Kapela
Kami memungut daging korban yang jatuh
Dan meletakkannya ke dalam pasu.
Darah yang mengucur mengingatkan kami
Pada Habel yang rebah menyongsong bumi.
Di hadapan kami berdiri Tuan Pesta
Yang menyimpan anggur terbaik hingga
Saat terakhir. Bunyi gemerciknya mengingatkan
Kami pada sungai yang menghanyutkan Musa.
Saling memandang satu sama lain,
Kami adalah para perantau mabuk yang gemetar
Menemukan betapa canggung dan tak mahir
Tangan kami mencelupkan daging ke dalam piala.
Naimata, 2013
Sumber: Lelaki Bukan Malaikat (Gramedia Pustaka Utama, 2015)
Analisis Puisi:
Puisi “Kapela” karya Mario F. Lawi merupakan puisi religius yang kaya akan simbol dan rujukan kisah kitab suci. Melalui suasana ritual dan perjamuan, penyair menghadirkan refleksi tentang pengorbanan, dosa, iman, dan perjalanan spiritual manusia.
Bahasa puisi ini padat, sakral, dan penuh nuansa kontemplatif. Simbol darah, anggur, daging korban, dan tokoh-tokoh seperti Habel dan Musa memperkuat suasana spiritual yang mendalam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah spiritualitas dan pengorbanan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema perjalanan iman, penebusan, dan pergulatan manusia dalam mendekati Tuhan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa perjalanan spiritual manusia selalu disertai rasa bersalah, keraguan, dan pencarian makna. Penggunaan simbol korban, darah, dan anggur menunjukkan hubungan manusia dengan pengorbanan dan penebusan dosa.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa pengalaman religius bukan sekadar ritual, melainkan proses memahami penderitaan, kasih, dan pengampunan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa khidmat, sakral, reflektif, dan sedikit muram. Nuansa ritual keagamaan berpadu dengan rasa gentar dan kerendahan hati.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa manusia perlu menjalani kehidupan spiritual dengan kerendahan hati dan kesadaran akan keterbatasannya.
Puisi ini juga mengajarkan bahwa pengorbanan dan kasih menjadi bagian penting dalam perjalanan iman manusia.
Imaji
Puisi ini memiliki beberapa jenis imaji, antara lain:
- Imaji penglihatan, tampak pada darah yang mengucur, daging korban, pasu, dan piala anggur.
- Imaji gerak, terlihat pada tindakan memungut daging dan mencelupkannya ke dalam piala.
- Imaji perasaan, hadir melalui rasa gemetar, canggung, dan mabuk spiritual.
- Imaji pendengaran, tampak pada “bunyi gemercik” anggur yang mengalir.
- Imaji religius, terlihat pada gambaran ritual, korban, dan kisah tokoh kitab suci.
Imaji-imaji tersebut membuat puisi terasa hidup sekaligus sakral.
Majas
Beberapa majas yang terdapat dalam puisi ini antara lain:
- Simbolisme, pada darah, anggur, piala, dan daging korban yang melambangkan pengorbanan serta penebusan.
- Alusi, melalui penyebutan Habel dan Musa yang merujuk pada kisah religius dalam kitab suci.
- Metafora, pada “para perantau mabuk” yang melambangkan manusia yang tersesat namun tetap mencari jalan spiritual.
- Personifikasi, pada darah dan gemercik anggur yang seolah membawa ingatan dan kesadaran.
- Paradoks, pada keadaan mabuk tetapi justru menemukan kesadaran spiritual yang mendalam.
Puisi “Kapela” karya Mario F. Lawi menghadirkan refleksi religius tentang pengorbanan, iman, dan perjalanan manusia menuju pemahaman spiritual. Dengan simbol-simbol kitab suci dan suasana ritual yang khidmat, puisi ini menunjukkan bahwa manusia selalu berada dalam proses belajar memahami kasih dan pengampunan Tuhan.
Karya: Mario F. Lawi
Biodata Mario F. Lawi:
- Mario F. Lawi lahir pada tanggal 18 Februari 1991 di Kupang, NTT.