Kaluku
sebagai batang, ia teguh
bertahan dari musim yang meracau
sampai kelak tubuhnya rubuh
lalu tumbuh jadi tiang, lantai, dan pintu
jadi meja dan bangku-bangku
sebagai buah, takdirnya adalah jatuh
patuh pada ketetapan yang satu
sesudah luruh gemilang hijau
ke haribaan bumi ia runtuh
tanpa pernah mengeluh dan mengaduh
sebagai daun, tak pernah ia ragu
kelak ia akan menyapu
segala debu dari halaman hatimu
menyapa segala hantu
dari halaman pikiranmu
yang selalu riuh berseru-seru
sebagai bunga, ia tabah menunggu
derau angin berlalu dari segala penjuru
sebab itu takdirnya jadi hiasan melulu
walau ia pun tak tahu
pelaminan siapa yang dituju
ia dipaku waktu
tepat di situ, di seberang jendelaku
menunggu musim-musim berlalu
dipanjati lumur maupun risau kemarau
tak ada yang baru dari semua itu
yang berubah hanyalah hatiku
atau hatimu
yang pelan-pelan meniru sifat batu
ya, aku atau kamu
Barru, 2018
Sumber: Selama Laut Masih Bergelombang (Gramedia Pustaka Utama, 2020)
Analisis Puisi:
Puisi “Kaluku” karya Mariati Atkah merupakan puisi reflektif yang menggunakan pohon kelapa sebagai simbol kehidupan manusia. Melalui penggambaran batang, buah, daun, dan bunga kelapa, penyair menyampaikan nilai tentang keteguhan, pengabdian, ketabahan, dan perubahan hati manusia.
Puisi ini memperlihatkan hubungan erat antara alam dan kehidupan manusia, sekaligus menghadirkan renungan tentang sikap manusia terhadap waktu dan kehidupan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keteguhan hidup dan perubahan hati manusia. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang pengabdian, kesabaran, ketulusan, dan hubungan manusia dengan alam.
Puisi ini bercerita tentang pohon kelapa (“kaluku”) yang digambarkan memiliki banyak peran dalam kehidupan. Sebagai batang, ia tetap teguh menghadapi musim dan setelah tumbang pun masih bermanfaat menjadi tiang, lantai, meja, dan bangku.
Sebagai buah, ia menerima takdir untuk jatuh ke bumi tanpa keluhan. Sebagai daun, ia membersihkan halaman hati dan pikiran manusia. Sebagai bunga, ia tabah menunggu takdirnya meskipun tidak mengetahui tujuan akhirnya.
Pada bagian akhir, penyair membandingkan keteguhan pohon kelapa dengan hati manusia yang justru perlahan berubah “meniru sifat batu”. Dari sini muncul kritik halus terhadap manusia yang semakin keras hati dan kehilangan ketulusan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa alam mengajarkan ketulusan dan pengabdian tanpa pamrih. Pohon kelapa menjadi simbol makhluk yang terus memberi manfaat sepanjang hidupnya tanpa mengeluh.
Sebaliknya, manusia justru sering berubah menjadi keras hati, kehilangan kepekaan, dan jauh dari nilai ketulusan. Frasa “hatiku atau hatimu yang pelan-pelan meniru sifat batu” menyiratkan kritik terhadap perubahan sikap manusia yang semakin dingin secara emosional.
Puisi ini juga menunjukkan bahwa waktu terus berjalan, tetapi nilai sejati kehidupan terletak pada kemampuan untuk tetap memberi manfaat dan menjaga kelembutan hati.
Suasana dalam Puisi
Suasana yang terasa dalam puisi ini antara lain:
- Tenang.
- Reflektif.
- Melankolis.
- Penuh perenungan.
- Lembut tetapi menyentuh.
Pilihan kata yang sederhana namun simbolis menciptakan nuansa renungan yang dalam.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa manusia seharusnya belajar dari alam tentang keteguhan, ketulusan, dan manfaat bagi sesama. Kehidupan akan lebih bermakna jika dijalani dengan kesabaran dan pengabdian tanpa banyak keluhan.
Puisi ini juga mengingatkan agar manusia tidak kehilangan kelembutan hati dan tidak berubah menjadi pribadi yang keras serta tidak peduli terhadap sesama.
Imaji
Puisi ini memiliki beberapa jenis imaji, antara lain:
- Imaji visual: Tampak pada gambaran batang kelapa, buah jatuh, daun, bunga, jendela, dan musim.
- Imaji gerak: Terlihat dalam kata “rubuh”, “jatuh”, “menyapu”, dan “dipanjati”.
- Imaji perasaan: Puisi menghadirkan rasa tabah, tenang, dan reflektif.
- Imaji perabaan: Kesan keras terasa melalui simbol batu dan musim kemarau.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Majas personifikasi: Musim digambarkan dapat “meracau”, sementara daun seolah mampu “menyapa segala hantu”.
- Majas metafora: Pohon kelapa menjadi metafora manusia yang teguh dan berguna sepanjang hidupnya.
- Majas simbolik: Batu menjadi simbol hati manusia yang keras dan kehilangan kepekaan.
- Majas repetisi: Pengulangan frasa “sebagai” memperkuat penjelasan tentang berbagai peran pohon kelapa.
Puisi “Kaluku” karya Mariati Atkah merupakan puisi yang menghadirkan refleksi mendalam tentang kehidupan manusia melalui simbol pohon kelapa. Dengan menggambarkan keteguhan dan manfaat pohon kelapa dalam berbagai bentuk, penyair menyampaikan pesan tentang ketulusan, kesabaran, dan pentingnya menjaga kelembutan hati. Puisi ini mengajak pembaca belajar dari alam agar tetap menjadi pribadi yang bermanfaat dan tidak kehilangan rasa kemanusiaan.
Karya: Mariati Atkah
Biodata Mariati Atkah:
- Mariati Atkah lahir pada tanggal 20 Mei 1987 di Soreang, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.