Puisi: Kata Ibu, Sekolah Menyenangkan (Karya Abinaya Ghina Jamela)

Puisi “Kata Ibu, Sekolah Menyenangkan” karya Abinaya Ghina Jamela menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil, termasuk bermain dan berteman di sekolah ..

Kata Ibu, Sekolah Menyenangkan

Aku sudah bilang, aku tidak ingin sekolah.
Tapi kata Ibu, sekolah menyenangkan.

Aku akan bertemu banyak teman, banyak permainan seru.
Di sana, ada bapak dan ibu guru. Mereka hebat berpetualang,
aku pasti suka. Tapi aku tidak sepakat dengannya.

Ibu berkata lagi, ada perpustakaan sekolah.
Saat aku bosan, aku boleh baca semua koleksi
di sana dan memiliki kartu seperti punya ibu.

Itu bukan mauku.
Aku ingin di rumah,
tetap bersama ibu,
menemaninya mengerjakan apa saja.
Aku katakan padanya, aku tidak mau sekolah,
tidak mau mengabaikan buku-bukuku,
tidak mau membiarkan alat lukisku,
tidak mau mainan-mainanku kesepian.
Tapi ibu bilang, aku harus sekolah.

Ibu dulu punya banyak teman sekolah,
memainkan permainan-permainan baru,
mendengar gurunya yang suka bercerita
memberi teka-teki yang tak diduga.

Sebaiknya aku sekolah, kata ibu.
Di sekolah, meski teman-teman lain
menjahili Ibu, ia tidak diam. Ia balik
membalas. Berkelahi di sekolah, itu
biasa, kata Ibu. mendapat sangsi juga biasa.

Semua itu menyenangkan.
Aku akan mempertimbangkannya, bu.

2018

Sumber: Harian Media Indonesia (10 Juni 2018)

Analisis Puisi:

Puisi “Kata Ibu, Sekolah Menyenangkan” karya Abinaya Ghina Jamela merupakan puisi yang menggambarkan perasaan seorang anak yang belum siap pergi ke sekolah. Dengan bahasa sederhana dan polos khas anak-anak, puisi ini menghadirkan percakapan antara anak dan ibunya tentang sekolah, teman, permainan, dan rasa nyaman berada di rumah.

Puisi ini terasa hangat dan dekat dengan pengalaman banyak anak. Melalui sudut pandang anak kecil, penyair menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya tentang belajar, tetapi juga tentang proses beradaptasi dengan dunia baru di luar rumah.

Tema

Tema utama puisi ini adalah dunia anak dan pengalaman memasuki sekolah. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kasih sayang ibu, proses tumbuh dewasa, dan perasaan takut menghadapi lingkungan baru.

Puisi ini bercerita tentang seorang anak yang tidak ingin pergi ke sekolah karena merasa lebih nyaman berada di rumah bersama ibunya.

Sang ibu kemudian mencoba meyakinkan anaknya bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan. Di sekolah, anak akan memiliki teman baru, permainan seru, perpustakaan, dan guru yang suka bercerita.

Awalnya anak tetap menolak karena tidak ingin meninggalkan buku, alat lukis, dan mainannya di rumah. Namun, setelah mendengar cerita ibunya tentang pengalaman sekolah yang penuh petualangan dan kenakalan masa kecil, anak mulai mempertimbangkan untuk pergi ke sekolah.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa anak-anak membutuhkan waktu dan dukungan emosional untuk berani memasuki lingkungan baru.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa sekolah bukan sekadar tempat belajar pelajaran, tetapi juga tempat anak bertumbuh, bermain, bersosialisasi, dan mengalami berbagai pengalaman hidup.

Selain itu, hubungan hangat antara ibu dan anak dalam puisi menunjukkan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi proses perkembangan anak.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa hangat, lucu, dan polos. Pembaca dapat merasakan kepolosan anak yang lebih memilih bermain di rumah daripada pergi ke sekolah.

Pada beberapa bagian, suasana terasa menyenangkan dan akrab, terutama ketika ibu menceritakan pengalaman sekolahnya sendiri.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa sekolah merupakan tempat yang penting dan menyenangkan bagi anak-anak untuk belajar dan berkembang.

Puisi ini juga mengajarkan bahwa orang tua perlu mendampingi anak dengan sabar ketika menghadapi ketakutan atau penolakan terhadap hal baru.

Selain itu, puisi ini menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil, termasuk bermain dan berteman di sekolah, adalah bagian penting dalam proses tumbuh dewasa.

Imaji dalam Puisi

Puisi ini memiliki beberapa imaji yang mudah dipahami anak-anak, antara lain:

Imaji visual, misalnya:

“ada perpustakaan sekolah”
“alat lukisku”
“mainan-mainanku kesepian”

Pembaca dapat membayangkan suasana rumah, sekolah, buku, dan mainan anak-anak.

Imaji gerak, misalnya:

“memainkan permainan-permainan baru”

Larik tersebut menghadirkan suasana aktif dan menyenangkan khas dunia anak.

Imaji perasaan, tampak pada:

“Aku ingin di rumah, tetap bersama ibu”

Pembaca dapat merasakan rasa nyaman dan ketergantungan anak kepada ibunya.

Majas dalam Puisi

Beberapa majas yang terdapat dalam puisi ini antara lain:

Majas personifikasi, pada larik:

“mainan-mainanku kesepian”

Mainan digambarkan seolah dapat merasa sedih atau kesepian.

Majas repetisi, pada pengulangan:

“tidak mau”

Pengulangan digunakan untuk menegaskan penolakan dan perasaan anak.

Majas hiperbola ringan, pada bagian:

“Mereka hebat berpetualang”

Guru digambarkan secara berlebihan agar terlihat menarik di mata anak.

Puisi “Kata Ibu, Sekolah Menyenangkan” karya Abinaya Ghina Jamela merupakan puisi yang sederhana, hangat, dan dekat dengan kehidupan anak-anak. Melalui percakapan antara ibu dan anak, puisi ini menggambarkan rasa takut, keengganan, sekaligus rasa penasaran seorang anak terhadap dunia sekolah. Dengan bahasa yang ringan dan penuh kepolosan, puisi ini menyampaikan bahwa sekolah dapat menjadi tempat yang menyenangkan untuk belajar, bermain, dan bertumbuh.

Abinaya Ghina Jamela
Puisi: Kata Ibu, Sekolah Menyenangkan
Karya: Abinaya Ghina Jamela

Biodata Abinaya Ghina Jamela:
  • Abinaya Ghina Jamela (biasa disapa Naya) lahir pada tanggal 11 Oktober 2009 di Padang, Sumatera Barat, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.