Kamis Putih
Di perjamuan paling kudus
Kucium kakimu.
Kudengar denting menggelindingi
Dinding telingaku.
Entah ini milik senyummu
Ataukah berasal dari hikayat
Anggur ayahku yang memabukkan.
Naimata, 2012
Sumber: Lelaki Bukan Malaikat (Gramedia Pustaka Utama, 2015)
Analisis Puisi:
Puisi “Kamis Putih” karya Mario F. Lawi merupakan puisi religius yang singkat namun sarat makna simbolis. Dengan bahasa yang sederhana dan intim, penyair menghadirkan suasana sakral yang berkaitan dengan pengorbanan, kerendahan hati, dan cinta spiritual.
Judul “Kamis Putih” merujuk pada Kamis Putih, yaitu hari sebelum Jumat Agung dalam tradisi Kristen yang mengenang Perjamuan Terakhir Yesus bersama para murid-Nya. Rujukan ini memperkuat nuansa religius dalam puisi.
Tema
Tema utama puisi ini adalah spiritualitas dan penghambaan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kasih, pengorbanan, dan kesucian hubungan manusia dengan Tuhan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada dalam “perjamuan paling kudus” dan melakukan tindakan mencium kaki seseorang. Tindakan tersebut menggambarkan penghormatan, cinta, dan kerendahan hati.
Penyair kemudian mendengar denting yang menggelinding di telinganya. Denting itu terasa samar antara berasal dari senyum seseorang atau dari “hikayat anggur ayahku yang memabukkan”.
Puisi ini menggabungkan unsur ritual religius dengan pengalaman emosional dan spiritual yang sangat pribadi.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kesucian dan cinta spiritual lahir melalui kerendahan hati dan penyerahan diri.
Tindakan mencium kaki melambangkan penghormatan dan pengabdian, sementara anggur dapat dimaknai sebagai simbol pengorbanan, perjamuan suci, atau pengalaman spiritual yang mendalam.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa pengalaman religius sering hadir secara lembut dan samar, tetapi meninggalkan getaran emosional yang kuat dalam diri manusia.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa khusyuk, intim, tenang, dan sakral. Nuansa perjamuan kudus memberikan kesan religius dan penuh perenungan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa manusia perlu memiliki kerendahan hati dalam menjalani hubungan spiritual dan hubungan dengan sesama.
Puisi ini juga mengajarkan bahwa cinta dan pengabdian sejati sering diwujudkan melalui tindakan sederhana namun tulus.
Imaji
Puisi ini memiliki beberapa jenis imaji, antara lain:
- Imaji penglihatan, tampak pada suasana perjamuan dan tindakan mencium kaki.
- Imaji pendengaran, terlihat pada “denting menggelindingi dinding telingaku”.
- Imaji perasaan, hadir melalui rasa hormat, haru, dan kekhusyukan spiritual.
- Imaji pengecapan, tersirat melalui simbol anggur yang memabukkan.
Walaupun singkat, puisi ini tetap menghadirkan citraan yang kuat dan mendalam.
Majas
Beberapa majas yang terdapat dalam puisi ini antara lain:
- Simbolisme, pada “perjamuan paling kudus”, “kaki”, dan “anggur” yang melambangkan pengorbanan serta spiritualitas.
- Metafora, pada “anggur ayahku yang memabukkan” yang dapat dimaknai sebagai cinta atau pengalaman religius yang menguasai batin.
- Personifikasi, pada “denting menggelindingi dinding telingaku”.
- Alusi religius, yang merujuk pada perjamuan suci dalam tradisi Kristen.
Puisi “Kamis Putih” karya Mario F. Lawi menghadirkan pengalaman spiritual yang intim dan sakral melalui simbol-simbol religius yang sederhana namun kuat. Puisi ini menunjukkan bahwa kerendahan hati, cinta, dan pengabdian menjadi inti dari pengalaman religius manusia.
Karya: Mario F. Lawi
Biodata Mario F. Lawi:
- Mario F. Lawi lahir pada tanggal 18 Februari 1991 di Kupang, NTT.