Puisi: Kali Martapura (Karya Hijaz Yamani)

Puisi “Kali Martapura” karya Hijaz Yamani mengingatkan pembaca agar lebih peka terhadap kehidupan masyarakat kecil yang berjuang mencari nafkah ...
Kali Martapura

Kali Martapura airnya coklat
Mendesir-desir pada tepi lanting-lanting tua
Banjarmasin kotaku di liku-likunya
Bertepi gedung-gedung pasar baru

Di sini tempat perenangan segala yang bertaruh pada hidup
Seolah-olah tidak pupus liuk-liuk yang bermanusia
Dan ada juga orang-orang letih di sini
Tiduran di samping jembatan panjang
Kerongkongannya menggelepar-gelepar dahaga
Oh, rindunya rumah-rumah tempat bermimpi tak berembun

Ohoi dukuh-dukuh berkayuh-kayuhan
Buah dadanya berkeliaran dalam baju hitam
Di wajah berkudung sutra – jalang matanya

Di kaliku beratus benda menggetari air
Sedang sinar mencerah di mataku
Dan mereka kuperam dalam hati rindu
– Hai segala penghuni pasar di atas kali
Mari kita tawa-menawar dan bermurah hati

1957

Sumber: Tanah Huma (1978)
Catatan:
Lanting = rumah di atas air.
Dukuh = perempuan penjual ikan dan sayuran dengan perahu kecil.

Analisis Puisi:

Puisi “Kali Martapura” karya Hijaz Yamani menggambarkan kehidupan masyarakat di sekitar Sungai Martapura, Banjarmasin. Penyair menghadirkan suasana sungai yang ramai, keras, tetapi tetap menyimpan kehangatan kehidupan masyarakatnya. Melalui gambaran pasar terapung, lanting, serta para dukuh yang berkayuh di sungai, puisi ini memperlihatkan denyut kehidupan khas masyarakat sungai di Kalimantan Selatan.

Puisi ini tidak hanya menggambarkan suasana fisik sungai, tetapi juga menyimpan renungan tentang perjuangan hidup, kerinduan, dan kehidupan sosial masyarakat kecil.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehidupan masyarakat sungai dan perjuangan hidup. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema sosial, kerinduan, dan kehidupan rakyat kecil di lingkungan pasar sungai.

Puisi ini bercerita tentang kehidupan di sekitar Kali Martapura yang menjadi pusat aktivitas masyarakat. Sungai digambarkan sebagai tempat berbagai orang mempertaruhkan hidupnya demi mencari nafkah.

Penyair memperlihatkan suasana pasar sungai yang ramai dengan para dukuh yang berkayuh menggunakan perahu kecil sambil berdagang. Di sisi lain, puisi ini juga menggambarkan orang-orang letih yang hidup dalam kesulitan dan kehausan akan kehidupan yang lebih baik.

Melalui suasana Kali Martapura, penyair menunjukkan bahwa sungai bukan hanya tempat mengalirnya air, tetapi juga tempat mengalirnya harapan, perjuangan, dan kerinduan manusia.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan manusia penuh perjuangan dan ketidakpastian. Kali Martapura menjadi simbol kehidupan yang terus bergerak, meskipun banyak orang harus bertahan dalam kesulitan.

Gambaran orang-orang letih di tepi jembatan memperlihatkan realitas sosial masyarakat kecil yang hidup keras demi bertahan hidup. Sementara itu, ajakan “tawa-menawar dan bermurah hati” menunjukkan pentingnya solidaritas dan kemanusiaan di tengah kerasnya kehidupan.

Puisi ini juga menyiratkan kerinduan terhadap kehidupan yang lebih nyaman dan tenteram, terlihat dari ungkapan tentang “rumah-rumah tempat bermimpi tak berembun”.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang terasa dalam puisi ini antara lain:
  • Ramai.
  • Melankolis.
  • Hangat.
  • Sosial.
  • Penuh perjuangan.
Keramaian pasar sungai berpadu dengan suasana lelah dan rindu yang dirasakan masyarakat di dalamnya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa kehidupan harus dijalani dengan kerja keras, kebersamaan, dan kemurahan hati.

Puisi ini juga mengingatkan pembaca agar lebih peka terhadap kehidupan masyarakat kecil yang berjuang mencari nafkah setiap hari. Selain itu, manusia perlu menjaga rasa kemanusiaan dan solidaritas meskipun hidup dalam kesulitan.

Imaji

Puisi ini memiliki beberapa jenis imaji, antara lain:
  • Imaji visual: Terlihat pada gambaran air sungai coklat, lanting tua, gedung pasar, dan dukuh yang berkayuh.
  • Imaji gerak: Tampak pada aktivitas air yang mendesir, dukuh yang berkayuh, dan benda-benda yang menggetarkan air.
  • Imaji perasaan: Terasa dalam gambaran keletihan, dahaga, dan kerinduan terhadap rumah serta kehidupan yang nyaman.
  • Imaji pendengaran: Tercermin melalui kata “mendesir-desir” yang menghadirkan bunyi aliran sungai.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Majas personifikasi: “Kali Martapura airnya coklat / Mendesir-desir” memberi kesan sungai hidup seperti manusia.
  • Majas metafora: Sungai menjadi metafora kehidupan dan perjuangan manusia.
  • Majas hiperbola: “Kerongkongannya menggelepar-gelepar dahaga” melebih-lebihkan rasa haus untuk memperkuat penderitaan.
  • Majas simbolik: Kali Martapura melambangkan perjalanan hidup masyarakat yang terus bergerak.
Puisi “Kali Martapura” karya Hijaz Yamani menggambarkan kehidupan masyarakat sungai dengan sangat hidup dan puitis. Sungai tidak hanya menjadi latar tempat, tetapi juga simbol perjuangan hidup, harapan, dan kerinduan manusia. Melalui gambaran pasar sungai dan masyarakat kecil, penyair menyampaikan pesan tentang kerasnya kehidupan sekaligus pentingnya rasa kemanusiaan dan kebersamaan.

Hijaz Yamani
Puisi: Kali Martapura
Karya: Hijaz Yamani

Biodata Hijaz Yamani:
  • Hijaz Yamani lahir pada tanggal 23 Maret 1933 di Banjarmasin.
  • Hijaz Yamani meninggal dunia pada tanggal 17 Desember 2001 (pada umur 68 tahun) dan dimakamkan di Taman Makam Bahagia di Kota Banjarbaru.
© Sepenuhnya. All rights reserved.