar malam langit akan terbuka
karena telah kau ketuk pintunya.
Bawalah aku masuk kepadanya.
1981
Sumber: Malam Hujan (2012)
Analisis Puisi:
Puisi “Kalau Kau Datang” karya Hijaz Yamani merupakan puisi yang sarat nuansa spiritual dan kontemplatif. Melalui bahasa yang lembut dan simbolis, penyair menggambarkan pertemuan manusia dengan sesuatu yang agung, yang dapat dimaknai sebagai kematian, takdir, atau panggilan Ilahi.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kematian dan kepasrahan spiritual. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema penantian dan hubungan manusia dengan Tuhan atau kehidupan setelah dunia.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang sedang menunggu kedatangan sosok tertentu. Sosok tersebut disebut sebagai “sahabat”, tetapi dari keseluruhan isi puisi, kehadirannya dapat dimaknai sebagai simbol maut atau utusan Tuhan.
Penyair berada di ranjang dingin dalam keadaan lemah dan pasrah. Ia meminta agar sosok yang datang tidak menghakiminya, melainkan memberi salam dan membawanya menuju tempat yang lebih tinggi atau suci.
Pada bagian akhir, terdapat ungkapan:
“Bawalah aku masuk kepadanya.”
Kalimat ini memperkuat kesan bahwa puisi berbicara tentang perjalanan menuju kehidupan setelah kematian atau menuju hadirat Tuhan.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa kematian bukan semata-mata sesuatu yang menakutkan, melainkan bagian dari “perjanjian lama” yang pasti dialami manusia.
Ungkapan:
“Bukankah kau pasti datang”
menyiratkan bahwa kematian adalah kepastian yang tidak bisa dihindari. Namun, penyair menghadirkannya dengan nada tenang dan penuh penerimaan.
Puisi ini juga menyiratkan kerinduan manusia untuk memperoleh kedamaian spiritual setelah melewati kehidupan dunia yang penuh keterbatasan.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi terasa hening, sendu, dan religius. Ada nuansa pasrah sekaligus tenang dalam menghadapi sesuatu yang besar dan tak terelakkan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Puisi ini mengajak pembaca untuk menyadari bahwa kehidupan memiliki akhir, dan manusia perlu mempersiapkan diri secara spiritual. Selain itu, puisi ini juga mengandung pesan agar manusia menerima takdir dengan ketenangan dan keikhlasan.
Imaji
Beberapa imaji yang muncul dalam puisi ini antara lain:
- Imaji visual, seperti: “berdiri di pintu kamar”, “ranjang dingin”, “langit akan terbuka”.
- Imaji perasaan, tampak pada: “terikat oleh rabun malam” suasana penantian dan kepasrahan
- Imaji suasana, melalui gambaran kamar yang sunyi dan langit yang terbuka menjelang malam.
Majas
Puisi ini menggunakan beberapa majas, di antaranya:
- Metafora, misalnya: “rabun malam”. Ungkapan ini dapat dimaknai sebagai kelemahan manusia menghadapi hidup dan kematian.
- Personifikasi, seperti: “langit akan terbuka”, “kau ketuk pintunya”. Langit digambarkan seperti memiliki pintu yang dapat diketuk.
- Simbolisme, terlihat pada: pintu kamar, ranjang dingin, langit terbuka. Semua simbol tersebut berkaitan dengan perpindahan dari kehidupan dunia menuju dimensi spiritual.
Puisi “Kalau Kau Datang” karya Hijaz Yamani merupakan puisi reflektif yang membahas kematian dan kepasrahan manusia secara halus dan puitis. Dengan simbol-simbol spiritual dan suasana yang tenang, penyair mengajak pembaca memahami kematian bukan hanya sebagai akhir, tetapi juga sebagai perjalanan menuju sesuatu yang lebih abadi.
