Puisi: Kawan Berbagi Keabadian (Karya Aslan Abidin)

Puisi “Kawan Berbagi Keabadian” karya Aslan Abidin mengingatkan bahwa manusia harus mempersiapkan diri menghadapi kematian dan kehidupan setelah mati.
Kawan Berbagi Keabadian

aku dan sajakku adalah kawan
berbagi keabadian. aku membayangkan
diriku membacanya kelak di taman
firdaus: tempat semua mimpi terlahir.

aku dan sajakku adalah kawan
berbagi keabadian. ia membayangkan
dirinya terukir indah di batu nisan
makamku: tempat segala mimpi berakhir.

lalu di ufuk mataku yang makin sunyi,
senja pun jatuh dan mengelupas jadi
gelap. hingga lahat dan akhirat, ahli
warisku yang pasti, membagi
mayat dan nyawaku.

sesekali, kau mungkin akan
ziarah pada nisan dan sajakku. dan
membayangkan mungkar menyiksaku
di neraka: mengerat kemaluanku.

aku dan sajakku adalah kawan
berbagi keabadian.

Makassar, 2003

Sumber: Bahaya Laten Malam Penganten (Ininnawa, 2008)
Catatan:
"kawan berbagi keabadian," kalimat akasha dalam film queen of the damned.

Analisis Puisi:

Puisi “Kawan Berbagi Keabadian” karya Aslan Abidin merupakan puisi yang membahas hubungan antara penyair dan karya puisinya. Melalui bahasa yang reflektif dan simbolis, penyair menggambarkan sajak sebagai sahabat yang akan tetap hidup bahkan setelah kematian datang. Puisi ini memadukan tema sastra, kematian, akhirat, dan keabadian dalam satu renungan yang mendalam.

Puisi ini juga menunjukkan bagaimana karya sastra dapat menjadi jejak abadi seorang manusia setelah dirinya tiada.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keabadian karya sastra, kematian, dan hubungan antara manusia dengan karyanya. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema spiritualitas dan renungan tentang kehidupan setelah mati.

Puisi ini bercerita tentang hubungan erat antara penyair dan sajaknya. Penyair menganggap puisinya sebagai “kawan” yang akan tetap hidup dan dikenang meskipun dirinya telah meninggal dunia.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa karya sastra dapat menjadi bentuk keabadian manusia. Walaupun tubuh manusia akan mati, karya dan pemikirannya dapat tetap hidup dalam ingatan orang lain.

Puisi ini juga menyiratkan kecemasan spiritual seorang manusia terhadap kehidupan setelah mati. Penyair tampak sadar bahwa manusia tidak hanya akan dikenang lewat karya, tetapi juga akan mempertanggungjawabkan hidupnya di akhirat.

Selain itu, hubungan “aku dan sajakku” menggambarkan bahwa karya sastra bukan sekadar tulisan, melainkan bagian dari jiwa penciptanya.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang terasa dalam puisi ini antara lain:
  • Kontemplatif.
  • Melankolis.
  • Sunyi.
  • Religius.
  • Suram dan penuh perenungan.
Nuansa kematian dan akhirat membuat puisi terasa mendalam sekaligus menyentuh sisi emosional pembaca.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang ingin disampaikan penyair adalah bahwa manusia hendaknya menyadari bahwa hidup tidak berlangsung selamanya, tetapi karya dan perbuatannya dapat terus dikenang.

Puisi ini juga mengingatkan bahwa manusia harus mempersiapkan diri menghadapi kematian dan kehidupan setelah mati. Selain meninggalkan warisan karya, manusia juga harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya.

Imaji

Puisi ini kaya akan penggunaan imaji, di antaranya:
  • Imaji Visual: Contohnya “dirinya terukir indah di batu nisan makamku”. Pembaca seolah melihat tulisan sajak yang terukir di batu nisan.
  • Imaji Perasaan: Contohnya “di ufuk mataku yang makin sunyi”. Menghadirkan rasa sepi dan kesedihan mendalam.
  • Imaji Gerak: Contohnya “senja pun jatuh dan mengelupas jadi gelap”. Memberikan gambaran perubahan dari terang menuju kegelapan.
  • Imaji Taktil / Sensasi: Contohnya “mungkar menyiksaku / di neraka: mengerat kemaluanku”. Menghadirkan sensasi rasa sakit yang kuat dan mengerikan.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi: “aku dan sajakku adalah kawan”. Sajak digambarkan seperti manusia yang dapat berteman dan berbagi.
  • Metafora: “berbagi keabadian”. Menjadi simbol bahwa karya sastra dapat membuat seseorang tetap hidup dalam kenangan.
  • Repetisi: Pengulangan kalimat “aku dan sajakku adalah kawan / berbagi keabadian”. Digunakan untuk menegaskan hubungan erat antara penyair dan puisinya.
  • Hiperbola: “mungkar menyiksaku di neraka: mengerat kemaluanku”. Menggambarkan siksaan secara sangat ekstrem untuk memperkuat efek emosional dan religius.
Puisi “Kawan Berbagi Keabadian” karya Aslan Abidin merupakan puisi reflektif yang membahas hubungan antara manusia, karya sastra, dan kematian. Penyair menghadirkan pemikiran bahwa karya dapat menjadi jalan menuju keabadian, meskipun manusia tetap harus menghadapi akhir hidup dan pertanggungjawaban spiritual.

Dengan bahasa yang simbolis dan penuh renungan, puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa sastra bukan hanya rangkaian kata, melainkan jejak kehidupan yang akan terus hidup setelah penciptanya tiada.

Yudhistira A.N.M. Massardi dan Aslan Abidin
Puisi: Kawan Berbagi Keabadian
Karya: Aslan Abidin

Biodata Aslan Abidin:
  • Aslan Abidin lahir pada tanggal 31 Mei 1972 di Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.